perempuan, masalah sosialApril 15, 2005 1:21 pm

Ibuku dan ibu ibu wanita karir lainnya berhasil membesarkan anak-anaknya terima kasih atas bantuan dari para Pembantu Rumah Tangga.

Siapakah sebenarnya atau bagaimana profil para Pembantu Rumah Tangga? (mari kita singkat menjadi: PRT). Sebagian besar dari mereka adalah: Wanita, dari berbagai usia, berasal dari desa-desa kecil di Jawa, dari kalangan sosial menengah ke bawah, kebanyakan berpendidikan hanya sampai sekolah dasar.

Kondisi bekerja sebagai PRT di negara kita sangat buruk: tanpa kontrak, tanpa jam kerja yang jelas, tanpa adanya limitasi pekerjaan, gaji yang rata-rata kecil, hari libur yang tidak jelas, dst.
(more…)

manusia/renungan 10:47 am

Tulisanku yang pertama sebenernya sih rada GADO-GADO banget, bahasannya agak melebar (karena ya itu, pas nulis pas banyak masuk ide atau inget tema ini itu). Namun rupanya ada beberapa tanggapan dari beberapa teman-teman, jadi aku merasa tulisan ini memang berguna untuk ditelaah dan dibahas bersama-sama.

Hampir seluruh penduduk di negara kita, menganut suatu agama karena orangtua mereka- nenek moyang mereka menganut agama tersebut. Hingga aku pikir, solat ataupun misa ataupun apa namanya di agama lain, pertama-tama kita lakukan karena adanya “kebiasaan” dalam keluarga dan masyarakat, juga karena “diwajibkan” oleh orang tua.

Tanpa sadar, mungkin ibadah kita dari sejak kecil tidak berubah. Tentu saja ada orang yang ingin menggali lebih dalam pengetahuan agama atau ibadahnya, namun banyak juga orang yang merasa kalau tidak melakukan ibadah itu, dia merasa tidak enak dengan orang tua, Pak Aji tetangga sebelah, ataupun orang yang dia taksir. Hingga ibadah sudah menjadi “kebiasaan” yang diwajibkan.

Seperti kata Meldy, dalam bahasan “Tuhan-Manusia” (liat di category: My Favorite):

Ketika suatu masyarakat mulai membiarkan gejala kemunafikan dan kekorupan –dengan menganggapnya sebagai sesuatu yg wajar— dan mulai cenderung untuk mengangkat dan menerimanya menjadi suatu “kode sosial” yang baru, maka kata kejujuran dan ketulusan bak kehilangan makna

Sebenernya masalah ini juga menjadi masalah saya sendiri, pertanyaan saya. Kita umat islam diwajibkan solat 5 waktu, terkadang saya akui sejujurnya sebagai manusia, ada waktu-waktu di mana saya ingin mendekatkan diri dengan Tuhan, lalu ada pula waktu di mana saya khilaf. Ketika sedang khilaf, artinya bukannya tidak tahu kalau itu salah, saya sadar kalau hal itu salah, yang tidak mau saya lakukan adalah solat dengan perasaan terpaksa. Saya merasa munafik dan merasa solat itu tidak ada gunanya karena tidak diiringi oleh konsentrasi, hati yang lurus dan keinginan dekat denganNya.

Sedangkan solat 5 waktu itu W A J I B.

Tentunya seribu kali lebih bagus seseorang yang beribadah dan hasilnya terpancar dalam kehidupannya sehari-hari.

Tapi sungguh buruk jika seseorang yang terlihat berkecimpung dalam peribadahan, tidak mengindahkan ajaran yang diterimanya, ngga usah jauh-jauh misalnya: hidup mewah, atau berani menjadi wakil rakyat- setelah terpilih- melupakan janjinya, atau menerima sogokan yang akhirnya hasil dari perbuatannya itu merugikan banyak orang, etc.

Ada banyak orang yang tidak menyadari - atau dia menyadarinya namun antara ibadah dan perbuatan buruk bisa dijalankan bersama-sama, namanya- mungkin, munafik?

Untuk rekan Imponk, saya tidak mengkaitkan agama dalam hal ini, namun faktor manusianya yang menjalankan ibadah/ajaran agama tersebut.

Lihat saja di semenanjung Arab sana, walaupun rasulallah berasal dari sana, bukan berarti masyarakat sana sudah benar-benar menjalankan Islam yang benar.

Tidak adil juga jika aku hanya menyalahkan fungsi ibadah. Ibadah umat mungkin akan terlihat hasilnya jika para pemimpin bangsa sudah bersikap adil, sudah bisa melindungi rakyat, adanya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat, dst.

Mungkin dikarenakan juga adanya keputus-asaan di masyarakat. Tidak adanya tatanan sosial yang adil dan merata. Hingga tentu yang miskin merasa perlu berbuat sesuatu karena si penguasa bisa berbuat segalanya – itu baru namanya adil- begitu mungkin pemikiran mereka.

Mungkin masyarakat sudah disibukkan dengan peliknya kehidupan sehari-hari, hingga kesempatan untuk belajar dan mencari jalan yang benar terlupakan.

online