Ini cerita waktu aku berada di SMP jaman baheula. Liburan di mulai, dan seperti layaknya orang-orang miskin, liburan tidak ke mana-mana, di rumah saja, karena kedua orangtua ku pun bekerja. Namun, aku itu orangnya ga bisa diem dan nekat, akhirnya setelah memaksa ibuku untuk memberi izin pergi ke Yogya sendirian, oom dan ibuku pun mengantar diriku ke stasiun Gambir.

Dadakan, sore itu kami berangkat ke stasiun dari rumah nenekku di Grogol. Ternyata sampai di stasiun yang penuh, tidak tersisa kelas bertempat duduk, adanya kelas berdiri- katanya. Aku yang waktu itu berumur sekitar 13 tahun, masih hijau, memaksakan diri untuk pergi walaupun harus berdiri!!!!
Nekat….

Setelah lambaian tangan “Adios”, ternyata kulihat, kondisi kereta cukup menyedihkan, jorok, kotor, tua, dan penuh!
Ternyata yang namanya tiket berdiri itu, si pemegang tiket bisa duduk di lantai kereta. Akupun diberi tempat oleh seseorang untuk duduk di bawah lantai.
Kala itu, tak lama setelah kereta keluar dari stasiun, kami sedang melewati perumahan gubuk di kedua belah sisi rel. Di sebelahku ada mba-mba yang duduk dan terlelap. Namun tiba-tiba, ada satu tangan yang berasal dari luar kereta, benar! dari luar kereta yang menjambret tas si mba yang tergantung di dinding kereta, di pertengahan antara 2 jendela. Dengan cepat, tas itu dijambret, keluar dari kereta dan orang-orang pun lantas ribut.
Si mba yang terbangun dan tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia menangis tersedu-sedu. Katanya, habis sudah gajinya menjadi pembantu di Jakarta selama setahun.

Perasaanku pun jadi terharu dan rasa ingin menangkap penjambret tak tau malu itu.

Sekitar 10 menit kemudian, seorang laki-laki memasuki gerbong kami sambil menjijing tas perempuan berwarna hitam. Ia bertanya-tanya pada orang-orang digerbong, siapa pemilik tas tersebut. Lalu setelah diberitahu oleh orang-orang, ia pun menghampiri si mbak dan mengatakan bahwa dia telah berhasil menemukan tas itu yang ditinggalkan oleh si penjambret.

Tentu saja uang yang berada di dalam tas itu telah lenyap, seperti lenyapnya pria itu dari gerbong kami. Lalu orang-orang pun ribut, menuduh pria itu sebagai copetnya.

Perjalanan terasa lama dan panjang. Aku tidak berani masuk ke WC kereta, melihat dalam gerbong saja sudah apatis, apalagi harus menengok WC-nya. Seingatku ketika masuk stasiun Cirebon, aku sempat turun untuk pergi ke WC.

Belum lagi di tiap stasiun, kereta berhenti dan mulailah pedagan asongan berjejal masuk. Aku yang duduk di lantai kereta, harus menahan aroma emak-emak penjaja nasi yang melangkahi diriku tiap kali dia lewat menawarkan dagangannya. Ya Tuhan….

Pagi hari berikutnya, kereta itu sampai di Yogya.

Di stasiun yang pertama aku lakukan, lagi-lagi mencari WC, karena selama di kereta aku tak berani pergi ke WC.

Setelah mengobservasi situasi stasiun, aku pun keluar dan berjalan kaki, dengan keinginan menyusuri Malioboro yang terkenal itu.

Sambil berjalan tenang, keluar dari stasiun yang sama, aku ditemani oleh 2 orang tak dikenal.
Mereka bertanya ke mana arah tujuanku.

Mereka kaget ketika kukatakan bahwa aku sendiri saja dan bermaksud menginap beberapa hari di Yogya. Mereka adalah Rudi dan Dadang, 2 pemuda asal Bandung. Mereka memaksaku untuk menemani diriku selama di Yogya, karena mereka pikir seorang perempuan TAK LAYAK untuk pelesir sendirian dan sangat berbahaya.

