asem manis asinApril 7, 2005 5:14 pm

Apa yang membuat kamu begitu positif ? dinamis? dipenuhi oleh ide-ide yang tentunya, lagi-lagi positif ?

Naga yang kini yakin akan keberadaan Tuhan? Naga yang tidak sedih? tidak berada dalam guanya? Naga yang antusias, tidak mendendam dan marah-marah? Naga yang apinya sedang padam? Naga yang pop dan tidak lagi gotik dan sinister?

Mungkin musim semi yang mempengaruhi organ-organ tubuhmu?
Mungkin kau baru saja ditempeleng oleh sesuatu yang sangat SUPERIOR? (maha kuasa)
Mungkin otakmu terciprat pemutih pencuci baju?
atau apa?

Terkadang ketika kau marah, kau lebih senang berpikir, Tuhan tidak ada. Kalau Tuhan ada, kenapa semua menjadi salah dan rusak?
Ketika kau senang, Tuhan juga tidak ada, karena kesenangan adalah kondisi yang berdiri sendiri, tanpa adanya karunia Tuhan.

Kini kau lebih senang berpikir bahwa Tuhan ada. Entah mengapa? entah sejak kapan?

Seperti yang aku sebut di pos sebelum ini, hidup di dunia ini menjadi lebih mudah ketika kau percaya akan keberadaan Tuhan Semesta Alam.

Tidakkah kau malu? hina? coreng moreng di mukamu?

kontinyu, mungkin…

asem manis asin, My Favorite 4:11 pm

Hari ini aku baru aja ganti template blogku, sengaja pilih template ini, kelihatannya keren, universal, lebih dari sekedar mendunia, menggalaksi.

Juga dalam rangka penemuan planet-planet di luar sistem solar kita oleh para ahli belum lama ini.

Dulu jaman SMA, tahun 90-an, bayangin kita tentang tahun 2000 itu berbeda sekali, bayangin dan pertanyaan saya, apakah kehidupan kita nanti sudah seperti di film Star Trek? Sudah ada hubungan planet-planet antar galaksi? kesatuan civilisasi di bawah suatu federasi? hubungan antara manusia dan mahluk-mahluk aneh seperti Klingon- mungkin? atau penghuni Mars yang berwarna hijau dan bertubuh pendek? Pesawat-pesawat yang indah seperti Enterprise-nya kapten Jean-Luc Picard? ha ha ha…

Ternyata tahun 2000 manusia belum mempunyai teknologi sejauh itu. Kita masih saja bertanya-tanya, “adakah kehidupan di luar bumi kita?”

Saya optimis akan perkembangan teknologi dan penjelajahan manusia ke luar bumi, walaupun tentu memakan waktu dan biaya yang besar. Sampai saat ini kita masih berhipotesis tentang adanya kehidupan di Mars di masa lampau.

Kalau pengetahuan yang kita punya, sampai saat ini mengatakan bahwa sumber kehidupan adalah air, apakah jauh di luar sana, kehidupan bisa dimulai dari sesuatu yang “mirip” dengan air, ataupun mungkin bukan air? mungkin teori di bumi tidak dapat disamakan dengan teori di alam yang lain, mungkin?

Bagaimana awal dari segalanya? mungkin sulit bagi para ahli mengatakan, adanya Tuhan dari tidak ada menjadi ada.

Tahun berapakah Adam turun ke permukaan bumi? apakah ada Adam-adam yang lain selain Nabi Adam AS nenek moyang kita?

Ada apakah di luar galaksi Bima Sakti? materi apa gerangan yang bergejolak di luar sana? apakah hanya gas-gas belaka? Apakah rencana Tuhan untuk manusia di muka bumi? apakah suatu hari nanti terjadi kenyataan hubungan antar galaksi? pembangunan terminal-terminal di angkasa untuk kehidupan manusia? apakah aku akan masih hidup pada masa itu?

Tuhan, jika kau memang sedang tepat mendengarkan omonganku, jangan tertawa saja….

Dunia yang kecil ini dengan manusia-manusia yang kebanyakan juga berotak kecil :)

Lupakan saja kesusahan dalam hidup ini
teman yang berkhianat
utang di bank
dan sejuta masalah lainnya

semua itu membutakan kita

ada celah di luar sana yang menanti untuk dikunjungi
ada berita yang belum sampai
ada kehidupan yang ingin disentuh
ada atmosfer yang belum kita tembus
ada panas yang bukan dari matahari
tidak ada bintang melainkan gas-gas berpotensi tinggi
tidak ada lubang galian melainkan lubang hitam (black hole)
hujan yang bukan dari air melainkan elektromagnetik
radio yang bukan FM melainkan radio dari sebuah bola besar di ujung galaksi

halo halo manusia di bumi
kenapa kau masih termenung di sana?

asem manis asin 12:09 pm

Judul ini diambil dari ingatan ketika aku dan keluarga oom ku sedang membeli pisau swiss, penjualnya orang belanda yang pernah tinggal di Indonesia, tepatnya di Batavia. Ia masih mengenang tempat tinggalnya di daerah kota, di daerah gang Sahari kalau ngga salah, kemudian dia melantunkan sebuah lagu yang melankolis bagiku: “Gado-gadonya bung! dari Jakarta….”

