Di Spanyol baru saja dikeluarkan hukum untuk melegalisasi pernikahan kaum homoseksual dengan alasan menyamaratakan hak individu warga negara dan melawan diskriminasi atas pilihan seks seseorang.
Menurut kamu gimana? apakah seorang pasangan homoseksual secara hukum mempunyai hak yang sama dengan seorang pasangan heteroseksual? apakah mereka berhak mengadopsi anak?
Aku sendiri masih melihatnya dengan pandangan yang rabun, masih ragu-ragu.
Dalam satu sisi, sepasang homoseksual berhak untuk mendapatkan hukum yang sama yang berlaku bagi pasangan heteroseksual. Misalnya ketika seorang dari mereka meninggal dunia, pasangannya berhak menerima uang pensiun pasangan yang meninggal, berhak menerima warisan dari pasangan yang meninggal, begitu juga dalam perpajakan, dan norma-norma lainnya.
Namun di sisi lain ketika mereka juga berhak untuk mengadopsi anak, aku menjadi sedikit ragu dan menentang akan hal ini.
Memang sepasang heteroseksual belum tentu bisa mendidik anak sebaik-baiknya dan mungkin sepasang gay atau lesbian, bisa saja mendidik anak itu dengan sukses.
Bagaimana rasanya mempunyai papa dan mama yang keduanya laki-laki atau keduanya perempuan? mungkin kalau anak itu berada pada keluarga itu sejak bayi, keanehan itu tidak akan terasa. Namun bagaimana pikiran anak itu jika melihat teman-temannya mempunyai mama dan papa, seorang perempuan dan laki-laki? bagaimana anak-anak lainnya akan memperlakukan anak tersebut di lingkungan sekolah?
Sekarang begini saja, jelas tidak mungkin sepasang orang yang berjenis kelamin sama bisa berfekundasi secara normal. Maka, kenapa kita harus memberikan hak kepada mereka untuk mempunyai anak?
Karena pilihan seks mereka, mereka tidak berhak untuk mempunyai anak, titik.
Di sisi lain, mereka berhak untuk hidup bersama, diperlakukan sama secara hukum, dan lain sebagainya, tapi untuk memiliki anak? secara biologis, null, maka hak juga nol.
bersambung
kata pernikahan aku ganti menjadi “persatuan” sejak 10/08/2005

Saya juga masih ragu2. Tapi paling tidak mereka masih manusia, terlepas dari orientasi seks mereka. Jadi ya mereka punya hak yang sama dengan yang lainnya, hak dasar manusia, seperti kebebasan, toleransi, penghormatan, dan pengakuan (acknowledgement). I met some of them, they are just people. Some are great, kind, honest and smart. Who are we to judge others? They already have difficult life in hetero society, I prefer not to make it more difficult.
Comment by Pipit — May 30, 2005 @ 9:38 am
Ya jelas lah Pit, mereka emang manusia kayak kita2 dan siapa aja bisa punya orientasi seks yg berbeda.
Comment by Administrator — May 31, 2005 @ 8:34 am
kumpul kebo ya jangan disahkan lah.. kalo kita kasih/setuju hak mereka untuk kumpul kebo berarti kita jg melakukan hal semestinya tidak dilakukan.
dulu jamamnya nabi … mereka diusir… emangnya kalo sholat mereka ada diposisi mana ayao coba tebak… bingung khan ???
Comment by jungkirbalik — July 18, 2005 @ 8:32 am
homo emang mau adu panco apa ? kasian tuh anak yang diadopsi mau manggil mama sama papa yang mana? trus kalo kita mau nitip pesen untuk kedua orang tuanya lewat anak itu gimana dong ?
Comment by Teguh — July 19, 2005 @ 6:06 am
Homo sama adu panco apa hubungannya?
Sebenarnya sih jika dipikir-pikir, ada banyak di dunia ini anak-anak yang lahir dari ibu-bapak heteroseksual yang terlantar, karena ortunya ngga mau tau. Sekarang jika ada pasangan homoseksual yang terseleksi oleh badan yg bertanggung jawab utk. mengadopsi seorang anak yg terlantar, anak jalanan misalnya, apa salahnya? saya pikir harus ada keringanan dlm hal ini.
