Sebelum naik gunung Ciremai, aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita bahwa gunung itu adalah salah satu gunung yang angker di seluruh Jawa.
Pada waktu itu bulan oktober, tahunnya aku lupa, mungkin tahun 92. Aku, Ika, Alam, Bejo, almarhum Kokong, Capit dan Ferdy sudah merencanakan naik gunung Ciremai. Aku juga sudah minta izin kepada ibuku dan sudah diperbolehkan.
Namun beberapa hari sebelum pendakian, ada kira-kira sepuluh pendaki yang tewas di gunung Slamet karena cuaca yang buruk. Maka akupun akhirnya dilarang oleh ibuku, “Jangan naik gunung dulu deh nak, cuaca lagi buruk, hujan terus, masa’ kamu mau naik gunung?”.
Karena belum pernah dilarang, maka akupun menurut saja. Akhirnya Ika pun tidak diizinkan oleh orangtuanya, padahal bayangkan saja, kami sudah repot-repot belanja perbekalan untuk pendakian, yang akhirnya kami berikan kepada teman-teman kami yang jadi mendaki. Mau nangis ga sih? makanan yang dibeli enak-enak lagi….
Pada hari H-nya, Ika dan aku memutuskan untuk mengantar teman-teman pria yang akan mendaki, kebetulan mereka seusai sekolah (atau kita bolos waktu itu? lupa…), mereka bersiap-siap di rumah Wendy, tidak jauh dari 70.
Ada Alam, Bejo, Capit, almarhum Kokong Jaya dan Ferdy. Namun…ketika kami berdua melihat mereka asyik mengepak, Ika dan aku saling melihat dan kami pun mengangguk seakan-akan bisa membaca pikiran masing-masing.
Betul….! kami berniat kabur ke Ciremai.
tempat yang salah untuk kabur
tempat yang salah untuk pergi setelah berdusta kepada orang tua….
Buru-burulah kami pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil baju seadanya dan ransel, kemudian kembali lagi ke rumah Wendy di bilangan blok M. Aku tinggalkan catatan untuk ibuku di white board yang biasa kugunakan untuk belajar mengaji. Aku bilang, “mih, aku akhirnya jadi berangkat ke Ciremai sama Ika. Pulang hari minggu, ngga usah khawatir”…
Setelah anggota pendakian lengkap, berangkatlah kami menuju terminal Pulo Gadung (kalo ga salah, lupa) diantar oleh ibunya Alam dengan mobilnya. Di bis, ketika hampir sampai di Cirebon, aku dan Ika memandang gunung itu melalui jendela. Saat itu langit memang sedikit mendung, namun gunung itu tidak bergeming, seperti menantang kedatangan kami. Terus terang hati kami agak bergetar, apalagi pakai berbohong dan kabur dari rumah segala….
Di terminal Cirebon, kami bertemu dengan seorang pendaki yang membawa grupnya, katanya dia sudah biasa mendaki gunung Ciremai, maka bergabunglah kami dengan grup mereka. Kami naik truk bak terbuka menuju Kuningan.
Ketika sampai di Kuningan, kami melapor kepada petugas penjaga hutan dan kelurahan, semua itu terima kasih atas kebaikan pendaki yang kami kenal tadi, sebut saja Asep namanya.
Akhirnya selesai Magrib kami mulai mendaki, tentunya Aseplah yang memimpin kami semua.
Gunung Ciremai ternyata tanjakannya seperti gunung Salak namun dalam skala yang besar. Tanjakannya terjal-terjal dan sulit, kalau tidak salah ada pos yang bernama “Kuburan Kuda”.
Kami sampai di puncak paginya, aku sendiri tidak ingat apakah kami bersistirahat malam harinya (maklum perjalanan ini sudah lewat lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika si penulis masih mudah euy…ha ha). Seingatku kami sempat beristirahat sebentar saja di “kuburan kuda”.
Sampai di puncak, aku sempat tertidur kecapean, karena itulah mukaku (sekitar hidung dan pipi) terbakar. Aku tertidur di samping ambang kawah yang indah. Seperti pendaki-pendaki lainnya, kami menyempatkan diri berfoto-foto.
Sekitar pukul satu siang kami melihat ke langit yang tampak mendung dan akan hujan, maka kamipun memutuskan untuk kembali ke bawah dengan tergesa-gesa, alias berlari-lari.
