yang pateticMarch 14, 2005 12:10 pm

Sedih kalau sampai percaya bahwa di dalam konsep suatu keluarga, ada konsep anak tumbal.

Kalau di jaman Inca dan Maya, ada orang tua yang menumbalkan anaknya untuk Dewa Matahari, sebetulnya di jaman sekarang konsepnya berubah.

Si anak tumbal adalah anak yang dipilih untuk bekerja keras demi membiayai adik-adiknya dan kebutuhan orang tuanya, merantau jauh. Hanya tau susahnya hidup. Hanya memikirkan kehidupan yang lebih baik untuk adik-adiknya yang mempunyai kesempatan untuk kuliah dan menikmati masa-masa indah di kampus, di kos-kos-an. Hanya tau tiap bulan musti transfer duit ke rekening ortu. Sementara mimpi-mimpi si tumbal belum tercapai, ia harus menghapusnya demi mimpi orang-orang yang lain yang “lebih penting”.

Salam untuk semua orang yang merasa jadi “tumbal”. Berjuang terus bangun mimpimu.

yang pateticMarch 11, 2005 12:04 pm

Aku tidak bisa menghindar menulis pendapatku tentang negaraku tersayang.

Setelah ribut-ribut soal kenaikan BBM, kini muncul lagi polemik tentang wilayah milik Indonesia yang diributkan oleh Malaysia, Ambalat.

Dalam berita-berita, pemerintah Indonesia sendiri akan menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik.

Namun tampaknya rakyat Indonesia terutama pemuda-pemudanya sudah keburu panas. Tidak menghiraukan apa yang dilakukan pemerintah, mereka mulai membentuk “Pos Ganyang Malaysia”, malah yang terakhir saya baca, adanya warga yang mencap jempol darah sebagai tanda siap menjadi sukarelawan perang jika memang perang akan terjadi. Kali ini bahkan dari golongan ibu-ibu.

Warga acapkali berbicara kepada para wartawan bahwa mereka siap, siap membantu angkatan bersenjata negara kita untuk turun ke medan peperangan.

Kalau saya pikir, mereka semua sudah G I L A.

GILA, GILA DAN GILA.

Saya pengecut? saya tidak mengerti? saya tidak patriotik? silahkan saja sebut saya dengan kriteria-kriteria tersebut.

Pendapat saya sendiri, rakyat Indonesia sudah P U T U S A S A. Mereka tidak berpikir lebih jauh lagi konsekuensi yang akan dibawa oleh peperangan.

Kita bukan bicara perang-perangan anak kecil dengan pedang kayu dan sebagainya. Apa mereka tidak pernah melihat perang yang ada di negara lain? korban-korban yang mati? ekonomi negara yang hancur? dst.

Untuk apa ada diplomat-diplomat di Departemen Luar Negri?

Ingat, kita harus menggunakan jalan diplomasi di atas jalan kekerasan dan militer!

Negara kita saat ini sedang terpuruk, hutang ke luar negri yang tidak terhitung lagi, korupsi, bencana alam, kerusakan lingkungan hidup, defisit, tidak berkembangnya ekonomi negara, dll.
Apakah kita masih mau berperang dan menghabiskan uang negara untuk perangkat militer?

Gila kan? kemana pikiran rakyat itu?

Kalau sampai terjadi peperangan, saya berharap Allah membuka mata hati dan otak bangsa kita, karena saya pun tidak mengerti akan pikiran bangsa saya sendiri….

PD: berita terakhir;

Wakil Ketua DPR: Sebaiknya SBY Umumkan Perang dengan Malaysia

bangsa miskin, bangsa korupsi, bangsa sombong, bangsa bodoh, bangsa……………KU

yang patetic, buku/film/celebMarch 10, 2005 3:39 pm

Ketika aku melihat film “The Sea Inside“, dari awal hingga akhir film, aku tidak dapat berhenti menangis, air mata terus mengalir dari mataku, sambil terisak-isak.

Untung saja ketika itu penonton bioskop hanya aku, seorang bapak-bapak dan dua orang wanita. Kebetulan saat itu hari kerja dan sudah malam, aku sedang bertengkar dengan suamiku.