Comment by Administrator — July 19, 2005 @ 10:38 am
Menurut Gw ga ada yang salah kok,itu wajar2 aja.Toh,itu kehidupan Mereka.Kalo kalian emank hidup di era globalisasi harusnya pikiran Kita udah lebih terbuka..Mereka juga manusia….
Comment by harry potter — January 3, 2006 @ 8:58 am
Menurut hemat saya, pangkal permasalahan yang timbul ketika diskusi tentang “same-sex marriage” diajukan dikarenakan tidak adanya definisi final tentang apakah “perkawinan” itu sendiri. Mayoritas (kaum heteroseks) mendefinisikan perkawinan sebagai “persatuan antara pria dan wanita…dstnya…”. Definisi ini sebenarnya diambil dari ajaran agama yang sampai saat ini hanya mengesahkan perkawinan tipe heteroseksual. Mengapa perkawinan harus antara “pria dan wanita”…? Alasannya sangat sederhana. Diawal sejarah manusia, perkawinan dipandang tidak lebih sebagai sarana “prokreasi” atau metode berkembang biak. Persatuan/perkawinan homoseksualitas ditentang karena berlawanan dengan prinsip dasar prokreasi. Ini satu-satunya alasan yang terus dipegang teguh oleh kalangan agamawan.
Menurut hemat saya, banyak kesalahan dan prasangka yang timbul ketika seseorang menjustifikasi nilai etis dari perkawinan sejenis. Misalnya saja dari aspek kesetaraan hukum. Kaum gay dan straight sama-sama membayar pajak, namun hanya kaum straight yang menikmati pelayanan hukum publik seperti pendaftaran perkawinan, pengesahan hak waris, dan hak adopsi. Banyak yang berpikir bahwa seorang gay tidak berhak mendapatkan hak-hak publik karena mereka dipandang sebagai warga masyarakat kelas dua. Mereka harus melakukan kewajiban yang sama dengan kaum straight tetapi dengan hak-hak sipil yang lebih terbatas.
Mengenai hak adopsi, banyak yang berpikir bahwa seorang anak yang diasuh oleh pasangan yang gay akan mengalami masalah kejiwaan yang serius. Bahkan ada yang beranggapan bahwa anak angkat mereka mungkin saja akan menjadi gay sebagaimana orangtuanya. Sampai dengan saat ini tidak ada bukti dari riset psikologi yang membuktikan bahwa anak yang diasuh oleh pasangan gay lebih inferior dalam aspek kognitif, afektif, amaupun psikomotoris jika dibandingkan dengan anak yang diasuh oleh pasangan straight. Kebingungan sang anak mungkin timbul ketika dia mulai menyadari bahwa dirinya memiliki orangtua yang berbeda dengan orang tua umumnya. Ini mungkin akan mempengaruhi self-esteem sang anak. Tetapi jika kita mau jujur, masalah ini bukan timbul karena sang anak dibawah pengasuhan pasangan orangtua yang gay. Masalah ini timbul karena masyarakat “menolak” mengakui bahwa pasangan gay mampu bertindak sebagai orangtua bagi anaknya. Ada perbedaan norma/nilai antara di dalam rumah dimana sang anak diasuh dengan norma/nilai di masyarakat dimana sang anak bersosialisasi.
Akar masalahnya hanya satu, keengganan kita untuk bersikap jujur dalam memberi penilaian. Sebagian besar anggota masyarakat menjustifikasi problematika yang mneyangkut kaum gay dari kacamata kaum straight. Semua penilaian dilihat dari cara pandang yang heteroseksis dengan mengasumsikan bahwa hanya cara pandang heteroseksislah yang paling benar. Kaum straight tidak pernah mempertanyakan apakah norma-norma mereka sudah mencapai kebenaran final. Sementara di sisi lain mereka (kaum straight) selalu menjatuhkan stigma negatif terhadap kaum gay. Ini seperti orang yang menggunakan kacamata hitam dan berkeras bahwa langit selalu berwarna hitam hanya karena dia melihat langit yang hitam dalam pandangannya. Siapa yang salah? Tentu saja semua orang yang menggunakan kacamata “berwarna” untuk melihat sesuatu. Mengapa tidak dari sekarang kita menggunakan kacamata yang “jernih” dan “bening”…?
Comment by dhidhie — January 23, 2006 @ 9:52 am
menurut saya itu merupakan kebebasan individu maka dari itu pernikahan sesama jenis merupakan jangan dianggap tabu l;agi ?