Aku berusaha untuk meyakinkan mereka bahwa aku cukup dewasa untuk menjaga diri dan merasa tak perlu keberadaan mereka di sekelilingku.

Akhirnya, perjalananku ke arah Malioboro dikuntil oleh 2 pemuda itu. Gosh…hate this you know.

Kamipun akhirnya akrab berjalan-jalan sambil ngobrol. Rudi bermaksud untuk kuliah di Yoyga dan Dadang ikut menemaninya sambil mencari tempat kost dan sebagainya.

Setelah melewati Malioboro, aku pun lantas mencari rumah saudaraku di daerah keraton. Sebetulnya mereka tidak tinggal di Yoyga, namun aku diberi izin untuk menginap di salah satu rumah mereka yang hanya ditempati oleh seorang pembantu dan keluarganya.

Rumah itu cukup besar, dan kamar mandinya berada di luar rumah. Rudi dan Dadang menemaniku sampai masuk ke dalam rumah.

Hal pertama yang aku lakukan setelah bersalaman dan berbasa-basi dengan penghuni rumah itu, adalah mandi. Kedua temanku menunggu sementara itu. Kemudian kamipun melanjutkan petualangan kami di Yogya.

Aku juga akhirnya sempat menemani Rudi ke daerah kost, sana sini naik angkutan umum. Hal yang paling aku sukai adalah makan gudeg dari mbok-mbok di jalan, agak jorok tapi tak ada bandingannya.

Terus terang, sebagai perempuan dengan umur yang sangat belia, aku agak risih ditemani teman laki-laki. Biasalah, jaman itu aku merasa aneh dengan keberadaan teman laki-laki, apalagi mereka terlalu baik dan ingin melindungi. Aku itu orangnya ingin bebas dan senang pergi sendirian. Mereka sebetulnya agak mengacaukan rencanaku di Yogya, namun tak apalah.

Malam hari, aku mencoba jalan-jalan sendirian ke Malioboro. Senang rasanya bebas, tanpa harus kompromi dengan seseroang untuk memutuskan tujuan dan apa yang akan dilakukan.

Yogya yang sekarang tidak sama dengan Yogya yang dulu. Kini kota itu sudah dipenuhi sepeda motor.

Terus terang, waktu pertama kali itulah aku temui kota Yogya yang unik. Untuk seterusnya, tidak lagi. Namun aku tetap menyukainya.

Suatu saat, ketika aku melewati alun-alun, ada satu pencukur rambut untuk laki-laki, yang berbisnis di bawah sebatang pohon. Kalau di salon-salon terpajang foto model rambut yang kamu inginkan, di sini, si pencukur menggambar sendiri model-model yang dia tawarkan. Ada 6 model dan dipajang dalam satu lembar A3. Aku tersipu-sipu melihatnya, namun kagum juga atas kreatifitas bapak tersebut.

Terakhir kali ke Yogya, aku pergi dengan sahabatku, temen SMP juga, Riama.
Kami sengaja memilih hotel dengan kolam renang, hanya untuk betul-betul bersenang-senang dan menikmati liburan. Kami sempat juga pergi ke salon untuk creambath. Belum lagi belanja sana sini.

Kami juga sempat menginap satu malam di Kaliurang, di satu rumah yang sederhana. Malam itu hujan deras. Yang kami lakukan adalah mengobrol sampai subuh, sampai mulut kaku dan capek. Kemudian paginya jalan-jalan ke hutan diantar oleh seorang tukang ojek yang ramah, yang istrinya adalah pemilik warung.

Mereka menyediakan sepiring nasi goreng, super lengkap, lezat, dan hanya 6000 rupiah, kamipun terbengong-bengong.

Nah itulah Yogya, bisa makan murah dan sekenyang-kenyangnya.

Pernah juga aku makan di tempat kost mahasiswa, diajak oleh Paulus, senior kami, sebelum naik ke Merbabu.
Nah kalo ini jaman aku SMA, sekitar tahun 92 lah. Makan, ambil ini itu sampe kenyang, taunya cuma lima ratus perak!!!

Itu namanya baru Paradise! dalam soal makanan dan warung murmer, Bali kalah. Yogya masih lebih lezat.

Miss u Yogya, miss u Indonesia.