Tema Selingkuh II mendapat masukan dari saudara Marcus Lambertus (trims).
Perselingkuhan dapat diadukan oleh salah seorang dari pasangan yang dirugikan, dengan hukuman penjara maksimal 9 bulan.
Perbuatan yang mempunyai makna sama dengan perselingkuhan, dalam KUHP digolongkan kajahatan terhadap kesusilaan diatur dalam pasal 284 - 303 bis KUHP. Salah satu kejahatan terhadap kesusilaan tersebut dikenal dengan perzinahan, mukah (overspel), yang diatur dalam pasal 284 KUHP. Secara sederhana isi pasal 284 KUHP dapat dirumuskan sebagai berikut. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, seorang pria yang telah kawin melakukan mukah (overspel). Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan mukah. (2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar. Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai.
Diambil dari: Bali post
Bagaimana halnya pihak keamanan yang menggerebek tempat-tempat perzinahan/perselingkuhan tanpa adanya aduan dari pihak yang dirugikan (suami atau istri yang pasangannya berselingkuh)?
Apakah ini secara hukum patut dibenarkan?

biasanya sih mereka cuman cari duitnya aja tuh
beberapa waktu lalu di deket rumah ada penggerebekan judi. Ditangkep semua, tapi kalo mo bebas (tanpa diproses pengadilan), cukup bayar 1 jt/orang. Ada syaratnya lagi. Harus semuanya sekaligus, gak boleh sendiri2. Jadi berhubung yg ketangkep 10 orang, bayarnya harus langsung 10 jt…
Comment by cosa — June 16, 2005 @ 12:54 am
hukum dan kontrol penegakan hukum di negara kita masih lemah
Comment by doeljoni — June 16, 2005 @ 8:08 am
wah…ga bener juga ya aparat? licik!
Comment by Administrator — June 16, 2005 @ 11:46 am
Itu namanya bukan “Aparat” tapi “Keparat”. Memang sulit menemukan penegak hukum yang benar-benar mengerti hukum di negara kita saat ini. Mereka dengan mudah melakukan tindakan atas nama hukum yang sebenarnya tidak ada dasar hukumnya, mereka (tidak semuanya loo) menganggap seragam mereka adalah dasar hukum tapi tidak menyadari “spirit” seragam yang mereka yang sebenarnya.
Comment by Adi — August 10, 2005 @ 5:39 am
When commenting on blogs, news, or articles, I normally write in English. However, since this article concerns Indonesians –Indonesian women in particular, I decide to take the liberty to write in Bahasa instead.
Alright, here it goes:
Berdasarkan pengamatan saya, menikah karena cinta merupakan “budaya” dari generasi terdahulu; orang-orang yang hidup di masa lampau. Orang tua saya, misalnya, menikah di usia tiga puluhan; mereka tidak pernah merasakan adanya “tekanan” atau “paksaan” untuk menikah. Ibu saya adalah seorang pengajar yang senang menekuni pekerjaannya di bidang keilmuan, sedangkan ayah saya senang memanfaatkan waktu senggangnya untuk mendaki gunung, menembus rimba, atau menyelam. Mereka masing-masing berbahagia dengan hidupnya sebagai lajang, dan tidak merasakan adanya tekanan untuk menikah.
Dan saat mereka kebetulan bertemu, mereka betul-betul saling jatuh cinta satu sama lain, dan akhirnya menikah. Walaupun kadang bertengkar, tapi terlihat bahwa mereka memang menikah karena cinta. Sebagai contoh, walaupun mereka berdua sama-sama berkarir dan berinteraksi dengan bermacam lingkungan, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah berselingkuh.
Itulah contoh pernikahan yang memang disebabkan oleh cinta, dan bukan karena social pressure, target usia, atau sebab-sebab lainnya.
Bagaimana dengan generasi sekarang?
Ada dua hal yang saya amati dari generasi saat ini (yang merupakan generasi saya juga). PERTAMA, saat ini banyak sekali orang Indonesia, terutama wanita, yang menikah karena “target”. Saya sendiri tidak tahu apakah hal itu disebabkan oleh “social pressure”, budaya lokal, atau hal-hal lainnya. Tetapi yang jelas, banyak sekali orang Indonesia yang berpikiran bahwa hidup ini hanyalah sekolah, kerja, dan lalu kawin –seolah-olah hidup ini hanya seperti itu saja.