Comment by fared — February 8, 2006 @ 11:50 am
wah..jaman skarang bikin pusing…daripada mikirin homo,mending kita mikirin bangsa Indonesia yang ekonominya lagi kacau balau!!!!!!!!
Comment by shinichi kudo — March 20, 2006 @ 8:09 am
menikah dengan sesama jenis menurut saya merupakan suatu kebebasan tersendiri, karna kita tidak bisa melarang hak orang dan itulah hidup yang mereka pilih, maka sebaiknya kita tidak perlu mengucilkan mereka karna konsekeunsinya ada pada mereka yaitu tidak bisa punya keturunan, kondisi anaknya akan mungkin bisa terganggu melihat bapak-ibunya berkelamin sama, sedang orangtua teman-temannya berbeda kelamin. Namun di era yang sudah maju ini sudah seharusnya kita terbuka pada segala sesuatu hal karna pada akhirnya kita semua toh akan mati juga, maka nikmatilah hidup ini selama kita bisa menikmatinya.
Comment by anston — April 28, 2006 @ 10:52 am
menurut gw, ada beberapa pandangan. pertama, manusia berhak untuk memilih dan menjalani bentuk hidupnya. nikah, lajang atau memilih jalan hidup yang ekstrim seperti jadi biksu, pastor, pertapa, biarawan, atau single parent; asal bisa menjamin kebebasan eksistensi, perkembangan jati diri dan tujuan hidupnya. Jadi pasangan homo atau hetero menikah ya gak soal. toh, mungkin dengan menikah bisa menjamin komitmen cinta masing-masing dan menjadi satu tubuh, satu cinta. daripada sama-sama cinta dan ga jelas untuk selanjutnya, toh setiap orang ingin membahagiakan dan dibahagiakan oleh orang yang dicintainya. kalau jalan yang terbaik adalah perkawinan, kenapa enggak?
kedua, memangnya ada orang yang mau lahir menjadi homo atau hetero? manusia ditentukan dengan keadaaan lingkungan juga. gak bener juga kalo masih berpegang pada istilah manusia lahir seperti kertas putih yang belum ternoda. toh ada gen-gen orang tua, pendidikan masa kecil, pergaulan, serta pengalaman yang membentuk cara berpikir dan konsep diri manusia. jd apa masih layak homo dipersalahkan? pandangan saya,homo identik dengan sakit yang tidak bisa dipastikan penyebabnya secara positif. mungkin ya menjadi pertanyaan buat saya bila melihat konteks ajaran agama atau kebudayaan bahwa manusia diciptakan pria dan wanita, titik. tidak ditambahkan apakah yang diciptakan itu pria yang homo atau hetero demikian juga tidak dijelaskan wanita yang diciptakan itu homo atau heteroseksual. dan lagi saya gak terlalu percaya bahwa dengan berpegang pada ajaran agama saja kita bisa mendapat kebenaran yang universal dan paling benar, toh harus terbuka juga dengan pengetahuan dari aspek lain.
ketiga, jangan-jangan peradaban kita mengarah pada konsep kebebasan yang disalahartikan. mentang-mentang yang homo banyak, apa harus diterima begitu saja? bagaimana dengan aids, toh ada asumsi aids tertular melalui hubungan seks dari homoseksual. sama aja kalau saya analogikan begini; yang korupsi banyak, berarti harus diterima begitu saja toh manusia bebas memilih jalan hidupnya. ya enggak bisa begitu dong. harus ada jalan untuk membongkar masalah ini.
bahwa dengan mengakui atau memaklumi kebebasan seksual bukan sebagai jalan akhir. tetapi berani melihat ke akar permasalahan; misalnya struktur sosial yang menutup seks sebagai naluri purba dan baru menjadi berita ketika seks sudah menebarkan jaring termasuk kewilayah-wilayah yang tak diterima akal.