Film itu seperti yang kamu ketahui diambil dari kisah nyata, menceritakan tentang Ramón San Pedro yang cacat total (tertapléjico) yang menginginkan kematian, dengan kata lain dia menuntut kepada masyarakat dan pihak yang bertanggung jawab supaya dia di”bunuh”, dimatikan saja, karena bagi dia hidup di tempat tidur bukanlah kehidupan yang ia inginkan.

Terlepas dari gambaran teknik film ini, sebenarnya seseorang tidak perlu menunggu menjadi cacat total untuk menuntut sebuah kematian, ada banyak orang-orang di luar sana, di dunia ini yang menginginkan kematian menjemput dirinya tanpa harus menderita cacat atau sakit. Mereka orang-orang yang secara fisik sehat, bahkan tidak kekurangan apapun dalam hidup ini, alasannya? tiap jiwa punya alasannya sendiri-sendiri. Seperti tiap nasib menuntun orang-orangnya.

Lihat di Jepang sana, anak-anak muda yang mengorganisasi kematian mereka sendiri.

Mati memang seribu kali lebih gampang dari hidup. Dalam kehidupan kita menemukan diri kita, dalam kehidupan ini ada pencarian yang tiada akhir yang membantu kita menyebrangi jembatan itu. Hingga umur kita sampai pada angka yang tertulis di Kitab Besar itu.

puisi & fiksi 11:27 am

Terkadang sulit mengubur seorang yang tidak bisa dimiliki.

Terkadang cinta harus berhadapan dengan kenyataan yang melawan keberadaan cinta itu.

Sakit yang sulit untuk diobati, luka yang tidak terlihat, perasaan yang tidak menentu.

Hanya bisa mengubur diri dalam tumpukan pekerjaan, menghindar lagu-lagu cinta yang berdengung di radio mobil, mencari-cari seseorang yang lain, yang bisa membantu mengubur cinta yang tidak bisa dimiliki.
Menghapus namanya dari messenger, nomernya di hp, mencantumkan alamat emailnya sebagai “spam” atau “junk email”, merobek-robek fotonya dan setelah itu membakarnya, kemudian menjebloskan abunya ke dalam WC.

Namun ketika malam menyambut, ketika tidak ada sisa lagi pekerjaan kantor untuk diurus, ketika tubuh sudah bersih keluar dari kamar mandi, ketika perut sudah kenyang akan makanan yang dibuat mama, ketika ingin memejamkan mata dan ingin langsung terlelap…

Di langit-langit kamar terlihat dirinya, ketika mata terpejam, dalam kegelapan terlihat juga dirinya. Berbaring ke kiri, ke kanan, tengkurap, posisi fetal, menutup kepala dengan bantal….hanya terdengar lagu ketika ia bersama dirinya, suaranya di telpon, senyumannya ketika menyongsongnya dari kejauhan, langkah-langkahnya…

“Sialan” ujarnya dalam hati.

Kemudian ia bangun dan menyalakan rokoknya sambil membuka jendela kamar. “Ini sungguh menyeramkan, bagaimana aku melupakan dirinya?”

Ketika itu angin masuk dari luar melalui jendela kamarnya dan membawa harum tubuh orang yang dicintainya.
Ia pun bangkit menutup jendela itu, memulai lagi sebatang rokok yang baru, bersumpah agar bau kamar ini dipenuhi bau rokok yang dihisapnya.

Apalagi benda-benda miliknya yang belum aku bakar? sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

Ketika ia sampai pada batang rokok yang ke sepuluh, ia pun memutuskan untuk membuka sedikit jendela kamarnya dan tidur. Namun matanya tidak terpejam, memikirkan “ia” yang tidak berada dalam pelukannya.
Air mata menitik dan jatuh ke pipinya, kemudian ke seprei tempat tidurnya.

Putus asa tak mampu melampaui perasaan cintanya kepada seseorang.

“Besok kumulai hari yang baru, besok kumulai hari yang baru, besok….” sampai terlelap.

yang patetic 10:49 am

Aku punya seorang rekan kerja yang juga seorang pecinta binatang seperti diriku.

