Diskriminasi bukan saja terjadi pada ras-ras atau minoritas tertentu, diskriminasi yang tak terlihat adalah diskriminasi terhadap orang-orang miskin/kelas menengah ke bawah.
Kebutaan seseorang terhadap kemajuan teknologi juga merupakan diskriminasi.
Fisik yang tidak memenuhi standar (dengan kata lain, orang-orang bermuka jelek dan bertubuh gajah), juga didiskriminasi.
Dalam dunia ini menang orang-orang: Kaya, dengan uang - kamu tidak buta teknologi dan informasi dan dengan uang, kamu bisa mempermak muka dan tubuh kamu.
Diskriminasi akhirnya mengarah kepada isolasi pada grup-grup penderita.
Isolasi terhadap kemajuan teknologi, isolasi terhadap pencapaian informasi-informasi penting, isolasi untuk mendapatkan pendidikan yang sepadan, isolasi dalam bermasyarakat karena jelek, miskin dan bau.
Grup-grup penderita akhirnya menciptakan dunianya sendiri, “dunia bawah tanah”.
Untuk orang-orang gendut, kini mereka menciptakan butik-butik untuk orang gendut karena tidak bisa menemukan pakaian yang seukuran dengannya di mal-mal atau pasar.
Orang-orang tua yang dianggap ketinggalan jaman, menjadi sungkan menggunakan komputer, sarana internet dan email bahkan telpon genggam. Orang-orang miskin juga tidak sanggup membeli telpon genggam dan tidak pernah mendengar apa itu Internet dan globalisasi.
Semua itu bagi saya adalah isolasi.
Mungkin hal itu tidak terlalu terlihat jelas di negara-negara maju, dimana pemerintahnya punya politik “sosial” yang pintar.
Indonesia yang dari sejak jaman kuda berpedoman “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, sesudah lebih 50 tahun lebih merdeka dari belanda masih berada paling bawah dibandingkan negara-negara tetangganya.
Ya segitu aja ulasannya, ada dunia bawah tanah di sekitar kita yang kadang tidak kita sadari.
