Baru-baru ini ada berita kambing berkaki tiga di Bogor. Ada juga kambing tanpa kepala. Ada pula sapi berkepala dua.
Yang jelas mutasi-mutasi yang dialami binatang-bintang ini masih dianggap sesuatu yang super aneh oleh masyarakat awam di negara kita.
Dengan cepat berita keanehan itu akan tersebar, dan berbondong-bondong orang-orang akan datang melihat binatang yang malang itu.
Lucunya, kata si pemilik kambing berkaki tiga, ‘Kambing ini hanya suka roti dan kerupuk’
Alah alah…..aku jadi tersenyum-senyum membaca berita ini.
Dulu, jaman aku SD, kebetulan aku tinggal di daerah ciputat. Nah, di Danau Situ Gintung, terjadi perpindahan tanah, entah tidak jelas apa beritanya. Saya pikir adanya tanah yang mengapung di air, seperti pulau kecil.
Yang jelas satu kampung geger, padahal beritanya tidak jelas, keanehannya tidak jelas pula.
Akupun jadi penasaran dan ikut-ikutan mengunjugi tempat itu. Walhasil aku tidak berhasil melihat apapun sanking banyaknya “peziarah” di tempat itu.
Mungkin pendidikan di negara kita masih menyentuh hal-hal yang superficial dan yang tidak berguna. Mungkin juga masih kuatnya budaya tahayul dan yang berbau mistik.
Yang salah terkadang massmedia yang mengebar-geborkan berita tak berfondasi. Kali ini Kompas menyisipkan penjelasan seorang ahli biologi. Dan masalah selera makanan si kambing itu, ya salah pemiliknya yang kebiasaan ngasih kerupuk dan roti, bukan suatu keanehan.
Mutasi terjadi ketika terjadi kesalahan dalam penyalinan rantai-rantai genetis itu. Mungkin akan aku bahas lain kali. Sambil mengulang-ulang pelajaran yang lalu….
ttd.
Kambing berkaki tiga
:))