Kalau dia sedang menganggur, dia terkadang masuk ke dalam forum tentang pembelaan binatang di Internet. Aku tahu sering kali ada kasus di mana binatang-binatang itu mati secara mengenaskan karena perbuatan manusia. Aku terus terang tidak pernah ingin mendengar berita-berita yang menyedihkan mengenai nasib binatang itu, sama halnya ketika aku menghindar melihat berita di televisi agar tidak melihat dan mendengar berita-berita menyedihkan tentang kematian dan kesengsaraan manusia di belahan bumi lainnya.

Namun rekan kerjaku itu terkadang dengan “rajin” menceritakan apa yang dia lihat dan dia dengar di forum itu.

Menyebalkan bukan? bukannya aku tidak sayang kepada mahluk hidup yang menderita, hanya saja keseringan mendengar hal itu seringkali membuatku berpikir pesimis dalam menjalankan kehidupan di muka bumi ini.

asem manis asinMarch 9, 2005 2:29 pm

Sebut saja Urip namanya, seorang teman yang baru saya kenal. Ia merantau dari Sulawesi dan pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Entah ia anak keberapa dari tujuh bersaudara. Ia lulusan STM.

Kisahnya menarik untuk diceritakan di sini.

Di Jakarta sendiri Urip berganti-ganti pekerjaan, mulai dari tukang ngamen karena diajak pengangguran lainnya. Namun ia memutuskan untuk tidak menjadi pengamen, selain karena itu bentuk lain dari mengemis, hasil dari ngamenan itupun dipergunakan untuk mabuk-mabukkan oleh rekan-rekannya.

Kemudian dia pun sempat menjadi kuli bangunan, namun lingkungan inipun tidak jauh dari judi dan mabuk-mabukkan malam sehabis bekerja.

Urip pun akhirnya menjadi tukang angkut di pelabuhan Tanjung Priuk, kamu tau sendiri, lingkungan rumah di mana ia tinggal, di antara gubuk-gubuk dan sampah, juga baunya yang menyengat. Ia pun pasrah saja. Namun Urip berhasil bekerja di sebuah kapal korea. Hanya saja, akhirnya kapal itu managementnya dipegang oleh orang-orang rusia.

Urip pun berhasil keluar dari Indonesia dan membayangkan perubahan nasibnya untuk menjadi lebih baik.

Namun ternyata orang-orang rusia itu memperlakukan para awak secara tidak ber-prikemanusiaan.

Sampai akhirnya ketika persediaan makanan untuk awak kapal hampir habis, Urip dan beberapa rekan lainnya memutuskan untuk hengkang dari kapal itu pada pemberhentiaan yang terdekat.

Walaupun para awak kapal ditawari imbalan yang besar jika mereka bertahan di kapal sampai ke Perancis, temanku itu sudah tidak percaya lagi kepada kapten Rusia itu.

Maka ketika kapal itu menambat di Sevilla, di Spanyol Selatan, turunlah temanku itu. Pada awalnya, kapten kapal mengancam tidak memberikan paspor temanku dan dua rekan lainnya. Namun Urip berniat melaporkan kapten ini ke polisi setempat jika ia bermacam-macam dengan paspor mereka.

Kesalahan Urip di sini dia tidak melaporkan diri kepada kepolisian Spanyol tentang apa yang terjadi setelah dia turun dari kapal. Dia hanya menelpon perusahaan kapal yang berada di Inggris dan di Spanyol.

Saya sendiri tidak mengerti lebih jelas dengan ceritanya, bagaimana sistem kontrak dan kondisi para awak kapal. Yang jelas, ke dua rekannya berhasil pulang ke Indonesia, sedangkan Urip memutuskan untuk tinggal di Spanyol sambil berharap mendapatkan pekerjaan.

Urip sempat luntang lantung sepuluh hari di Sevilla tanpa punya tempat menginap, uang hanya cukup buat makan seadanya. Untung saja ketika itu sedang musim panas, jadi dia tidak kedinginan ketika harus tidur di tempat-tempat terbuka.