Seorang Belanda yang mencintai Indonesia, Batavia sebagai tanah air keduanya.
Tentunya Batavia yang dulu, bukan Jakarta yang metropolis. Batavia yang didekorasi oleh rumah-rumah betawi yang sederhana dan berhalaman luas. Batavia dengan penduduknya yang ramah dan lugu. Bang Majid, tukang kayu yang sederhana dan tampan a la betawi, Pak Uham, seorang ahli bangunan yang selalu bersepeda setiap hari menuju tempat kerjanya, pekerja keras, selalu sederhana dan ramah kepada setiap orang. Bang Roji, anaknya pak dan bu Isa pemilik warung di Pondok Pinang, yang selalu melayaniku dalam pembelian jajanan jaman TK, pak dan bu aji (haji), tetangga di depan rumah yang sering kami kunjungi dan selalu memberiku cemilan khas betawi dan sirup…

Ternyata tidak penting siapa kamu, pangkat kamu, dari mana keluarga kamu berasal. Orang-orang yang baik, ramah dan murah senyum akan selalu diingat sepanjang masa.

Orang-orang yang tetap mempertahankan karakter mereka yang suka menolong, baik hati dan murah senyum, walaupun hidup ini dipenuhi kekejaman, pengkhianatan, penipuan dan sisi-sisi gelap lainnya.

Mungkin karena itu perlu adanya konsep neraka dan surga, dosa dan pahala, baik dan jahat, jujur dan tipu daya. Perlu adanya Tuhan yang Maha Kuasa, yang nantinya setelah semuanya berakhir akan berbuat adil terhadap seluruh mahluk hidup.

Pagi ini aku baru menyadari kenapa berjuta-juta orang ingin memberi penghormatan terakhir kepada Sri Paus. Aku tidak mengerti apakah dia bisa dibilang seorang suci, tidak penting bagiku, ia hanyalah manusia biasa seperti kita. Namun ada banyak orang di dunia ini yang perlu percaya akan adanya orang yang suci, orang yang mereka anggap akan bertemu Tuhan dan akan menempati sebuah surga. Banyak orang yang perlu percaya kepada Tuhan (entah dengan nama Allah, Yahwe, Dewa, Yesus, nama tidaklah penting), seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, aku rasa tidaklah gampang bagi mereka hidup di dunia ini, mereka harus memaksakan logika dengan keadaan dunia yang sering kali tidak masuk logika.

Juga tentang beberapa senator sayap kiri di parlemen spanyol yang tidak berdiri untuk hening semenit dalam rangka penghormatan kepada Paus, saya rasa tidaklah pada tempatnya, tidak sopan. Saya rasa menghormati seseorang yang dulunya pemimpin umat katolik, kepala negara, tidak ada hubungannya dengan ide-ide politik maupun kepercayaan yang kamu miliki, jadi hormatilah orang tersebut.

Terkadang ada pertanyaan-pertanyaan dalam pikiranku yang tidak terjawab sampai sekarang. Ada pula yang lama terjawab, lalu tiba-tiba ada sebuah “ilham” yang datang dan menjawab pertanyaan –pertanyaan benang kusut itu.

Tulisanku kali ini bernada positif, optimis. Aku baru saja mendapatkan sebuah “ilham” bagaimana cara menghadapi hidup ini. Mungkin juga karena membaca tentang sebuah kisah seorang imigran Jawa yang tinggal di pulau Nias yang baru saja mengalami gempa. Ibu miskin itu kehilangan rumahnya, suaminya yang tukang becak juga kehilangan becaknya yang belum lunas. Kini mereka ditampung oleh asosiasi Oxfam.
Namun apa kata ibu itu: “Saya harus menerima apa yang telah terjadi. Saya mencoba tersenyum dan tertawa, supaya awet muda. Dan saya bisa tersenyum malam ini karena malam nanti keluarga saya bisa makan nasi”.

Saya jadi terdiam, menitik sedikit air mata dan berpikir.

Hari ini harus dimulai dengan pikiran positif.

Tidak penting siapa kamu, apa yang kamu punya. Setiap individu punya misi tertentu di dunia ini, setiap individu dan lingkungannya, reaksinya. Sekarang tergantung reaksi tiap individu, reaksi yang bagus dan baik akan baik imbasnya kepada lingkungannya. Reaksi yang buruk, buruk juga akibatnya ke lingkungan.

Kamu boleh pilih, jadi orang pesimis atau optimis. Jadi orang yang selalu manyun atau orang yang murah senyum yang akan dikenang sepanjang masa (walaupun orang yang mengenang itu tidak mengekspresikanya). Orang yang sedia menolong atau orang yang pasif, hanya melihat saja.

Dunia tidak akan berubah tanpa kamu. Kamu bagian dari dunia.

Belum lagi katanya, ada bumi-bumi lainnya di luar sistem matahari kita. Kita mungkin tidak sendirian.

Mungkin pesan positif ini sejujurnya ditujukan pada diri saya sendiri, yang bersifat pesimis. Hm…

Saya rasa cukup sampai di sini dulu gado-gadonya. Jika Tuhan ada, siapapun namanya, bisakah kita berkenalan lagi? terimalah senyumku hari ini. Aku berjanji, hm…mungkin kamu sudah bisa membaca apa yang ada di hatiku.

online