asem manis asinMay 23, 2005 9:37 am

Kemaren abis nonton F1 sirkuit Monaco di TELEVISI (retifikasi 16:47 23/05), pikiran melayang…berkhayal bahwa kita (gue dan temen2 kantor), menang lotre Euromillon!

Ngga jarang kita-kita suka bermimpi atau berkhayal menang lotre. Kebayang ga? hari sabtu, sehari setelah lotre diumumkan, kita berkumpul di depan kantor, penuh dengan emosi dan kegirangan.
Sambil membayangkan boss kami dengan gayanya yang sok serius, “Tenang-tenang, lotre aslinya sementara ini kita simpan di lemari besi kantor, sampai hari senin”.
“Eh gimana kalo kita nonton Fernando Alonso di Monaco?”
“Ayo…ayo! ide yang bagus, pulang hari senin pagi dan langsung ke kantor”
“Wah ternyata pesawat ke monako untuk berangkat hari jumat depan sudah penuh, bagaimana kalo kita menyewa pesawat charter?
“boleh, boleh….”
Hari Jumat sore kami berangkat dengan pesawat charteran dan tiba di Monaco. Malamnya ke kasino (liat2 doang dan makan2), Sabtu sore, makan sea food di pelabuhan sambil memandang lautan. Minggu pagi, siap menonton F1 di sirkuit Monaco yang aduhai….

Enak memang bermimpi punya duit lebih.

Sekarang gimana kalo situasinya kita balik menjadi: “Apa yang kau lakukan bila menjadi miskin?”

Ya sudah miskin kok….ngga usah dibayang-bayangkan lagi. ;)

asem manis asin, perempuanMay 20, 2005 3:42 pm

Baru aja baca-baca di liputan 6, FPI protes atas pengiriman kontestan Indonesia untuk Miss Universe 2005.

Apa sih pendapat kamu sendiri?
-setuju Indonesia diwakili di Miss Universe
-tidak setuju
-tidak peduli
-tidak tahu
-komentar lainnya

Dari jaman dulu, jaman Titi Dwijayanti yang mewakili Indonesia, ada keributan juga.

Pendapatku sendiri:
Kayaknya FPI sudah memvonis Indonesia sebagai negara Islam di mana berlaku hukum-hukum agama Islam.

Gimana ya? apa masalahnya? karena harus pake baju renang? karena itu salah karena ngga nutup aurat? Gimana kalo kandidat itu misalnya tidak beragama Islam, hingga secara moral dia merasa tidak bersalah?
Apakah martabat bangsa diukur dari keterbukaan pakaian wanitanya?

Di kontes itu kan ga buka-bukaan selamanya, ada juga di mana dia harus pakai baju pesta, baju tradisional, dst. Begitu juga mereka di tes kepintarannya, kelihaiannya dalam berbagai hal, komunikasinya, reaksi2nya. Ngga gampang loh untuk sampai ke sana!

Ke dua, ngga usah ngeributin masalah moral seseorang deh! Indonesia udah banyak masalah, lagi-lagi masalah kecil dibesar-besarkan (spt. logo album Dewa).

Ketiga, yah…paling tidak ada yang mau berkorban mewakili Indonesia ke dunia internasional, seorang wanita pula. Coba kalau dia menang lalu kemudian diangkat menjadi duta PBB untuk Unicef, nah kan yang kesebut-sebut nama Indonesia juga! Selama ini kita kan terkenal korupsinya doang! coba deh!!!

Padahal apa ga inget, kalau di Indonesia di bagian timur, baju tidak diperlukan? baju cukup minim aja? apa di antara mereka merasa “horny”?, apa harus menutup mata masing2 ke tubuh yang dianggap oleh mereka alami, natural? itu memang budaya mereka.
Dulu di Bali juga wanita telanjang dada.

Sebenernya aku juga ga peduli tentang kontes-kontes kayak gini, ya itu kan cuma bagian dari bisnis, marketing dan tek tek bengek lainnya. Dan aku pikir, orang-orang dari negara lain tidak akan berpikir bahwa martabat bangsa kita bakal jatuh karena mengirim kontestan ke Miss Universe, kalo orang-orang se dunia berpikir begitu, ya tentu kontes ini tidak exist, tidak ada yang mau mengirim wakilnya.

en español, puisi & fiksi 2:31 pm

palabras…

palabras vacías
incumplidas
injustas

que me hunden
me hieren
me empujan
hasta el pozo más profundo

palabras
que cortan, atacan
que mienten, dañan
y matan

el corazón de uno
y la vida de otro

palabras
que me encierran
en un simple contrato absurdo e injusto
causan dolor, rencor,
maldición y venganza

palabras tuyas, las de él, de ella, de ellos, de ellas, de vosotros

dedicado a una persona con poder cuyo ejercicio causa injusticias

manusia/renungan 11:25 am

Betul apa yang dikatakan kemarin oleh filosof Gustavo Bueno, bahwa orang-orang cukup merasa bahagia dengan memiliki ini dan itu dan tanpa sadar menjadi budak dari materi.