Di tengah perjalanan, hujan deras pun turun, seperti yang ditakutkan oleh ibuku. Namun kami tidak berhenti berjalan dan berlari menuruni gunung. Grup-grup pendaki lainnya pun menyusul grup kami yang akhirnya tertinggal. Sampai akhirnya kami disongsong oleh kegelapan malam di tengah hutan Ciremai.
Kami sudah lelah dan capai berjalan, namun sepertinya tidak pernah sampai di tujuan. Pepohonan tampak sama saja seperti pepohonan di atas, sepertinya kami terkurung di gunung itu.
Di suatu tempat kami pun berisitirahat, aku sendiri tertidur. Sementara Ika dan lainnya melihat “pendaki-pendaki” yang turun dari atas, padahal rombongan kamilah yang terakhir.
Dalam suatu kesempatan, aku sempat terpisah dari rombongan, aku ingat Capit berada di depanku, di belakangku Ika dan Alam. Ketika itu hujan sudah berhenti dan malam diterangi oleh bulan purnama. Ketika itu aku melewati jalan yang digenangi air hujan, di air itu aku lihat bayangan “tangan” yang melambai-lambai dengan jari-jari yang panjang. Karena sudah capai, aku pikir bayangan yang aku lihat itu adalah dahan pepohonan, namun anehnya gerakannya bukan gerakan dahan yang diterpa angin (dan pada saat itu pun tidak ada angin), melainkan gerakan jari-jari tangan yang bergerak perlahan-lahan- yang membedakan itu dari gerakan terpaan angin.
Aku tertegun melihat bayangan yang masih bergerak-gerak itu dengan senter di tanganku, walaupun sinar bulan pun sudah cukup menerangi jalan. Akhirnya aku mengacuhkan bayangan itu sambil terus berjalan, pikiran waktu itu “telmi” (telat mikir) karena sudah capai.
Setelah sejam-dua jam kemudian, barulah tampaknya kami berhasil melewati hutan yang lebat.
Aku sempat menangis, mata kakiku sakit dan lelah. Aku memelas kepada Bejo untuk ditinggal saja di hutan karena tidak kuat lagi berjalan….patetik ya???
Suatu kejadian aneh terjadi, aku terjatuh, namun ketika hendak bangun, aku tersadar bahwa aku duduk di sebuah batu yang besar, berdiameter 1 meter…bagaimana aku bisa berada di atas batu itu, akupun tidak mengerti.
Namun karena pikiran dan badan sudah lelah…..hal-hal itu tidak merisaukan pikiranku.
Menjelang subuh rombongan kami sampai di desa, kotor, lelah dan agak shock dengan kejadian yang di alami tiap-tiap anggota. Seperti Ika dan almarhum Kokong yang sempat melihat satu rumah di tengah persawahan. Dan Capit pun ternyata melihat bayangan yang sama seperti yang aku lihat.
Ketika aku sampai di rumah membayangkan kembali bayangan yang aku lihat, bulu tanganku bergidik….
Seperti yang aku perkirakan, sesampainya di rumah aku disambut oleh keheningan suara ibuku yang tampak kesal dengan “escapada” ku. Malamnya aku pun minta maaf kepada beliau dan tentu saja beliau memaafkan diriku yang bodoh ini….

btw, fotoku satu-satunya di puncak gunung ciremai hilang, gara2 aku taruh di dompet dan dompetnya dicopet….apes…bersama foto itu hilang juga tiket masuk konser Metallica di Jakarta sebagai kenang-kenangan.
Comment by naga — March 16, 2005 @ 12:09 pm
waduh waduh nekat juga ya pergi gak ijin uehueh soalnya ridhonya Allah itu kan ada di ridhonya sang Ibu yah..heuheu tapi untung mba selamet yah wuiih gw tegang euy bacanya hahaha..eh maap itu linknya ditulis “Indra” ajah hehe not backpackers yet
Comment by Indra — March 16, 2005 @ 7:54 pm
Mbak, silakan kalo mau di-link. Kehormatan bagi saya…
btw, ada niat ke Bawakaraeng?