Apakah ini budaya lokal orang Indonesia? Saya rasa tidak, karena orangtua saya sendiri (seperti yang saya ceritakan di atas) adalah orang Indonesia juga. Yang saya heran, kenapa budaya generasi terdahulu itu bisa lebih “liberal” daripada budaya generasi sekarang? Orangtua saya tidak menikah sampai umur tigapuluh -an, dan mereka tidak punya masalah dengan hal itu. Sementara, pada masa-masa sekarang ini, seseorang yang sudah mencapai usia mapan tapi masih belum menikah akan menjadi bulan-bulanan oleh lingkungannya.
Mungkin Anda tidak akan percaya bahwa “social pressure” semacam itu masih sering terjadi di Jakarta yang (katanya) sudah menganut prinsip multikultural ini. Tadinya saya pun selalu menganggap bahwa “tekanan” semacam itu hanya mungkin terjadi di lingkungan-lingkungan yang masih undereducated dan traditional, tapi setelah mengalami sendiri, saya pun jadi percaya.
KEDUA, sekarang ini banyak sekali terjadi kasus perselingkuhan –terutama di tempat kerja. Saat ini, sepertinya berpacaran dengan wanita yang sudah bersuami sudah merupakan hal yang biasa saja –bahkan saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya.
Saya tidak tahu bagaimana pengalaman orang lain, tapi dari pengalaman saya sendiri, alasan dari wanita-wanita itu untuk berselingkuh adalah karena mereka tidak memiliki “rasa” dengan suaminya; sebagian dari mereka bahkan ada yang pernah mengaku dengan sangat blatant, “ah, dari dulu alasan saya menikahinya memang bukan karena cinta kok.”
Memang ada juga kasus dimana ada salah satu dari mereka yang benar-benar cinta kepada suaminya, hanya saja rumah tangga mereka memang sedang dalam masalah (dalam hal itu saya hanya sekedar menjadi pelarian), tapi sebagian besar memang menikah bukan karena cinta.
Saat sedang antri di bandara, saya pernah tidak sengaja mendengar percakapan dari beberapa orang gadis Indonesia yang sedang antri di depan saya. Sepertinya mereka adalah pelajar universitas (univesity students), dan berasal dari latar belakang yang cukup berpendidikan. Gadis-gadis muda ini tentunya memiliki potensi untuk menjadi wanita-wanita mandiri; mereka memiliki pendidikan yang baik, mereka dapat memperoleh pekerjaan yang baik, dan tentunya mereka tidak membutuhkan laki-laki untuk menghidupi mereka.
Betapa kagetnya saya saat mendengar salah seorang dari gadis-gadis itu berkata, “ah, gua sih sudah ada yang melamar; sudah ada laki-laki yang mau menghidupi gua. Gua sih sudah enak bo…”
Jadinya saya tertarik untuk terus mendengarkan. Ternnyata tidak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang memiliki MINAT untuk mandiri, walaupun dengan pendidikan yang mereka miliki, mereka sebetulnya mampu untuk mandiri.
Mereka semua menginginkan satu hal yang sama, yaitu MENIKAH. Dan motivasinya pun bukan karena cinta, tapi “supaya ada yang menghidupi”. Oh, mereka ingin tetap bekerja, tapi gaji yang mereka peroleh adalah betul-betul hanya untuk bersenang-senang, sedangkan untuk kebutuhan pokok, mereka mengharapkan ada seorang laki-laki yang menyediakannya.
Hmmm… Jadi benar juga, sepertinya menikah karena cinta adalah budaya generasi terdahulu.
Saya jadi ingat gerakan feminisme di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 60 –an, yang disebut sebagai “wanita feminist” adalah betul-betul wanita mandiri yang menolak untuk menikah; mereka adalah orang-orang yang patut dikagumi, yang merasa mampu untuk mandiri, dan memang berjuang untuk hidup mandiri.
Dan pada masa itu, kalau ada wanita feminist yang menikah, maka alasannya adalah memang karena cinta. Ibu saya adalah contohnya.
Sedangkan, pada masa sekarang ini, sepertinya wanita-wanita feminists adalah perempuan yang ingin menikah untuk memperoleh kenyamanan hidup. Bahkan lebih parah lagi, di Amerika Serikat, ada budaya yang disebut sebagai “divorce for profit”, yaitu sengaja memancing perceraian supaya memperoleh tunjangan hidup dari mantan suaminya. Hal ini disebabkan karena Undang-Undang Perceraian yang tidak adil, yaitu mewajibkan mantan suami untuk terus menghidupi mantan istrinya –tidak peduli siapa yang bersalah dalam perceraian itu.