jangan sampai kita terjatuh pada pandangan subjektif belaka sehingga yang muncul merelatifir semua persoalan sehingga nampaknya gak ada yang salah dan gak ada yang benar. toh. hidup bukan sekedar menikmati, tetapi berani belajar dari kesalahan dan merumuskan tanggung jawab sebagai human
Comment by ito — May 8, 2006 @ 5:55 am
menurut gw, ada beberapa pandangan. pertama, manusia berhak untuk memilih dan menjalani bentuk hidupnya. nikah, lajang atau memilih jalan hidup yang ekstrim seperti jadi biksu, pastor, pertapa, biarawan, atau single parent; asal bisa menjamin kebebasan eksistensi, perkembangan jati diri dan tujuan hidupnya. Jadi pasangan homo atau hetero menikah ya gak soal. toh, mungkin dengan menikah bisa menjamin komitmen cinta masing-masing dan menjadi satu tubuh, satu cinta. daripada sama-sama cinta dan ga jelas untuk selanjutnya, toh setiap orang ingin membahagiakan dan dibahagiakan oleh orang yang dicintainya. kalau jalan yang terbaik adalah perkawinan, kenapa enggak?
kedua, memangnya ada orang yang mau lahir menjadi homo atau hetero? manusia ditentukan dengan keadaaan lingkungan juga. gak bener juga kalo masih berpegang pada istilah manusia lahir seperti kertas putih yang belum ternoda. toh ada gen-gen orang tua, pendidikan masa kecil, pergaulan, serta pengalaman yang membentuk cara berpikir dan konsep diri manusia. jd apa masih layak homo dipersalahkan? pandangan saya,homo identik dengan sakit yang tidak bisa dipastikan penyebabnya secara positif. mungkin ya menjadi pertanyaan buat saya bila melihat konteks ajaran agama atau kebudayaan bahwa manusia diciptakan pria dan wanita, titik. tidak ditambahkan apakah yang diciptakan itu pria yang homo atau hetero demikian juga tidak dijelaskan wanita yang diciptakan itu homo atau heteroseksual. dan lagi saya gak terlalu percaya bahwa dengan berpegang pada ajaran agama saja kita bisa mendapat kebenaran yang universal dan paling benar, toh harus terbuka juga dengan pengetahuan dari aspek lain.
ketiga, jangan-jangan peradaban kita mengarah pada konsep kebebasan yang disalahartikan. mentang-mentang yang homo banyak, apa harus diterima begitu saja? bagaimana dengan aids, toh ada asumsi aids tertular melalui hubungan seks dari homoseksual. sama aja kalau saya analogikan begini; yang korupsi banyak, berarti harus diterima begitu saja toh manusia bebas memilih jalan hidupnya. ya enggak bisa begitu dong. harus ada jalan untuk membongkar masalah ini.
bahwa dengan mengakui atau memaklumi kebebasan seksual bukan sebagai jalan akhir. tetapi berani melihat ke akar permasalahan; misalnya struktur sosial yang menutup seks sebagai naluri purba dan baru menjadi berita ketika seks sudah menebarkan jaring termasuk kewilayah-wilayah yang tak diterima akal.
jangan sampai kita terjatuh pada pandangan subjektif belaka sehingga yang muncul merelatifir semua persoalan sehingga nampaknya gak ada yang salah dan gak ada yang benar. toh. hidup bukan sekedar menikmati, tetapi berani belajar dari kesalahan dan merumuskan tanggung jawab sebagai human
Comment by ito — May 8, 2006 @ 5:56 am
saya sangat tertarik untuk meneliti tentang homoseksual, sehingga saya melakukan penelitian tesis dua-duanya tentang homoseksual, pertama perilaku homoseksual di ponpes, dan kedua gerakan sosial politik kaum homoseksual di indonesia. maka dengan itu saya memohon dengan sangat untuk memberiktahukan alamat email, no. telpon, dan alamat dari Dr. dede oetomo, terimakasih
Comment by iskandar dzulkarnain — May 23, 2006 @ 6:11 am
menurut saya perkawinan homoseksual sudah harus menjadi pembicaraan serius di kalangan anggota DPR-RI. Isu ini sangat penting karena selama ini lembaga perkawinan merupakan suatu lembaga yang didasarkan pada agama saja. Kalau kita melihat bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara sekuler. Dan kalau kita melihat UU 1 tahun 1974 pasal 1 jelas bahwa definisi perkawinan hanyalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita …..yang didasarkan pada ketuhanan yang maha esa. Dari sini jelas bahwa seakan-akan hukum agama lebih tinggi derajatnya dibanding hukum negara. Selain itu Indonesia sudah meratifikasi kovenan Internasional tentang hak-hak sipil politik dan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Sehingga penerapan UU 1 tahun 1974 sudah tidak layak lagi sebagai bentuk pemenuhan hak-hak dasar warga negara. Karena seperti kita ketahui bahwa warga negara Indonesia tidak saja merupakan kaum heteroseksual, namun banyak juga kaum homoseksual yang merupakan warga negara Indonesia. Berdasarkan hal tersebut maka sudah selayaknya revisi UU 1 tahun 1974 tentang perkawinan dilakukan demi lancarnya proses demokratisasi di negara ini.
