Tadi baru aja ngomong-ngomong via email dengan seorang teman. Ternyata tinggal di negara yang mayoritasnya muslim belum menjamin bahwa seorang muslim akan lebih mudah melaksanakan ibadahnya (dalam hal ini solat 5 waktu sehari).

Jadi mari kita tidak melihat letak geografis seorang muslim di mana dia berada.

Seperti bahasanku yang lalu-lalu ada dilema. Bagiku ini sebuah misteri, mungkin bagi yang lain tidak.

Bagaimana caranya supaya solat kita tidak jatuh pada sifat rutinitas?
Jawabannya pasti: solat itu harus tahu artinya dan serius dalam menjalankannya.

Betul sekali. Tapi terkadang, manusia itu kan suka timbul rasa malasnya (siapa sih yang ngga pernah malas?), nah rasa malas itu kan harus dilawan, maka kita sedikit “paksakan” solat itu.
Bagaimana solat yang agak “terpaksa” ini? kan solat memang wajib?

Lalu ada lagi jawaban: “Kenapa tidak kau lakukan solat, dilihat dari segi kecintaanmu terhadap Allah, bukan dari segi kewajiban”.
Nah ini kayaknya lebih mendekati jawaban yang sempurna.

Tapi bagaimana sih cara orang-orang alim itu betul-betul konsisten dengan ibadahnya? tentu saja dengan ilmu ya?

Ilmu apa sih yang harus dipelajari?

Atau malah itu semua tergantung pada Allah SWT? tergantung apakah Allah terus mengkaruniai seseorang dengan cahayanya? bagaimana dengan orang-orang yang meninggalkan solatnya karena banyak hal? di mana salah mereka?

Aku sendiri tidak malu mengakui trayektori ibadahku yang acak adul. Lebih baik mengakui hal ini daripada salah jalan terus menerus atau entah apa namanya.

Bagaimana dengan pengalaman teman2 sendiri?