Diriku pun tak luput dari fenoma ini yang sudah menjadi pemikiran sehari-hari.

“Pengen punya kamera digital”
“Pengen punya mobil yang besar”
“Pengen punya anak”
“Pengen punya rumah yang ada halaman, kebun, dekat gunung, pake chimney, yang menghadap…”

Kalau manusia sudah ingin….daftarnya tak habis-habis.

Jadi ingat waktu aku masih kecil dulu, ingin punya mainan ini dan itu, sampai-sampai ibuku hanya bilang,
“Yah dibuat saja daftarnya”, karena kami semua tahu bahwa keinginan itu tidak akan diladeni.

Akupun sekarang ini berpikir tentang banyaknya keinginan pribadi, buat apa sih sebenernya? kenapa sih hidup kita terkadang harus dinilai dari apa yang kita punya, apa yang orang lain punya dan apa yang kita tidak punya?

Keinginan-keinginan itu terkadang menjadi sebuah obsesi. Yang lebih parah lagi, ada orang-orang yang menggunakan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

Yang lebih susah lagi, jika orang-orang disekitar kitapun tak habis-habisnya berbicara tentang obsesinya, keinginannya, cita-cita yang tinggi, dsb.

Kemarin akhirnya karena sudah tak tahan aku katakan: “Well, aku merasa cukup dengan apa yang aku punya”, dengan hati yang jujur, sumpah!

Mulai saat ini mungkin aku perlu membatasi otakku dengan kerakusan materi, yang perlu aku rasakan adalah kebahagiaan dengan apa yang aku miliki, dengan diriku dan orang2 yang aku cintai di sekelilingku, tubuh yang sehat dan kehidupan ini- apa pun bentuknya.

Juga berpikir untuk menikmati hidup dalam waktu “present” (sekarang), walaupun itu hanya hal-hal yang sederhana seperti: menari di kelas gym jazz, membaca buku yang aku pinjam dari perpustakaan, memanjakan 2 anjingku, tidur-tiduran di hammock di teras rumahku yang kecil, etc. etc.

Lepas dari pemikiran materialistis yang absurd, yang mendominasi diri kita tanpa kita sadari.

Secara jujur aku mengalami kepuasaan ketika membaca buku, menari, bermain-main dengan anjingku, bahkan terkadang merapihkan rumah dan melihatnya tertata rapih!

Untungnya aku juga bukan orang yang suka ikut-ikutan arus tendensi, walaupun akhirnya disebut aneh, kuno, norak dan sebagainya. Nikmati saja kebahagiaan sekarang ini dengan apa adanya dan bersyukurlah.

asem manis asin 9:19 am

I decided to change the template again and this time less colourful. But now I should fix a couple of things so the links work perfectly.

Have a nice weekend!

PD:
If you change template that’s mean you have to change/add some script to make the links works,
ie. links for most popular post (that at the first time don’t work)
next/previous page to see old posts (because usually you can not view it all)
hit counter or other additional things.

Depending on the template you choose, each representing different problem when adding/changing script.

puisi & fiksiMay 19, 2005 1:37 pm

Kini kau lupa namaku
pura-pura pikun
kau tanya lagi nama lengkapku

ga masalah mas
aku ga sewot kok
kalau lupa kenapa kau panggil aku dengan “dek”
apa ada kakak yang lupa nama adeknya?

ini cuma permainanmu lagi kan?

sudah kukatakan
bahwa cinta yang kuberi untukmu dulu
bila kau tak ambil
kaulah yang kehilangan cinta itu
karena cinta itu tetap milikku*

perasaan nan alami
dari sebuah tubuh yang berumur dua belas tahun
yang tak pernah disesali oleh pemiliknya

kaulah yang menyesal
yang diam sekeras batu
yang cool sedingin es mambo

senyummu, matamu, lenggang jalanmu, suaramu,
telah menjadi spectrum
yang bila kubutuhkan
muncul dengan sendirinya
musa puisi cintaku

tak ada yang harus kugali dari pribadimu
pintu itu sudah tertutup
kau dewa yang sudah menjadi manusia
atau karena itu, kau lupa namaku?