Sampai akhirnya dia sampai di Madrid, entah karena dijemput oleh orang kedutaan atau apa.

Di Madrid pun Urip ditampung oleh Palang Merah. Sampai akhirnya ia menemukan pekerjaan di lain kota, di Santander. Walaupun Urip belum mendapatkan kontrak dan situasinya masih ilegal, aku berharap dia bisa bertahan terus di sini dan memperbaiki nasibnya.

Semoga kau sukses…

buku/film/celeb 10:16 am

Me gustaría que Manuel Vicent me diera permiso para traducir este libro maravilloso en bahasa indonesia (indonesio), para compartir a los lectores de mi país de una historia de amor intenso.

Todavía no sé como pedirselo, pero mientras tanto voy a hablar de este libro para introducirlo a los lectores indonesios.

Terjemahan kutipan presentasi buku ini :

Son de Mar adalah sebuah novel cinta, dari yang tenggelam dan yang kembali. Semua yang telah mati kembali jika mereka dipanggil oleh kekasihnya dengan kekuatan semampunya. Pemeran utama di novel ini adalah seorang yang tenggelam yang kembali setelah sepuluh tahun, namun kejadian ini terjadi pula setiap hari di trotoar di kota-kota. Menurut buku petunjuk resureksi, syarat pertama yang dibutuhkan untuk kembali hidup adalah menjalankan hidup, walaupun kehidupan menenggelamkan dirimu dalam kedalaman lautan. Dalam kasus ini selalu akan ada seorang kekasih yang memanggilmu dari segala tepi dan kamu akan merasa perlu memenuhi panggilannya.

Buku ini yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan dengan judul “Mereka dari Laut”, ditulis oleh seorang penulis dari Valencia, Manuel Vicent.

Karyanya berhasil terpilih sebagai novel terbaik dalam Penghargaan Alfaguara tahun 1999. Manuel Vicent selain penulis novel juga bekerja di surat kabar “El País”.

Novel ini berbicara tentang seorang guru filosofi (Ulises Adsura) yang mengajar di sebuah sekolah di desa nelayan, tepatnya di daerah pantai timur Spanyol.

Sehari-harinya Ulises biasa berkunjung ke sebuah rumah makan yang dimiliki oleh orang tua seorang gadis yang bernama Martina. Ulises yang sering berpartisipasi dalam pembicaraan sehari-hari para nelayan menjadi jatuh cinta kepada dunia perlautan dan bermimpi suatu hari dia akan memiliki sebuah perahu dan berlayar mencari ikan.

Di rumah makan ini juga Ulises bertemu dengan Martina, yang bekerja membantu kedua orangtuanya. Ulises biasa duduk di teras belakang rumah makan dan sehari-harinya dilayani oleh Martina yang menghidangkan makanan. Ulises pun sering berbincang-bincang dengan Martina dan menceritakan cerita-cerita Yunani kuno yang berbicara tentang dewa, monster, dan sebagainya, hingga Martina pun jatuh cinta pada mata pelajaran yang diajarkan Ulises di sekolah.

Makin lama hubungan kedua anak muda ini semakin erat, mereka sering berjalan-jalan ke bukit yang indah tak jauh dari desa dengan vespa yang dimiliki oleh Ulises. Pertama kalinya mereka bermaksud mencari mata air- sebuah leyenda yang diceritakan oleh ayahnya Martina, menurutnya, di dalam lubang mata air itu ditemukan seekor kepala kuda, yang dari atas hanya terlihat biji matanya.

Dalam pencarian, mereka menemukan sebuah gua. Bercintalah keduanya di dalam gua itu.
Dengan alasan ingin melihat mata kuda itu, Martina mengajak Ulises berjalan-jalan ke bukit itu setiap kali ia ingin bercinta dengan kekasihnya.

Martina pun akhirnya hamil, pasangan ini memutuskan untuk menikah. Namun sampai saat mereka menikah, Ulises tidak pernah mengucapkan bahwa dia mencintai Martina, sedangkan Martina sangat mencintai lelaki itu.