Maka tidak heran kalau kaum feminist jaman sekarang berbeda dengan feminist jaman dahulu. Feminist generas sekarang adalah wanita-wanita yang senang memaki-maki kaum laki-laki yang tidak mau menikah. Laki-laki yang memutuskan untuk tetap bujangan akan menjadi “bulan-bulanan” dari kaum feminist tersebut. Lingkungan pekerjaan hanyalah salah satu contoh dimana laki-laki bujangan akan terus dibuat “merasa bersalah” oleh kaum wanita di sekitarnya.
Kalau melihat pengalaman saya saat mengantri di bandara tersebut, sepertinya wanita-wanita Indonesia sudah tertular oleh “budaya wanita Amerika”.
Sayangnya, beban laki-laki Indonesia lebih berat daripada laki-laki Amerika. Di Amerika, “tekanan lingkungan” (social pressure) untuk menikah jauh lebih ringan daripada di Indonesia. Sementara di Indonesia, “budaya timur” dan “faktor agama” merupakan alasan-alasan yang sering digunakan untuk memberikan “tekanan” kepada laki-laki supaya mau menikah.
Walaupun saya termasuk orang kulit berwarna, tapi saya sendiri tidak menganut “budaya timur”, dan saya sendiri tidak peduli kepada “tekanan lingkungan” yang menyuruh saya untuk menikah. Saya sudah terbiasa dengan wanita-wanita di sekeliling saya yang terus-menerus “mencela” saya karena saya berprinsip tidak mau menikah.
Tapi saya merasa kasihan kepada sesama laki-laki Indonesia lainnya. Banyak dari mereka yang merasa bahwa hanya karena mereka termasuk golongan kulit berwarna, maka mereka menjadi wajib untuk “patuh” kepada “budaya timur”. Salah satu akibatnya adalah mereka jadi merasa wajib untuk menyerah kepada tekanan lingkungan yang “memaksa” mereka untuk menikah.
Dan akhirnya, banyak dari mereka yang mengalami sakit hati karena mengetahui bahwa istri mereka sebetulnya tidak mencintai mereka –bahwa alasan dari istri mereka untuk menikah adalah BUKAN karena cinta.
Mungkin memang benar, bahwa menikah karena cinta merupakan budaya dari generasi jaman dahulu.
Bagaimanapun juga, alangkah sayang mengetahui bahwa masih banyak laki-laki Indonesia yang cukup bodoh untuk menikah.
Apakah alasannya karena seks? Padahal seks bisa diperoleh dengan mudah tanpa harus menikah. Apakah alasannya untuk mencapai kebahagiaan? Padahal kebahagiaan yang diperoleh dari kebebasan dan kemerdekaan hidup melajang adalah jauh lebih besar.
Apakah alasannya karena cinta? Nah, kalau memang demikian, maka waspadailah calon istri Anda, karena belum tentu dia juga mencintai Anda. Bersiaplah untuk sakit hati seandainya istri Anda nanti berselingkuh dengan laki-laki lain. Ingatlah bahwa wanita yang menikah karena cinta adalah wanita-wanita dari generasi jaman dahulu, bukan dari jaman ini.
Laki-laki di Indonesia harus lebih berani untuk memiliki pendirian sendiri, harus berani untuk tidak tunduk kepada tekanan-tekanan sosial yang memaksa mereka untuk menikah. SAY NO TO MARRIAGE.
Comment by Kreshna Iceheart — June 29, 2007 @ 5:55 am
kembalilah ke agama masing masing…
Comment by o riz qhan — October 5, 2007 @ 10:04 am
Some words of wisdom:
“Ever seen a honest woman? ME NEITHER.”
“A man needs marriage just as much as a fish needs a bicycle.”
“I think, therefore I’m single.”
“The only reason why feminists are against legalizing prostitution is because they’re afraid of competition.”
“A woman always needs two types of man: the nice and responsible guy she’s married to, and the lovable guy she’s having affair with.”
“Prostitutes don’t cheat; wives do.”
“Prostitutes are honest women; wives aren’t.”
Comment by Kreshna Iceheart — December 12, 2007 @ 4:09 am
bagaimana bila seorang akademisi berselingkuh?
terus ada pihak yang dirugikan, dan sudah mempunyai anak dan istri, hukuman yang pantas untuk semua itu apa?
Comment by abdulloh umar — September 26, 2008 @ 5:07 am
Tapi yang disayangkan adalah jumlah para pelaku perselingkuhan bukannya menurut malah semakin bertambah banyak. Dunia memang sedang mengalami masa kemunduran.:(
Comment by Poer — January 9, 2009 @ 12:06 pm
karena jaman inidah edan,,,,,,,bahkan saya pernah selingkuh sampai 8 tahun.
Comment by hendra — March 11, 2009 @ 6:56 am