;)

*Monsieur Ibrahim et les fleurs du coran

buku/film/celeb 11:08 am

Seorang filosof dari Asturias (sekampung dengan Fernando Alonso- pilot Formula 1 yang lagi nge-top), mengeluarkan buku barunya yang berjudul, ya itu tadi di atas. Nama beliau sendiri adalah Gustavo Bueno.
Dari wawancaranya yang saya sarikan dari koran “La Gaceta“, beliau mengatakan bahwa Kebahagian hanyalah sebuah mitos, begitu juga kebudayaan.
Definisi kebahagian pada masing-masing orang tentu berbeda-beda. Jika kebahagian diukur dari materi yang didapatkannya, maka orang tersebut telah berubah menjadi budak, namun dia tidak menyadarinya.
Aku terjemahkan wawancara beliau di bawah ini:

Apakah anda bahagia?”

“Pertanyaan itu tidak ada jawabannya. Kebahagiaan tidak eksis/ada. Itu merupakan ide yang absurd di mana formulanya tidak kita punyai, dan tidak juga akan kita dapati suatu bahasa yang cocok karena bahasa hanya mengekspresikan apa yang mungkin dipikirkan”

Namun kebahagian dapat dipikirkan”

“Kebahagiaan yang dipikirkan bukanlah kebahagiaan, namun hanya suatu ide pada kehidupan yang baik dan kenyamanan yang mana dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat. Kebahagiaan yang anda maksud adalah usaha dari segelintir orang untuk memperbudak banyak orang. Kebahagiaan tidak dapat didefinisi. Setiap orang mencari kebahagiaannya masing-masing.
(more…)

yang pateticMay 18, 2005 2:40 pm

Blusmu musti merek Mango
Cardiganmu dari Zara
Tas wajib dari Louis Vuitton
Celana Jeansnya Levis
Syal dengan desain Armani
Perfume Chanel number 5
Dan Lipstick dari Clinique
(more…)

Imperio/sejarahMay 17, 2005 9:37 am

Tiba-tiba pagi ini aku teringat akan sesuatu, entah apa yang membuatku teringat akan hal ini.

Begini, masih ingat dengan presiden Spanyol, Aznar, yang pada periode pemerintahannya beraliansi dengan AS untuk menyerang Irak? kemudian ketika tahun berikutnya ada pemilihan umum, dia kalah karena rakyat spanyol sebagian besar menentang perang tersebut?

Ada 2 teori dari Maquiavelo di sini, yaitu:
1. Persekutuan
2. Keputusan pemimpin yang tidak populer

Di sini akan aku kutip perkataan Maquiavelo mengenai keduanya:

Pertama, mengenai persekutuan, katanya:

Jika kamu merasa terpaksa, disarankan untuk bersiap-siap dengan suatu persekutuan dengan seseorang yang lebih berkuasa daripada dirimu untuk menyerang pihak lain. Alasannya adalah jika halnya persekutuan ini menang, kamu menjadi tahanannya dan para pemimpin harus menghidari sebisanya berada dalam kontrol orang lain.
Juga dicapai nama yang baik, dalam hal persahabatan maupun permusuhan, dengan kata lain, ketika kamu berpihak secara jelas kepada seseorang - melawan orang yang lain.
Cara aktuasi ini selalu lebih berguna daripada menjadi neutral, karena ketika dua negara tetangga berperang, seperti halnya karakter mereka, jika salah satu pihak menang maka ada rasa takut pada pihak pemenang. Pemenang tidak bersekutu dengan negara yang ragu-ragu, yang tidak membelanya dalam perlawanan. Sedangkan pihak yang kalah, tidak akan memberikanmu tempat berlindung dengan alasan tidak mau berbagi keberuntungan dengan senjata di tangan.

(more…)

puisi & fiksiMay 16, 2005 3:29 pm

Jam sebelas siang perutku mulai terasa lapar, karena tadi pagi tak sempat sarapan. Namun sayangnya ada banyak kerjaan yang harus kukejar, Pak Nas tak berhenti bertanya semenjak aku masuk pintu kantor, artikel yang harus kuselesaikan mengenai pariwisata di Indonesia Timur.

Walaupun jam 9 tadi, aku sempatkan ngopi di warung si Udin, kopi dengan susu kental, agar mata terbelalak barang setengah jam. Lalu buru-buru aku naik ke kantor tanpa sempat nyemil apapun. Perutku terasa aneh, mungkin karena tadi malam makan 2 piring nasi goreng yang lewat di depan rumah.

Kepalaku terantuk-antuk, tepat ketika dering telpon di sampingku berbunyi.
“Nes, bisa makan siang sama aku ga? aku lagi ada di daerah kantormu nih, abis meeting sama client”, sahut si Devy di ujung sana.
“Ayo, jam duabelas deh, di warung Bu Setyo, aku sudah lapar nih!”
“Ok, boleh. Yang deket pangkalan ojek kan?”
“He euh. Kalo jam dua belas aku blom nyampe, tunggu aja ya? pasti aku dateng deh!”
“Iya. Jangan lama-lama ya? Soalnya dari situ aku mau jemput mas Budi”.
“Iya, sip”.
(more…)

LINK TEXTNext Page »
online