Comment by rido triawan — August 16, 2006 @ 6:50 am
masalah ini memang besar tetapi setiap kali hak asasi manusia ingin membentras masalah besar ini ada saja masyarakat yang cuba menghalang. jadi saya rasa masyarakat dunia haruslah membersihkan pemikiran mereka daripada benda yang karut lagi kurang ajar ini. jangan di turutkan sangat hawa nafsu. seperti kata pepatah. ‘ikut nafsu badan jadi lesu’ sekian. jumpa anda di puncak kejayaan
Comment by Razwest — September 6, 2006 @ 7:33 am
mnurut gw..homo itu memang seharusnya punya hak yang sama dengan hetero. mereka juga manusia yg pastinya punya hak eksistensial yg mutlak. memang sih, hak pribadi itu nantinya akan terhambat ketika berhadapan dengan hak-hak sosial di sekitarnya. namun dengan adanya hambatan yang sudah ada, lingkungan sosial tidak berarti boleh menjudge seenaknya tentang kehidupan pribadi mereka. mereka tetap harus diberi kebebasan untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.
sampai saat ini belum jelas benar apakah homo itu bisa diturunkan secara genetis atau semata2 karna lingkungan. maka dari itu sebaiknya jangan mati2an ngurusin hidup orang lain yang jelas-jelas bukan urusan kita. biarlah mereka sendiri yg ngejalanin, toh, dengan adanya perkawinan homo, kita tidak akan terganggu bukan??? tidak ada yg berubah pada diri kita sendiri kan??
soal adopsi anak, gw bilang juga ga masalah..
kita ambil contoh misalnya dorce. dy dulunya juga seorang pria. dy sempat menikah dan mengadopsi anak. lantas apakah buruk hasilnya? tidak. dy mengadopsi anak-anak yg kurang mampu untuk dididik dan dibesarkan. hal ini malah baik jadinya. memang ada resiko bagi anak untuk dicemooh oleh lingkungan. ini bukan salah anak ato orang tua homo. ini salah lingkungan yg sudah terlanjur menstigma kaum homo. padahal perbedaan hanya terletak pada gender saja yang sekarang sudah semakin tipis bedanya. dalam hal mendidik, belum tentu juga kaum homo tidak bisa. mungkin mereka malah lebih peka dan serius dalam mendidik anak. mereka mungkin juga benar2 menghargai arti seorang anak.
kita sebagai masyarakat yg berintelektual seharusnya memberikan empati yang besar kepada mereka. bukan malah semakin menyudutkan mereka. hidup mereka sudah penuh dengan penderitaan yang selama ini didapat dari lingkungan yang tidak berperasaan. lingkungan yg selalu mengumpat “bencong lu!”, “Dasar Banci! gak jelas!”. makian-makian kykgitu sudah sering kita denger. bahkan mungkin kata-kata itu keluar dari mulut kita sendiri. sanking seringnya kita jadi lupa kalau bagi mereka, makian seperti itu adalah hal yang luar biasa negatifnya. bagaimanapun, umpatan kykgitu adalah umpatan yang amat merendahkan martabat manusia.
ingat! manusia itu diciptakan Tuhan serupa dengan citra Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya. dan setiap manusia itu memiliki martabat yang sama. dengan adanya kekurangan dan kelebihan itu, hasilnya adalah pluralisme. dan dengan adanya pluralisme itu, kita seharusnya menghargai dan saling menghormati, sehingga pluralisme itu dijadikan sebagai pelengkap, bukan sebagai perpecahan.
kiranya kita semua bisa mengubah cara pandang kita terhadap kaum homo. lihatlah mereka sebagai seorang diri manusia yang SAMA seperti kita.