Hari ke hari, Ulises hanya sibuk memikirkan mimpinya menjadi seorang nelayan dan sampai pada suatu hari dia berhasil membeli sebuah perahu. Perahu yang tadinya milik Jorgito, seorang nelayan yang menderita penyakit jiwa, diperbaiki oleh Ulises dan diberi nama “Martina”. Walaupun Jorgito sudah memperingati Ulises bahwa mengganti nama suatu perahu adalah pertanda buruk, namun Ulises tidak menghiraukan peringatannya.

Ulises selalu bermimpi untuk menangkap ikan tuna, ia ingin menangkap ikan tuna yang pertama keluar pada musimnya, seperti leyenda yang diceritakan oleh para nelayan bahwa ketika ikan-ikan itu muncul, mereka bisa menyilaukan mata kita, hingga nelayan yang melihat kumpulan ikan itu secara langsung, bisa menjadi buta.

Suatu minggu pagi, Ulises pun pamit kepada Martina untuk mencari ikan, iapun meminta Martina untuk dibuatkan goreng kentang yang ia sukai untuk dimakan saat ia pulang dari berlayar nanti. Namun sejak itu Ulises tidak pernah kembali.

Ke manakah Ulises? Apakah dia pergi karena dia tidak dan tidak pernah mencintai Martina? bagaimana nasib Martina sejak ia dinyatakan janda? Apakah Ulises suatu hari akan kembali dengan ikan tuna yang dijanjikannya kepada Martina? Bagaimana akhir dari kisah cinta kedua manusia ini? adakah cinta pada akhirnya?

Manuel Vicent berhasil merangkum sebuah cerita cinta dengan sederhana namun manis dan penuh misteri. Mungkin rangkumanku tidak cukup menjelaskan kisah roman ini, maka itu aku berharap bisa menterjemahkan buku ini ke dalam bahasa indonesia untuk berbagi sebuah kisah yang menggelapkan mata para pecinta sejati.

manusia/renungan 9:30 am

Proses penuaan diri seseorang biasa dimulai dari menipisnya rambut di kepala kita, anak-anak rambut mulai menjadi sedikit dan juga terjadi kerontokan ataupun kebotakan dalam beberapa kasus. Uban atau rambut putih ditemukan di sana sini, juga ketombe.

Kemudian mungkin pengerutan kulit di sekitar wajah, terutama di bagian samping dan di bawah mata kita, juga kulit tangan kita yang tidak sekencang dulu.

Lalu karena sibuk dengan pekerjaan, seseorang tidak lagi berolah raga seperti pada jaman-jaman dia sekolah atau kuliah, sehingga perutpun sedikit demi sedikit membengkak tanpa terasa. Pada perempuan, mungkin sebagian setelah melahirkan seorang bayi, tubuh tidak seramping sebelumnya.

Pada orang-orang lainnya, mata mulai lelah dan tidak lagi bisa melihat jarak jauh.

Lebih parah lagi yang menderita reuma atau penyakit-penyakit penuaan lainnya.

Ada orang-orang yang mengambil solusi dengan operasi plastik dan semacamnya, seperti lifting dan pengangkatan lemak.

Aku sendiri memilih solusi konvensional atau tradisional, contohnya rambutku mulai bermasalah dengan ketombe dan mulai menipis. Yang aku lakukan adalah memberi minyak cemcem-an sebelum keramas. Aku hindari shampo yang berisi hair conditioner agar rambut terhindar sebanyak mungkin dari zat-zat kimia.

Untuk kerut-kerut di mata, setiap malam sebelum tidur, tidak lupa aku oleskan krim untuk mata, intinya agar kulit di sekitar mata tidak kering sebelum berangkat tidur. Krim itu persis seperti krim yang digunakan para petinju ketika mereka bertarung…

Lalu untuk kulit tubuh dan muka, tentunya setiap hari aku rajin menggunakan lotion supaya kulit tidak mengering dan tidak cepat menua.

