Aku baru aja kemaren ini ngobrol-ngobrol sama temen, orang Jakarta. Katanya dia baru ditinggal pacarnya yang akan menikah dengan seorang pria tua beristri.

Mula-mulanya sih aku kasihan juga, tapi udah ngobrol-ngobrol lama dianya ngaku sebenernya sih bukan pacaran yang biasa-biasa aja yang dia alami dengan cewek ini, tapi sex-nya - katanya yang paling berkesan.

Kali ini aku sudah siap mental dengan cerita teman-teman dari Jakarta yang lebih modern daripada orang-orang bule. Istilah mulai dari one night stand lah (not really understood what it means), clubing, dan seterusnya.

Terus katanya, cewek itu paling-paling ninggalin dia karena si bapak-bapak ini mungkin kaya, padahal perut buncit dan muka jelek.

Lalu aku bilang, “kalian-kalian ini yang di Indonesia, ngaku-ngaku muslim dan solat 5 waktu, tapi kok nanti sambil berzinah juga, selingkuh juga”.

Kata temanku, “Yah, mendingan solat dong daripada ML (singkatan dari: Making Love) trus solatnya ngga!”.

Aku cuma geleng-geleng kepala, no comment!

Ya mau kasih dia support males juga (hei dude, if you accidentally read this, i’m talking freely), aku bilang aja,
“Ya kamu waktu mencari pacar persepsi kamu apa? kalau yang kamu cari sex bebas, ya kamu dapetin perek. Kalau kamu mencari seorang istri, ya carilah perempuan yang kira-kira bisa menjaga diri. Apa yang kamu cari apa yang kamu dapat”.

Cewek itu (ex-nya) tentu seorang cewek yang objektif. Mungkin dia hanya mau sex, lalu dia telah mendapatkannya. Kemudian dia berganti tujuan, kini dia mau uang, ya akhirnya dia menyangkut di lengan seorang pria mapan- ngga penting sudah beristri atau tidak, yang penting dia mendapatkan jatahnya.

Sekarang temanku itu sibuk berpikir, dia sebenernya sudah merelakan kepergian “kekasihnya”, namun dia bertanya-tanya, apakah mantannya suatu hari nanti akan mendapat ganjaran yang setimpal? apakah suatu hari nanti Tuhan akan membalasnya dengan merasakan perasaan yang sama seperti yang dialami temanku ini?

Lalu dia bertanya kepadaku sembari menuggu sebuah konfirmasi.

Bagiku tidak penting apakah orang itu akan mendapat ganjaran yang setimpal atau tidak, siapalah aku ini untuk berbicara meng-iya-kan bahwa orang itu akan mendapat ganjaran? Katanya sudah ikhlas? katanya percaya Allah Maha Adil? Temanku juga mantannya sama-sama manusia, yang bisa berbuat kesalahan.

Nah, sebenarnya kontroversi yang ingin aku tampilkan di sini ya solat temanku itu loh. Ada banyak orang-orang yang katanya solat (dengan kata lain berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa), namun di luar itu nyambil, nyambil zinah, selingkuh, korupsi, nipu, dan seterusnya.

Maka perlukah solat? apakah fungsi solat? mungkin bukan solat saja, namun juga untuk umat-umat lainnya. Bisakah aktuasi berdoa/solat sejalan dengan perbuatan yang dilarang oleh Tuhan?

Terkadang orang-orang yang TIDAK solat maupun pergi ke misa, TIDAK berbuat dosa, di antara mereka ada orang-orang yang baik, menolong sesama, dst. tanpa didasari oleh suatu ideologi tertentu.

Seharusnyakah orang-orang yang solat, moralnya dapat dipertanggungjawabkan?

Belum lagi nanti jawaban mereka yang katanya solat, “lah…itu kan godaan setan?”. Memang bisa memberikan alasan itu (kalau setan memang ada), tapi toh, kalian-kalian yang berkutat di ceramah-ceramah atau pengajian SUDAH TAU sebelumnya kalau zinah itu dosa, selingkuh juga dosa- mari kita ganti kata dosa dengan “perbuatan buruk”.

Misalnya seseorang yang atheis, sebut saja si “Max”, dia tau, bahwa jika dia mengkhianati istrinya dengan berselingkuh dengan orang lain, hal itu adalah perbuatan yang buruk, jika istrinya mengetahui, dia akan menghancurkan hati istrinya, orang yang dia sayangi, maka Max memutuskan untuk tidak berselingkuh.

Nah apa bedanya orang muslim yang sudah berkali-kali diceramahi, ikut pengajian, solat sunat segala, haji, ini itu, lalu ternyata korupsi, zinah, dsb.
Inilah yang patut dipertanyakan. Bukannya mau mengkritik orang muslim saja, tetapi kepada orang-orang yang katanya “beribadah”.

Yang saya takutkan, bila solat yang katanya “mendingan solat”, nantinya tidak berguna karena dinodai “sambilan-sambilan” yang dia kerjakan. Hanya Tuhan yang tahu.

Kalau tidak salah pernah ada ceramah di SMA 70 yang intinya ini, namun sayang saya tidak bisa hadir karena jarak yang terlalu jauh….

Mungkin juga semua ini tidak ada hubungannya dengan solat/doa, mungkin hubungannya dengan budaya orang-orang Indonesia.

Ada budaya: jorok (buang sampah sembarangan), serakah dan kemewahan (acara prasmanan yang tak kunjung habis, pesta2 pernikahan yang megah bagaikan pesta kerajaan), budaya banyak anak, budaya jam karet (alias datang terlambat), budaya tidak disiplin (di jalan raya), budaya semaunya (lagi-lagi di jalan raya dan tempat umum, tidak mau ngantri aka budaya serobot), dan seterusnya dan seterusnya (termasuk korupsi, naik haji dengan duit negara, tipu sana sini).

Walhasil dari seluruh negara-negara Asia, Indonesia termasuk yang paling buntut. Padahal potensi untuk maju besar.

Budaya Mewah bisa dilihat dari fasilitas wakil-wakil rakyat. Kenapa kok negara miskin, wakil rakyat punya mobil mewah, rumah dinas mewah, rumah pribadi mewah juga, dst. Siapa toh yang merancang semua ini? orang yang katanya memikirkan wong cilik?

Budaya Indonesia menghalangi kemajuan bangsa? Bagaimana merubah budaya ini agar menjadi budaya maju dan menguntungkan bangsa?

bersambung (udah pusing).