Judul ini diambil dari ingatan ketika aku dan keluarga oom ku sedang membeli pisau swiss, penjualnya orang belanda yang pernah tinggal di Indonesia, tepatnya di Batavia. Ia masih mengenang tempat tinggalnya di daerah kota, di daerah gang Sahari kalau ngga salah, kemudian dia melantunkan sebuah lagu yang melankolis bagiku: “Gado-gadonya bung! dari Jakarta….”
Seorang Belanda yang mencintai Indonesia, Batavia sebagai tanah air keduanya.
Tentunya Batavia yang dulu, bukan Jakarta yang metropolis. Batavia yang didekorasi oleh rumah-rumah betawi yang sederhana dan berhalaman luas. Batavia dengan penduduknya yang ramah dan lugu. Bang Majid, tukang kayu yang sederhana dan tampan a la betawi, Pak Uham, seorang ahli bangunan yang selalu bersepeda setiap hari menuju tempat kerjanya, pekerja keras, selalu sederhana dan ramah kepada setiap orang. Bang Roji, anaknya pak dan bu Isa pemilik warung di Pondok Pinang, yang selalu melayaniku dalam pembelian jajanan jaman TK, pak dan bu aji (haji), tetangga di depan rumah yang sering kami kunjungi dan selalu memberiku cemilan khas betawi dan sirup…
Ternyata tidak penting siapa kamu, pangkat kamu, dari mana keluarga kamu berasal. Orang-orang yang baik, ramah dan murah senyum akan selalu diingat sepanjang masa.
Orang-orang yang tetap mempertahankan karakter mereka yang suka menolong, baik hati dan murah senyum, walaupun hidup ini dipenuhi kekejaman, pengkhianatan, penipuan dan sisi-sisi gelap lainnya.
Mungkin karena itu perlu adanya konsep neraka dan surga, dosa dan pahala, baik dan jahat, jujur dan tipu daya. Perlu adanya Tuhan yang Maha Kuasa, yang nantinya setelah semuanya berakhir akan berbuat adil terhadap seluruh mahluk hidup.
Pagi ini aku baru menyadari kenapa berjuta-juta orang ingin memberi penghormatan terakhir kepada Sri Paus. Aku tidak mengerti apakah dia bisa dibilang seorang suci, tidak penting bagiku, ia hanyalah manusia biasa seperti kita. Namun ada banyak orang di dunia ini yang perlu percaya akan adanya orang yang suci, orang yang mereka anggap akan bertemu Tuhan dan akan menempati sebuah surga. Banyak orang yang perlu percaya kepada Tuhan (entah dengan nama Allah, Yahwe, Dewa, Yesus, nama tidaklah penting), seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, aku rasa tidaklah gampang bagi mereka hidup di dunia ini, mereka harus memaksakan logika dengan keadaan dunia yang sering kali tidak masuk logika.
Juga tentang beberapa senator sayap kiri di parlemen spanyol yang tidak berdiri untuk hening semenit dalam rangka penghormatan kepada Paus, saya rasa tidaklah pada tempatnya, tidak sopan. Saya rasa menghormati seseorang yang dulunya pemimpin umat katolik, kepala negara, tidak ada hubungannya dengan ide-ide politik maupun kepercayaan yang kamu miliki, jadi hormatilah orang tersebut.
Terkadang ada pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku yang tidak terjawab sampai sekarang. Ada pula yang lama terjawab, lalu tiba-tiba ada sebuah “ilham” yang datang dan menjawab pertanyaan –pertanyaan benang kusut itu.
Tulisanku kali ini bernada positif, optimis. Aku baru saja mendapatkan sebuah “ilham” bagaimana cara menghadapi hidup ini. Mungkin juga karena membaca tentang sebuah kisah seorang imigran Jawa yang tinggal di pulau Nias yang baru saja mengalami gempa. Ibu miskin itu kehilangan rumahnya, suaminya yang tukang becak juga kehilangan becaknya yang belum lunas. Kini mereka ditampung oleh asosiasi Oxfam.
Namun apa kata ibu itu: “Saya harus menerima apa yang telah terjadi. Saya mencoba tersenyum dan tertawa, supaya awet muda. Dan saya bisa tersenyum malam ini karena malam nanti keluarga saya bisa makan nasi”.
Saya jadi terdiam, menitik sedikit air mata dan berpikir.
Hari ini harus dimulai dengan pikiran positif.
Tidak penting siapa kamu, apa yang kamu punya. Setiap individu punya misi tertentu di dunia ini, setiap individu dan lingkungannya, reaksinya. Sekarang tergantung reaksi tiap individu, reaksi yang bagus dan baik akan baik imbasnya kepada lingkungannya. Reaksi yang buruk, buruk juga akibatnya ke lingkungan.
Kamu boleh pilih, jadi orang pesimis atau optimis. Jadi orang yang selalu manyun atau orang yang murah senyum yang akan dikenang sepanjang masa (walaupun orang yang mengenang itu tidak mengekspresikanya). Orang yang sedia menolong atau orang yang pasif, hanya melihat saja.
Dunia tidak akan berubah tanpa kamu. Kamu bagian dari dunia.
Belum lagi katanya, ada bumi-bumi lainnya di luar sistem matahari kita. Kita mungkin tidak sendirian.
Mungkin pesan positif ini sejujurnya ditujukan pada diri saya sendiri, yang bersifat pesimis. Hm…
Saya rasa cukup sampai di sini dulu gado-gadonya. Jika Tuhan ada, siapapun namanya, bisakah kita berkenalan lagi? terimalah senyumku hari ini. Aku berjanji, hm…mungkin kamu sudah bisa membaca apa yang ada di hatiku.