Di Amerika Serikat sekarang lagi ribut-ributnya polemik tentang hidup-matinya Terri Schiavo. Pasien wanita yang sejak 15 tahun yang lalu jatuh dalam kondisi koma. Ketika Kejaksaan Wilayah sudah memutuskan untuk menghentikan alat artificial yang mempertahankan Terri untuk hidup, George Bush datang untuk menghalangi keputusan legal itu.

Ada dua pihak yang terkait dalam kasus ini, suami Terri, yang memegang argumen bahwa Terri seharusnya berhenti hidup atas keinginannya dan hak civil nya dipenuhi. Pihak ke dua, orang tua atau keluarga dari pihak Terri yang menginginkan Terri untuk bertahan hidup.

Di balik ke dua pihak itu, tentu ada masyarakat yang mendukung anestesia- hak seseorang untuk mati secara hormat dan masyarakat religus yang anti anestesia (dalam hal ini tepatnya grup Kristen Conservativ).

Saya akui polemik ini memang hal yang sangat sensitif, apalagi jika pemeran utamanya (si pasien yang menderita) tidak meninggalkan berkas-berkas yang mengatakan keinginannya untuk mati sedangkan dalam keadaan koma, dia tidak bisa mengkomunikasikan kemauannya.

Pertanyaan akhir selalu menyangkut moral yang berbeda.

Patutkah sebuah hidup dipertahankan jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan hidup sebagaimana mustinya? jika yang bersangkutan dalam keadaan “vegetatif”? apakah itu bisa disebut “hidup” atau kehidupan? Patutkah seorang yang tidak bisa makan dan minum untuk dirinya sendiri disebut mahluk hidup? (bahkan tanaman dan binatang masih bisa melakukan itu untuk diri mereka sendiri), patutkah seseorang disebut hidup jika otaknya tidak berfungsi ataupun jantungnya dibantu untuk berfungsi?

Siapa yang patut menilai dan memutuskan nasib si pasien? haruskah ia menunggu keputusan Yang di Atas untuk terus “hidup” sampai ia dipanggil?

Belum selesai polemik tentang hidup dan mati di atas, muncul polemik “usual” lainnya yaitu tentang penembakan di sekolah-sekolah di Amerika serikat oleh pelajar. Baru-baru ini di Minnesota seorang pelajar telah menembak 9 orang di sekolahnya kemudian dia membunuh dirinya sendiri.

Dalam hal ini George Bush sebagai anggota National Riffle Asociation tidak terburu-buru untuk memutuskan pelarangan pemilikan senjata api oleh masyarakat Amerika Serikat.

Yang saya herankan, Bush yang sudah menandatangani ratusan dictamen hukuman mati bagi para tawanan penjara, kini berjuang demi kelangsungan hidup seseorang yang tidak ingin terus hidup.

Saya sendiri tidak akan berkomentar tentang kontradiksi ini, hanya tersenyum saja melihat keanehan negara ini yang semakin lama semakin kacau. Apa pendapat anda?

PD: Di Provinsi Andalucia (Spanyol Selatan) pemerintahnya memutuskan untuk membuka pendaftaran bagi masyarakat yang menginginkan haknya untuk dianestesia jika mereka suatu ketika menderita penyakit yang mana tidak bisa menjalankan kehidupan seperti biasanya. Sementara ini sudah ada 1200 orang yang mendaftarkan dirinya.