Mungkin ada yang menganggap membaca karya Tolkien sama saja dengan membuang-buang waktu, karena kedetilan si penulis dalam karya-karyanya.
Hobbit (”The Hobbits”) diperuntukkan untuk bacaan anak-anak, buku yang tak kalah bagusnya dengan “Lord of the Rings”, namun yang saya rasakan special dalam buku ini adalah penyampaian dongeng atau cerita untuk anak-anak dengan tidak memperlakukan anak-anak seperti orang yang terbelakang.
Bagaimana ya cara menjelaskannya? Tolkien menceritakan petualangan Bilbo Bolson apa adanya, namun bisa membawa pembacanya ke dunia yang dia ciptakan sendiri seakan-akan nyata.
Adanya mahluk-mahluk jahat yang memakan mahluk lainnya, desa yang harus mengungsi karena keganasan naga-naga, lelahnya pergi berpetualang, dll. Selain juga diceritakan kegembiraan ketika selamat dari bahaya, indahnya tidur di padang rumput sambil memandang bintang-bintang di langit.
Karena kedetilan Tolkien pada mahluk-mahluk maupun benda-benda yang diciptakannyalah yang membuat kita seakan-akan percaya dan terbawa masuk pada dunia Tolkien.
Bagaimana dia menggambarkan keadaan para petualang mengingatkan kita pada petualangan kita sendiri, saat bangun tidur di alam terbuka, yang tersisa hanyalah daging panggang yang dingin dan mulut yang sepat.
Ketika kita belum sempat berbenah diri dan bangun dari tidur kita, teman-teman yang lain sudah siap untuk bergerak lagi menuju tujuan akhir dengan ransel yang seberat gajah di punggung, betis yang membengkak, perut yang keroncongan dan belek di mata…Tepat saat Bilbo Bolson merindukan kenyamanan berada di rumahnya daripada pergi berpetualang dengan para kurcaci.
Kebetulan Hobbit yang aku baca diiringi oleh anotasi oleh: Douglas Anderson di mana di buku ini, ditampilkan pula ilustrasi-ilustrasi tentang Hobbit dari berbagai negara. Selain itu pendapat maupun penjelasan dari Tolkien yang di buku-buku lain tidak dipublikasikan, hasil dari surat-suratnya, catatan-catatannya, dll.
Aku sendiri dinasihati untuk pertama membaca “The Hobbit” kemudian baru membaca trilogi “Lord of the Rings” , karena keruwetan dongeng tersebut.
Namun ternyata membaca Hobbit pun menyenangkan, sama sekali tidak kekanak-kanakan walaupun itu buku untuk anak-anak.

aku kenal istilah hobbit dari lord of the ring, selain itu gak tau
Comment by Imponk — May 24, 2005 @ 3:49 pm