Supaya perut tidak buncit, kita juga perlu memperhatikan makanan yang kita makan sehari-hari. Seimbangkan jumlah karbohidrat dengan kalori yang kita butuhkan sehari-hari. Misalnya kalau pekerjaan kita sehari-hari di kantor yang tidak memerlukan kegiatan fisik secara penuh, maka jangan terlalu banyak makan nasi. Jangan lupa minum air putih sebanyak mungkin (bagi orang-orang yang tidak suka minum, cukup berat minum air putih saja) dan makan buah-buahan setelah makan.

Begitulah, sebagai mahluk hidup, kita mengalami proses penuaan. Aku sendiri menerimanya. Namun tidak ada salahnya kita merawat tubuh kita, agar proses itu berjalan selambat mungkin dan tidak mengkhawatirkan.

puisi & fiksiMarch 8, 2005 2:04 pm

kamu tradisional
aku liberal

kamu religus
aku pendosa

kamu di sana
aku di sini

kamu yang tak mengerti diriku
aku yang tak mengerti dirimu

kita berbicara dengan logat yang sama
namun dengan bahasa yang berbeda

kau menyadarkan aku
bahwa mimpi terkadang hanya manipulasi
make-up dari khayalan kita

hanya ku simpan kenangan yang indah
dan lenggang jalanmu yang aduhai…
kamu tetap sayangku dalam mimpi

yang patetic 2:04 pm

Betul…gue lagi ngomongin bra. Gua belum cerita kejadiannya di Sukabumi.

Jadi, pas udah selesai pembelian barang pesenan suami di Cibatu, gue kan pergi ke Sukabumi kotanya, karena adek gua pengen kue moci.

Memang ransel gue berat, karena bawa 2 golok pencak silat sepanjang 50 cm (pas dikilo, ternyata beratnya 1 kilo) plus senjata2 lainnya.

Di Swalayan Yogya gue ngga nemu toko yang menjual kue moci, ya udah gua tanya aja ibu2 di jalan, kalo mo beli kue itu di mana, trus gue ditunjukkin, dia bilang, naik angkot yang warna hijau aja, nanti bilang diturunin di tempat yang jual kue moci, supirnya udah tau.

Udah aja, gue udah beli kue moci, di gg. mesjid kalo ngga salah, di jalan bhayangkara (kalo ga salah gue ada sedokur jauh di gg. dewa, deket2 situ). Nah, ga jauh dari situ gue liat tukang bubur, di pojokan, deket kantor kelurahan kalo ga salah.

Eh begitu gua mo duduk, kan gua turunin ransel, saat itulah…gua ngerasa BH gua lepas, kancingnya lepas. Gua sih santai aja, pernah juga ngalamin kejadian kayak gini, cuma bisa diatasi. Itu gara2 ransel sih, pas ngelepas, punggung kan jadi melebar karena gerakan otot lengan ke arah luar. Atau guanya jadi kurus karena kepanasan di Indonesia, jadi makanya BH bisa lepas karena kendor….

Pas ada ibu2 pegawai negri pesen bubur juga, untung aja sepi. Gua bilang aja langsung sama ibu itu, “ibu tolongin saya dong bu, bh saya lepas”- sebenernya ya malu, tapi gue ngga ngeliat solusi lainnya.

Ngga mungkin dong gua diem aja, perjalanan masih jauh, Sukabumi - Jakarta cing! masa gue mo membiarkan bh itu menggelantung tanpa dikancingkan, kalo melorot bisa berabe.

Untung aja ibu itu mengerti, sesama perempuan, dia nolongin gue memperbaiki kerusakan itu, gue cuek, kebetulan tukang bubur lagi ngobrol sama tukang rujak yang mangkal ga jauh dari situ.

Lega deh gue. Terima kasih ya ibu….

Trus kebetulan aja gua balik ke arah terminal barengan naik angkot sama ibu itu. Si ibu dan si supir angkot nolongin gue juga pas gua bilang gua mo ambil kolt dari Suska sampe Ciawi.

Pas si ibu mau turun, dia ngasih duit besar, si supir ngga punya kembalian, jadi kebetulan gua bisa bales jasa ibu itu….

Begitulah….BH bisa jadi masalah di perjalanan….

LINK TEXTNext Page »
online