Duh…masang judul kok jrudul gitu sih…

Iya, ternyata mencoba menjadi “perempuan” yang sifat naturalnya bersolek itu - walaupun tidak semua perempuan suka bersolek, membuat dirinya kehilangan waktu.

Contohnya, setelah mengoleskan krim/”lotion” di tangan dan kaki supaya kulit ngga kering, coba deh melepas anting yang anda pakai dan memasang anting yang baru, atau mencoba memasang kalung yang pemasangannya harus memilir-milir roda kalung itu. Sumpah….susahnya setengah mati, tangan licin gara-gara pake krim, jadi ga bisa membuka, melepas, memasang, etc.

Yang seharusnya cuma lima menit, akhirnya setelah berusaha untuk tidak meminta bantuan suami (gengsi), akhirnya nyerah juga.

Saya termasuk bukan perempuan yang hobi bersolek, cuma sekali-kali kalau lagi mood. Tapi gara-gara kejadian bersolek tadi pagi, saya jadi lupa bawa makanan dan buku ke kantor, karena buru-buru keluar dari rumah…

Ada banyak perempuan yang lebih parah dari saya, sebelum keluar rumah, acara bersolek bisa memakan waktu 1 jam-an (artinya bisa lebih dari 1 jam).

Saya sendiri sebagai perempuan, kadang tidak mengerti sifat perempuan yang satu ini, mungkin sifat inilah salah satunya yang membuat perbedaan dengan laki-laki (hm..walaupun kini banyak metro seksual…). Sifat purba di mana betina bersolek untuk mendapat perhatian dari lawan jenis, dan dari situlah muncul keturunan.

Seperti yang pernah saya baca di Newscientist, bahwa aksi mencium itu muncul dari sifat alam - binatang, misalnya, untuk mengenal sesuatu dia menggunakan penciumannya, begitu pula halnya dengan aksi mencium pada manusia, naluri untuk mengenal lawan jenisnya dengan mencium (well…maaf, lawan jenis atau sesama jenisnya…).

Ok, balik ke tema semula.

Kemarin saya baca juga, bahwa wanita yang mencukur bulu ketiaknya mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mengidap kanker. Hal ini disebabkan karena pori-pori di ketiak membesar, luka-luka cukuran, membuat agen-agen/bakteri, partikel-partikel, baik dari desodoran maupun dari bedak, masuk ke dalam tubuh dan menumpuk di kelenjar payudara dan sekitarnya.

Jadi…berhati-hatilah.

Perempuan sanggup melakukan apapun demi keindahan penampilannya. Kapan kita belajar untuk menikmati hal-hal lain dan berhenti sesaat memikirkan penampilan diri kita?