Sedih memang jika seorang perempuan memutuskan untuk mempunyai bayi sebelum umur menebas lehernya. Seperti diriku. Tidak munafik untuk menyadari hal ini.
Betul. Mulai tahun ini aku memutuskan mencoba untuk hamil.
Namun ternyata, keinginan akan datangnya seorang anak telah merubah diriku sejak detik pertama aku putuskan untuk mempunyai seorang anak. Ilusi menggendong mahluk kecil yang akan berasal dari diri dan pasanganmu. Emosi, dan berubahnya perbincangan antara suami dan istri ketika berbicara tentang proyek yang comun, umum dan melibatkan kedua belah pihak.
Seakan perempuan dan laki-laki saat itu berbicara dalam bahasa yang sama dan saling mengerti.
Keinginan akan datangnya seorang manusia kecil bisa mengisi hari-hari kami dengan perbincangan yang menyenangkan, timbulnya rencana dan ide-ide gemilang, warna-warna yang tidak pernah sebelumnya dibicarakan, ilusi untuk terus hidup dan berjuang.
Suatu enerji yang mengisi tubuh ini untuk terus melalui kehidupan dengan suatu arti yang alternatif.
Namun bisa mengimbangi motivasi untuk berjuang menghadapi kehidupan, menyalurkan ide dan pengetahuan kita kepada mahluk yang akan kita jaga, kembangkan, didik dan tentu yang paling kita sayangi.
Mungkin sudah saatnya, mungkin keputusan ini berasal dari mekanisme dalam tubuh kita. Mungkin juga kesiapan dan kedewasaan diri kita, juga dia dan aku sebagai satu tim, pasangan yang boleh dibilang stabil.
Hanya aku harapkan karuniaNya dan pertolonganNya.
Selebihnya, biar alam yang berbicara.
Untuk anakku dimanapun kau berada, kami siap akan kedatanganmu.
:)
