Dari cerita “Senin yang membara“, kamu tau kalau aku akhir pekan yang lalu berlaga di medan obralan bazar kedutaan besar Indonesia. Tadinya cerita ini mau tak tulis dalam bahasa sini, namun riskan, takut orang yang mau aku ceritain ini turut membaca secara tidak sengaja (bisa jadi ketika mencari situs kedutaan untuk melihat siapa saja pemenang “rifa” kemarin itu).

Sengaja seprei-seprei batik kita jual dengan judul yang berbeda. Gini deh singkatnya, kalau di Indonesia itu kebanyakan tempat tidur seprei cuma dipakai 1 lapis, tidak ada lapisan kedua yang melapisi selimut. Jadi produk seprei batik itu kita jual dengan judul “cubre cama”, alias penutup tempat tidur.
Ini karena kesalahan supplier si goblok itu yang kalau beli barang ngga mikir dan open minded (sorry ya bahasanya aku campur aduk, maklum lagi kesel). Jadi bagi kita si penjual susah menjualnya dan aku pikir, kualitasnya kurang bermutu.

Memang ada satu hal yang patut diketahui. Warna warni di seprai atau kain2 di Indonesia, cocok di Indonesia. Namun kalau di sini, aku pernah coba, memasang seprai warna warni nge-jreng di musim dingin, ngga cocok, jelek dan norak! kecuali kalau musim panas, cocok.

Nah dalam kesempatan ini, kita memang pengen banget menjual habis seprei2 itu karena sudah ada kali 3 tahunan di gudang.

Ada banyak sesama penjual atau teman yang tak setuju kenapa seprei itu kita jual begitu murahnya. Lalu aku tantang, “Coba, lo ambil aja satu, lo jual deh 10 euro, coba aja, laku ngga”.

Akhirnya dia tutup mulut, karena barang-barangnya sendiri yang tak mau miring sedikitpun tak laku dijual, masuk gudang lagi untuk ke dua kalinya. Ketika dia mencoba menurunkan harga di akhir sesi, para pengunjung pun tak tertarik untuk membeli.

Obral seprei batik yang aku taruh di dus-dus di samping tenda, laku pada lima menit pertama. Mereka boleh membuka-buka seprei, melihat besarnya, warnanya, tanya ini itu dan sebagainya. Ada seorang ibu yang membeli barang 20 seprei, mungkin untuk hadiah. Sesi pertama, seprei habis.

Sejam kemudian ternyata aku temukan 2 dus lagi seprei jahanam itu, tak ambil lagi dan taruh di samping tenda, sorenya laku lagi setelah jam makan siang. Memang harganya murah sekali, hingga orang tidak merasa tertipu kalau sampai rumah dia tidak cocok dengan seprai itu.

Pukul 20.00 sore, ketika kepalaku sudah dut-dut-an, aku memutuskan untuk merapihkan barang daganganku. Sisa-sisa seprei yang tak lengkap aku masukkan ke dalam sebuah koper dan juga kain-kain lainnya.

Namun tiba-tiba datang segerombolan wanita yang masih menanyakan jikalau masih tersisa seprei batik itu. Mereka memaksaku untuk membuka kembali koper hitam yang besar itu.

Maka aku pun mengobrak-abrik lagi kain-kain yang telah kulipat rapih dan memperlihatkan kepada mereka satu persatu. Mereka pun pergi dengan kecewa karena tak menemukan seprei di koper itu (yang ada beberapa pasang sarung bantal dan guling saja). Memang ada satu seprei namun ternyata seprei itu pernah aku gunting untuk keperluan pribadi (untuk buat sarung bantal buat anjingku), jadi langsung aku singkirkan.

Pukul 20.30 datang lagi seorang wanita yang setengah jam yang lalu menghampiriku. Dia ingin membeli seprei yang sudah tergunting itu dan dia malah akan membayarnya. Aku langsung bilang saja “Señora (bu), ya sudah ambil saja gratis, wong sudah rusak kok masak aku jual!”.
Dia pun menerima seprei itu, berterima kasih dan pergi menjauh.

Sambil menghempaskan diri di kursi aku pun geleng-geleng kepala melihat kelakuan pembeli. Ternyata pada saat kami berkemas-kemas, masih saja ada pengunjung yang membeli di tenda kami, Alhamdullilah, tapi ya ada perasaan kesal. Mbok ya seharian tadi ada di sini tidak membeli, giliran kita rapih2 akhirnya kami harus bongkar-bongkar barang lagi. Bahkan suami harus pergi ke mobil untuk mengambil barang yang diinginkan pembeli.

Sabar, sabar…..

Pagi ini aku berpikir tentang ibu-ibu yang mengambil kain tergunting itu, aku pikir dia itu hanya “iri” pada teman-temannya yang telah membeli set-set seprei dengan harga murah. Lalu dia ngga rela, makanya sampai nekat ingin membayar seprei rusak, dengan alasan dia suka gambarnya!!!!

Bohong…..dia itu cuma iri! itulah sifat manusia!

Lalu kepada orang-orang yang protes tentang harga yang kita banting itu, begini saja deh. Sabtu kemaren ada seorang wanita yang sudah datang sebanyak TIGA kali ke tenda kami untuk melihat sepasang anting. Padahal anting perak yang berbatu indah itu cuma kita jual 15 euro (yang harga toko mungkin 30 euro-an). Sampai pada akhirnya orang itu tidak membeli.

Minggunya lagi-lagi dia kembali ke tenda kami membawa ibu dan kakaknya menunjukkan anting yang dia suka. Akhirnya suami kesel dan bilang kira-kira - kalau tidak salah begini “ambil deh 10 euro tapi jangan ngebosenin” pokoknya omongannya kayak gitu, aku sendiri tak sempat memperhatikan transaksi itu karena sibuk dengan pembeli lain. Mudah2an sih omongannya ga seperti itu, tapi itu kesanku ya….soalnya kita tuh bukannya kesel ngeliatnya, cuma kok bagaimana sih pemikiran pembeli, wong sudah segitu murahnya masih mau lebih murah lagi. Ya..buat sendiri saja anting itu kalau sanggup! pasti ga bisa deh….

Contoh lainnya begitu juga, ada taplak batik yang bagus yang harganya kita pertahankan, lalu ada pembeli yang suka. Akhirnya minggu besokannya dia balik lagi, menawar setengah mati taplak itu setelah kita discount…..

Resumen: orang-orang pada ga punya duit. Jadi cuma berani beli barang murah.

Tahun ini tak satupun penjual meubel yang berhasil menjual meubelnya (ini menurut penglihatanku) dibandingkan tahun lalu. Kami alhamdullilah berhasil menjual 3 lampu.

Bazar tahun ini kurang persiapan, pengunjungnya sedikit. Kami kecewa, karena sudah mati-matian ngangkut barang dari gudang. Kalau bukan karena banting harga, mungkin penjualan kami mengecewakan.