Tema ini berasal dari bahasan blog tetangga sebelah yang benar-benar kesal dengan kebiasaan jelek dan tidak berfungsinya berbagai hal di negara kita, terutama transportasi dan lalu lintas.

Masalahnya dia merasa dirugikan karena telah kehilangan waktu banyak dalam kegiatannya yang berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lain. Lalu mengenai teman-temannya yang sering datang telat (jam karet, terus terang istilah jelek yang terkenal ini sudah sampai ke negri jerman, di mana teman satu kelas saya - seorang jerman, Klaus, tanpa tedeng aling-aling berbicara di depan murid-murid lainnya bahwa orang Indonesia terkenal dengan jam karetnya, aku ketika itu cuma bisa mencari-cari tempat kosong untuk bersembunyi, malu…..). Saya teruskan lagi, lalu teman-temannya yang datang telat cuma mungkin bilang “maklum, tau sendiri deh lalu lintas di Jakarta”….

Saya sendiri ketika pulang kampung, sebelum tiba di bandara, sudah bersiap diri dan merubah “chip” saya, atau mentalitas saya yang hidup di luar dengan mentalitas Indonesia.

Seperti bunglon, saya akan berusaha merubah diri saya mulai dari pakaian yang saya pakai sampai mentalitas seperti: “pasrah dan bersabar” yang dimiliki warga Jakarta dan sekitarnya.

Ada satu perjalanan yang tak pernah saya lupakan, yang bagi saya merupakan “record”.

Suatu hari saya keluar dari rumah kira-kira jam sepuluh pagi untuk berangkat menuju daerah Kali Deres dalam rangka membuat SIM.

Rumah orang tua saya di Ciputat, saya mengambil satu metro mini dari terminal Lebak Bulus menuju Kali Deres. Ternyata metro mini ini tidak langsung menuju tujuan, tapi mengitari kampung, di antaranya Kebun Jeruk.

Walhasil, saya menghabiskan 2 jam dalam perjalanan pergi saja, belum lagi harus ambil angkot lainnya untuk sampai ke tujuan akhir. Sampai di tujuan, langsung nyari WC karena kebelet pipis. Bayangin aja, lebih dari 2 jam!!! (terus terang saya punya anekdot lainnya tentang tema ini).

Di tempat pembuatan SIM, saya menghabiskan waktu dari jam 12 siang sampai jam 6 sore (5 jam). Sebetulnya saya sore itu janjian dengan teman-teman SMA di PIM (Pondok Indah- kebayoran Baru), kira-kira jam 18.30 sore.

Tentu saja saya tak bisa mencapai PIM dalam waktu setengah jam saja dari daerah jin buang anak (Kali Deres, atau apa namanya daerah bangsat itu, maaf).

Keluar dari tempat pembuatan SIM saya mengambil bis yang menuju Blok M, ternyata bis ini jalannya seperti keong. Bisa apa saya? memang sudah begitu di Indonesia. Saya cuma bisa mengelus dada dan berzikir. Belum lagi di daerah Citra Land, Slipi, macet berat! sampai daerah jembatan Semanggi.

Saya telpon salah seorang teman dengan telpon genggam yang dipinjamkan adik saya dan memberi tahu mereka bahwa saya akan datang telat di PIM, kira-kira jam 8 sore karena saya masih berada di daerah Slipi. Lalu saya telpon kakak saya juga, memberi tahukan untuk “stand by” di rumah dengan motornya.

Masalahnya, saya waktu itu kotor dan berkeringat, malu mau reunian dengan penampilan bener-bener kayak yang datang dari Kampung Cileduk. Maka itu saya memutuskan untuk pulang dulu ke rumah dan mandi.

Setelah satu jam lewat, mungkin lebih, sampailah saya di terminal Blok M dan segera mencari taxi, ternyata tidak mudah. Harus menyebrang dulu ke Blok M plaza. Saya bilang, “Ke Lebak Bulus Pak”, karena biasanya taxi tidak mau pergi sampai Ciputat karena macet.

Keluar dari wilayah Blok M pun setengah mati susahnya, macet sampai daerah Radio Dalam. Chip Indonesia dalam otak saya mulai “nyala”, untuk menenangkan batin, saya hanya bisa berzikir. Saya tetap kelihatan tenang dan tidak ngamuk-ngamuk di dalam taxi, kasihan si supir, bisa-bisa saya diturunkan di tengah jalan.

Entah jam berapa, kamipun sampai di terminal Lebak Bulus. Saya bayar dan turun dari taxi. Lalu saya lihat beberapa tukang ojek mangkal. Langsung saya “charter”, “Bang, bisa antar saya ke jalan Legoso?”
“Bisa neng, hayo”
“Berapa?”
“Ya biasa 25 ribu”
“OK”

Kamipun ngebut ala Valentino Rossi melintasi jalan ciputat raya yang kebetulan kala itu tidak macet. Inilah namanya “estafet” angkutan. Naik motor benar-benar menolong para pengendara untuk melawan lalu lintas yang padat.