Comment by tika — September 9, 2006 @ 2:56 am
Sorry bgt sblmnya tiada kata u/ mengintimadasi di sini…Wah emang sey agak complicated cuma mnrt gw gak ad yang gak simple klo itu bukan dari diri qta sendiri yg bs menciptakan dunia ini sesimple mgkin trmsk “Hubungan Persatuan” ini kenapa sey mesti ribet. yg jls GAK BANGET ya, jelas ribet coz hub ini pd dsrnya lhr krn didukung bnyk fktr xternal, bkn yg Nature so.. knp jg maksa iya khan??!!eEeeiittTtt… bkn b’arti gak blh kagum n simpati sama sesama lho, hny sebatas itu. Thats it!!! Thankyuuuu….
Comment by ReEyAa — October 17, 2006 @ 3:19 pm
menurut pandangan saya, setiap manusia tentu harus memiliki kebebasan yang hakiki.. apalagi kita hidup berkebangsaan. susah juga menanggapi tentang masalah seperti ini. memang betul tak ada seorang yang mau terlahir sebagai seorang homoseksual. disatu sisi kaum homoseksual ingin mengasihi dan dikasihi seperti manusia normal yang lainnya, tapi disisi lain, keberadaan mereka belum diakui. tapi sekali lagi, saya ingin mengingatkan, dalam diri seorang homoseksual pastilah ingin hidup normal seoerti manusia pada umumnya. ada harapan dari mereka untuk hidup normal. tapi besar kecilnya harapan pada diri seorang homo berbeda. apakah harapan itu mampu membuat mereka merubah keadaan mereka atau tidak. kita tahu setiap aspek kehidupan pastilah tak lepas dari sebuah pilihan. termasuk apakah kita mau memilih menjadi seorang homo atau tidak.
selain hidup dalam satu bangsa yang demokrasi, jangan lupa, kita hidup dalam lingkungan bangsa yang menjunjung nilai-nilai agama. agama di jadikan sebagai pedoman dalam hidup setiap menusia. kita tak pernah lupa kalau setiap kehidupan tak kan berlngsung terus menerus. setiap ada awal pastilah ada akhir. sekarang bagaimana cara kita mendapatkan akhir yang bahagia saya rasa itu lebih bijak, terutama bagi seorang homoseksual. Manusia selalu diberkahi akal untuk selalu berfikir. jadi manfaatkan apa yang kita punya untuk kebaikan kita sampai akhir perjalanan.
perjuangan berat tetntu bagi seorang homoseksual, tapi itulah hidup yang penuh teka teki dan cobaan. tapi bukan kah kita semua mendambakan kebahagian di akhir untuk selamanya..
saya yakin dalam diri seorang homoseksual pasti ingin menjadi seorang yang normal.
sekarang, apakah dimasa tua nanti mereka masih akan bahagia ketika menjadi homo, atau justru penderitaan yang lebih mendalam yang akan mereka dapat.
sekali lagi, setiap manusia mempunyai perasaan dan akal untuk menjalani hidup ini. sekarang bagaimana dari masing masing kita menggunkannya dengan lebih bijak..
Comment by ikbal — December 12, 2006 @ 5:44 am
plz link my url.. its will make ur website better
Comment by aloysius — March 6, 2007 @ 6:29 am
bagi sebagian orang mungkin menganggap bahwa gay adalah sesuatu yang menjijikkan dan sangat tidak menyenakngkan sebab.taukah bahwa menjadi seorang gay bukab sebagai pilihan namun merupakan ketetapan.yang aku herankan kalo gay dilarang dan dikutuk kenapa tuhan menciptakan hal ini,bukankah itu merupakan hal yang aneh.?kadangkala seseorang megejek gay,padahal nmereka tidak tau bagai mana perasaan yang sebenarnya./
Comment by geo — March 16, 2007 @ 4:50 am
Hm…menurutku pribadi, ngga ada salahnya seseorang hidup secara homoseksual. Bagaimana pun mereka manusia. Masalah mengadopsi anak juga tidak masalah asal mereka bisa membesarkannya dengan baik dan memberi pengertian dengan lengkap dan perlahan-lahan mengapa keluarga mereka seperti itu. Lagipula setahuku, kadang perasaan pasangan homoseksual lebih kuat satu sama lain. Maksudku mereka lebih setia pada pasangannya (apalagi yang ‘menikah) dari pada pasangan heteroseksual…
Well, ini cuma pemikiran anak SMA sih…
Comment by Justine — April 26, 2007 @ 1:34 pm
sebagai seorang gay, wajar dong kalau aku bilang “way not”. kenapa tidak? orientasi sekskual bukan menjadi penentu bisa tidaknya seseorang untuk mendidik anak misalnya.meski itu bukan lahir dari rahim, karena “kami” emang ngak punya rahim.
