Kemarin minggu baru abis nonton film Alexander dari Oliver Stone. Kok telat banget sih? ya karena kebetulan suami udah nonton duluan pas aku di Indonesia bulan desember lalu, jadi kebetulan karena dia pergi ke luar kota minggu yang lalu, aku manfaatkan untuk nonton film ini.

Karena salah satu dari buku-buku yang mengisahkan Alexander sudah aku baca (dari Manfredi, 3 buku: “El hijo del sueño”, “Las Arenas de Amón” dan “El Confin del mundo”), jadi penasaran ingin melihat salah satu dari interpretasi di layar lebar.

Durasinya hampir 3 jam (175 menit), memang aku sudah dinasihati oleh teman-teman yang sudah nonton, film ini agak menyebalkan karena panjang.

Ya habis gimana, aku pengagum Alejandro Magno, masa sih melewatkan film ini?

Satu hal yang aku tak suka di film ini, dia tampilkan sebagai homoseksual (praktisnya bisexual, karena beristri juga, 2). Pasangan homonya yaitu temannya sejak kecil, Hefestion (dibintangi oleh Jared Leto). Juga dayang-dayangnya yang seharusnya adalah seorang gadis bar-bar yang dia telah selamatkan semasa kecil, di film itu ditampilkan sebagai seorang laki-laki muda yang mempunyai pandangan sangat atraktif (sudah jelas-jelas ingin menggiring penonton untuk berpikir bahwa Alexander juga berhubungan dengan dayang-dayang pria ini).

Mungkin 3 jam sendiri tidak cukup untuk mengkisahkan kehidupan seorang penguasa dan petualang ini. Kenapa ya? tidak dibikin 2 episode saja? jadi yang nonton ga terlalu capek. Mungkin untuk menghemat? mungkin lebih menarik dibuat 1 film saja yang panjang. Entahlah…

Kisah Alexander (dari buku, film ini bagiku belum cukup) menurutku amat kaya, penuh dengan petualangan, keberanian, keteguhan, nilai-nilai hidup yang tak dimiliki oleh setiap pemimpin. Tentu saja bagi pihak yang lain, Alexander hanyalah seorang raja yang kejam dan terlalu berambisi.
(Dibandingkan dengan Jengis Khan, ternyata pemimpin yang satu ini wilayah kekuasaannya jauh lebih besar daripada wilayah kekuasaan Alejandro! dan 1 dari tiap 10 orang di Mongol (kalau tidak salah yang aku dengar dari dokumen di tv) adalah keturunan bapak Khan ini, jadi bisa dibayangkan betapa seringnya bapak ini “bekerja”

Di film ini Angelina Jolie tampil fenomenal, jelita seperti biasanya. Hanya saja, agak aneh melihat dia sebagai seorang ibu dan ratu. Untuk Collin Farrel, dengan rambut pirang juga aneh jadinya.

(ho ho…aku sih pengennya berjalan ke masa lampau dan melihat dengan mata kepala sendiri, kayak apa sih Alejandro Magno??? I wish he was not gay!!! I think this is not true!)

Resumen, film yang dibuat secara kolosal ini dibintangi oleh: Colin Farrel, Angelina Jolie, Antony Hopkins (yang berperan menjadi Tolomeo (Ptolemy) yang sudah berusia lanjut), Val Kimler (sebagai Filipo, ayah dari Alejandro).

Alejandro bagiku merupakan simbol persatuan dari dunia barat dan timur, walaupun bawahannya menentang persatuan ini, dia tetap kukuh dengan tujuannya membangun dunia yang beradab.

Mungkin tidak mudah untuk menggambarkan seluruh kehidupannya dalam sebuah film. Karena kebesarannya dan sejarah luar biasa yang telah dia cetak.

Paling tidak Oliver Stone telah mencoba menampilkan rangkuman dari kisahnya secara terbaik. Walaupun ada banyak orang yang tak setuju bagaimana ia menampilkan tendensi homoseksual Alejandro. Seperti halnya pada film Troya, ada banyak kontroversi sejarah dan detail-detail tertentu yang di”make up” oleh Hollywood.