Si tukang ojek, mengaku berasal dari Wonogiri , tampak ramah, kamipun akhirnya ngobrol sedikit:
“Kuliah atau kerja dek?”
Saya sedikit berbohong dan bilang, “Kerja bang” (maksudku aku memang kerja, tapi ga di Jakarta).
“OH…tampangnya kok seperti yang masih kuliah ya?” (mungkin karena saya bawa ransel dan berbaju kaos dan bercelana pendek selutut)
“Ngga bang, saya kerja”
“Di mana dek kerjanya?”
Saya jawab saja, “Di daerah blok M”
“Saya biasa nganter orang sampai Pamulang dek, ya Alhamdullilah saya bisa cari uang di Jakarta”.
“Nanti kalo adik perlu ojek, yah sudah tau ya? saya biasa mangkal di terminal”
“Oya bang…”

Setelah ngobrol ngalor ngidul sepanjang jalan ciputat, sampailah saya di rumah. Mandi dan keramas kilat, saya di antar kakak saya ke PIM dengan motornya. Sampai PIM kira-kira jam 8 kurang lima menit. Teman-teman sudah menunggu, akupun memesan soto karena semenjak siang belum makan. Mereka terheran-heran melihat saya.

Namun pengalaman melintasi Jakarta Barat (hampir coret) sampai ke Ciputat (jakarta selatan coret) betul betul pengalaman yang menegangkan bagi saya. Di kendaraan umum saya hanya berdoa dan berzikir, pertama untuk melatih kesabaran saya, memasrahkan diri kepada kondisi ibu kota, ke dua, demi keselamatan kita, entah dari kecelakaan maupun copet-copet profesional- orang-orang jahat yang banyak bergelayangan di metropolitan ini.

Memang betul, kadang-kadang naik pesawat Yogya - Yakarta, lebih cepat daripada dari Bandara ke rumah sendiri. Unik bukan?

Nah saya punya satu anekdot tentang “kebelet” pipis tadi.
Ceritanya begini, saya janji sama ibu saya untuk mengunjungi Uwa (bibi dalam bahasa sunda) di daerah Grogol.

“Yah kasih tau aja apa nomer bisnya”, sahutku sok tahu.

Aku lupa nomernya berapa sebut saja Patas 1 yang tujuan akhirnya di terminal Grogol (deket kampus Trisakti). Ibuku bilang bis itu cukup jarang, mungkin hanya ada beberapa armada saja, maka waktu menunggunya cukup lama.

Sesampai di pasar jumat (di depan sekolah polisi), sudah setengah jam aku menunggu bis itu tidak lewat-lewat juga, mangkaning panas….

Akhirnya akupun melihat satu bis yang mirip-mirip trayeknya dengan bis yang aku kehendaki. Nekat, langsung aku menaiki bis itu.

Sesampai di depan PIM, macet!!! (ngga usah heranlah, intinya: macet). Belum lagi turun hujan deras. Mana AC di bis dipasang sangat tinggi, tidak bisa dimatikan.
Percaya tidak percaya sampai di daerah Slipi (keluar dari arteri kebayoran lama), sudah lewat dari sejam dan masih hujan deras pula!

Lagi-lagi aku keburu kebelet karena sanking lamanya di bis (sumpah, di sini ga pernah gua kebelet pipis di kendaraan, karena ga pernah trayeknya lebih dari 30 menit).

Seharusnya ketika keluar dari Arteri Kebayoran dan masuk ke daerah slipi, aku turun dari bis itu. Namun karena hujan lebat, kebelet pipis dan kondisi sekitar hanya ada kios kios yang menjual mebel bekas, aku pun berubah pikiran. Pikirku, “Nanti sajalah turun di Citra Land yang kondisinya lebih baik”.

Tak taunya bis itu mengambil jalan tol yang langsung menuju airport Cengkareng!!! aku bablas sampai di airport!

Ketika daerah rumah uwa-ku sudah lewat, aku bilang kepada supir bisnya “Pak, kalo mau turun di Slipi?” tentu saja si bapak itu hanya menterwakan diriku, begitu juga penumpang lainnya. Aku balik menuju tempat dudukku sambil tertawa-tawa dan tersenyum-senyum sendiri….geli berpikir “kasihan…orang udik nyasar di Jakarta!!!”.

Nah disinilah daripada marah-marah ga karuan, aku mengganti chip di kepalaku dengan chip “mentertawakan kebodohan diri sendiri”….

Sesampai di airport, numpang WCnya aja, lalu balik ambil bis damri ke lebak bulus, sudah bisa ditebak, aku tak jadi ke rumah uwaku. Mana lama lagi nunggu bisnya.
Ternyata memang, semua bis sudah lewat jalan tol, dan hampir tidak mungkin kamu bisa turun di daerah empang dan pasar grogol. Habisnya jalan tol itu sudah hampir di sekitar gedung MPR. Walhasil, yang tadinya niat balik ke grogol, akhirnya aku sudah keburu frustasi….

Sampai di blok M aku telpon ibuku dan bilang “Mah, aku bablas sampai di airport. Bilangin sama Uwa, aku ga jadi ke rumahnya…bilangin aja maklum orang udik, nyasar…”

Cerita saya yang lain yang berhubungan dengan “perjalanan a la indonesia” ada di bagian travel/places, dengan judul, “Jakarta-Sukabumi and the gang”