cinta dan kasih bisa lahir dan tumbuh pada lahan apa saja. lahan subur, lahan gersang.tergantung sejauh mana kita telaten lerawatnya
Comment by irwan — May 3, 2007 @ 4:41 am
menurutku,hidup sebabagi seorang homoseksual adalah sebuah pilhan yang berat.karena masyarakat kita belum bisa menerima sepenuhnya kaum-kaum seperti mereka.jujur saja,aku juga termasuk di dalamnya.ya…aku seorang homoseksual.aku menyadari sendiri,kadang perasaan kita lebih peka dari pada yang lain.bagaimanapun juga kita tidak boleh menolak,jijik, atau menganggap mereka sampah..kita harus memberi mereka tempat karena mereka juga manusia yang punya perasaan dan juga punya hati.mereka ada disekitar kita.tak seorangpun,bahkan aku sendiri tidak ingin dilahirkan sebagai seorang homoseksual…
Comment by arie — August 25, 2007 @ 1:28 pm
menurut gue pribadi, walaupun saya gay, tapi gue tetap percaya atas norma etika dan moralitas kehidupan. Gue mencoba fantasi baru dengan hidup membujang. Gue kagak nyangka, di Amerika dan negara lain semua gay ingin supaya mereka dilegalitaskan. Tapi gue sebagai gay sendiri menentang aksi itu. Sekarang mari deh para kaum gay mengerti akan asas hidup yang bukan merdeka sebebasnya, bukannya gue memihak ke agama yah!
Comment by joshua frans — August 29, 2007 @ 2:30 pm
emang seh kehidupan gay itu menjadi tren masa postmodernisme sekarang. So, gue tetap menolak yang namanya perkawinan sejenis. Menurut Thomas Aquinas neh, perkawinan sejenis yang selalu identik dan identik banget dengan sodomi adalah “CONTRA NATURAM” (melawan kenyataan). So sekali lagi gue TETAP MENENTANG PERKAWINAN GAY. Kaum gay harusnya hidup membujang, kalaupun elo semua pada kagak nahan akan hasrat loe semua, coba aja dengan meditasi, yoga ato kalo elo masih beragama taat deh!
Comment by joshua frans — August 29, 2007 @ 2:35 pm
wah gawat neh , dunia dah kacau !!!!!!!!!!!!!!!
Urusan dengan perkawinannya aza dah buat repot seluruh pimpinan agama sedunia. Sekarang masalah “pungutan anak bayi” lagi. Emang manusia sekarang wong edan yah. Emang masalah gay ini makin lanjut aza , maybe urusan tren postmodernisme . But kagak boleh gitu donk! Entar anak bayi tersebut akan keganggu lagi psiko-nya. Khan masalah psiko yang paling menyeramkan , entar kalo anak bayi itu tau relatif dia akan menerima.
Comment by joshua frans — September 3, 2007 @ 2:33 pm
kalo menurut gw hidup ini adalah suatu pilihan.. kaum homoseksual memilih hidup bersama dengan lawan jenisnya.. hanya saja kita sebagai seorang yang hidup disuatu negara hukum,, seharusnya dapat menyetarakan hak yang sama bagi kaum homoseksual, karena kaum homo merupakan subyek hukum yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti kaum hetero.. jangan hanya mereka dituntut kewajibannya tetapi hak mereka terabaikan.. kalau soal adopsi anak dikaum homoseksual, memang hal ini agak kontroversial sebab hal ini berkaitan dengan psikologis anak yang akan diadopsinya.. seorang anak yang akan diadopsinya nantiu pasti akan bertanya2 mengapa kedua orang tua mereka sesama jenis.. oleh karenanya masih sangat disayangkan apabila seorang homoseksual mengadopsi anak, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau mereka menjadi seorang pendidik yang baik..
Comment by pupu — September 21, 2007 @ 8:50 am
untuk urusan pernikahan itu sebaiknya negara tidak mengurusinya… serahkan saja kepada lembaga keagamaan soalnya yang saya tahu agama manapun tidak ada yang membolehkan.. jadi kalo ada orang dewasa mau mengadopsi anak ya silahkan aja gak usah harus nikah dulu… kan gak ada aturan orang mau mengadopsi anak harus nikah dulu.. heee.. heee..
Comment by o riz qhan — October 5, 2007 @ 9:58 am
kadang,…diantara kita ada yg jijik dengan kehidupan gay,rasanya kereka harus dijauhin…tapi apakah mereka ga memikirkan betapa resiksanya hidup di dua alam,jujur…aku bingung kenapa menjadi sorg gay, aku ga memilih,perasaan itu datang dengan sendirinya…
Comment by lover — December 1, 2007 @ 8:33 am
perkawinan itu tidak akan tahan lama karna tuhan itu udah menciptakan kita berpasang-pasangan. dan tuhn akan menumbuhkan rasa cinta antara kita dengan pasangan kita yang berlainan jenis, tapi hal itu tidak akan dibrikan oleh tuhan antara pasangan sejenis, klo pun ada halitu hanya semu dan tidak akan berahan lama, saya udah buktikan hal itu, saya adalah seorang homosex, makanya saya bisa bicara demikian, saya udah merasakan hidup besama namun tidak pernah bertahan lama, karna pada prinsipnya kaum homo hanya ingin kepuasan sesaat.
aku yakin tuhan punya suatu rencana untuk saya yang tidak mungkin tuhan beri tahu saya saat ini, untuk para pembaca yang senasib dengan saya jangan pernah menyesal, karna tuhuan punya sesuatu yang tidak akan kamu duga2, tuhan punya alasan tersendiri kenapa kamu, anda sekalian yang senasip dengan saya diciptakan, sadarilah kamu adalah seorang laki2 yang tidak mungkinakan sama denagan wanita, walau kamu melakukan operasi tercanggih sekalipun, kamu tetap seorang laki2, tapi bersabarlah, karna hidup ini hanyalah perjalanan yang punya titik akhir dimana di titik akhir tesebut kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukkan………..
Comment by BUAH — December 26, 2007 @ 4:43 pm
kita hidup ini untuk apa sih, setelah hidup kita mau apa. Ngomong2 tentang Hak asasi manusia, jangan suka nuntut hak kalau belum melaksanakan kewajiban. Bicara dong yang keras tentang KEWAJIBAN ASASI MANUSIA,apa belum cukup pelajaran di Laut Mati. Allah itu Maha Pengasih kita tidak di azab sebagai kaum Luth itu lho menyelam kek ke laut mati sana. HAK ASASI MANUSIA, HAK ASASI ALLAH TAHU!!! Makanya puasa menundukkan pandangan bukan hanya pada lain jenis juga sesama jenis. ALLah itu menciptakan Aturan yang membawa kita kepada kehidupan yang paling baik. Memangnya manusia itu binatang?? binatang aja tidak ada yang mau sama sesama jenis, memang manusia itu makhluk Allah yang suka menentang/membantah. Buktikan aja deh kalau sudah mati. Baru tau rasa. Mau tunggu kalau mati.
Comment by susilorini — June 9, 2008 @ 3:17 pm
menurut ku sih jadi gay itu buat senang2 doangk koo
Comment by shony — July 7, 2008 @ 7:35 am
jelas kemampuan pasangan homoseksual untuk mengasuh anak sangat diragukan.
hal tersebut dikarenakan orangtua merupakan role model utama bagi anak mereka.
Anak jelas membutuhkan figur seorang ibu dan seorang ayah.
Anak ppun perlu mendapat pendidikan mengenai orientasi seksual dari para orangtuanya.
Apabila orangtua memiliki kelainan orientasi seksual, maka kemungkinan bagi anaknya untuk memiliki orientasi seksual yang menyimpang pun besar.
anak yang memiliki orang tua dengan orientasi seksual yang sesuai dengan gendernya saja banyak yang mengalami penyimpangan orientasi seksual karena kurang tepatnya sistem pendidikan dan pengasuhan yang ia dapat di rumah, apalagi bila anak tersebut memiliki orangtua yang memiliki penyimpangan orientasi seksual????
kita sebagai manusia memang tidak berhak menjudge suatu hal tanpa adanya acuan yang jelas mengenai hal tersebut. Namun kita wajib berjuang untuk meminimalisir kekacauan di bumi.
Comment by wulan — September 4, 2008 @ 6:03 am