Comment by ochan — March 17, 2005 @ 6:45 pm
salam kenal. nice story about hiking mbak. gathering nasional blogbugs di yogya thn lalu juga ada yg naik merbabu. termasuk saya kompornya. hehe
Comment by balq — March 19, 2005 @ 2:09 am
mba kok berani aku sampe tegang banget bacanya tapi seru aku orang kuningan aja belom pernah kegunung ciremai ini jauh-2 nekad juga ya tapi kata temen-2 sich asik kegunung aku pengen tapi ngga ada temen mba kalo kekuningan mampir ya kerumahku hihiiiii didesa sukamukti kec jalaksana kab kuningan
Comment by yats — March 22, 2005 @ 8:54 am
eh lupa bukan buat mba aja yang mo mampir temen-2 yang mau kenal juga terutama orang-orang yang rumahnya jauh dari kota kuningan boleh kok pada mampir kerumah yayat dengan senang hati
Comment by yats — March 22, 2005 @ 8:58 am
gue penasaran…di sini bicara soal apa?
Comment by zaenal muttaqin — July 7, 2006 @ 4:25 pm
mungkin tulisan tentang ciremai-nya udah lama, ya?! makasih atas kunjungannya, tolong jangan kapok. kalo mau naik lagi tolong azax2, ya! Joe (penduduk asli kaki gunung ciremai, pendakian jalur apuy - gerbang majalengka)
Comment by Joe — January 29, 2007 @ 10:08 pm
selamat deh…jjgn kapok yah anda kalau mau naik elo bisa kontak gue.via apuy.gue orang argamukti(yang punya curug)heb he he. . . just kidding..
Comment by one anak ciremai — March 6, 2007 @ 6:54 am
denger critanya jadi pengen naek gunung cereme,,,,
Comment by ryan — April 22, 2007 @ 6:26 am
barusan baca… daku lagi search foto ciremai. nyangkut disini
ketemu nenek lampir nggak?
hehehehe
Comment by himura — May 25, 2007 @ 6:13 am
emang ciremai msitisnya tinggi, mbak..
temenku juga ada yang pernah nyasar di sana…
hmm… kebetulah aku juga suka naik gunung…
chayo!!
Comment by fuji — May 28, 2007 @ 7:20 am
restu ortu jangan dianggap remeh.
ciremai memang indah tp banyak misteri
Comment by toery — June 12, 2007 @ 1:58 pm
eMang yach,,, klo hobby tuch susah d halang2n. Jd pengen cepet2 ke cereme niy…..
Comment by r0bby — July 13, 2007 @ 12:52 pm
Ridhonya Allah memang ada di ridhonya ibu, tapi kalo ga diizini sama ortu ya terpaksa deh dengan cara kabur tapi dengan catatan harus meninggalkan pesan dulu. Namanya juga hobby…(sama gw jg prnh begitu)
Comment by renie — July 22, 2007 @ 8:00 am
aduh… lain x jgn nekat ya tapi kayaknya seru juga tuh ceritanya coz q jga seorang pendaki gunung. Ingat kmu punya pengalaman yang berharga so apa yang msti kmu lakukan…. semangat
Comment by bhe_rx — September 28, 2007 @ 3:46 pm
kata nya sih gunung ciremai emg salah satu gunung yg angker di jawa. kbetulan mgg dpn gw ada rencana jg mau ke ciremai. emg sih yg nama nya naik gunung tuh awal nya emg blg gak mau balik lg, tp klo dah turun pst bawaan nya mau naik lg.
Comment by Ruru — October 12, 2007 @ 11:11 am
“Buat apa naik gunung klo akhirnya harus turun jua” (sumbernya, lupa)
Btw, pernah naek Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing ato Lawu? Klo blum, pantas di coba, karena masing2 punya daya tarik, keindahan dan tantangan masing2.
Kebetulan saya saya pernah menapaki puncaknya dan yang terpenting adalah “Saya akhirnya bisa turun jua”
Comment by La Rangga Maralewa — October 12, 2007 @ 6:47 pm
mmm.. seru juga pengalaman’y, hampir sama ky pengalaman alumni PA saya, di gunung ceremai juga.
saya n tmn” pun sebener’y juga udh punya rencana k gunung itu,
tapi kata kaka kelas saya, jalurnya terjal n alumni juga males ke gunung itu, kata’y wkt tu,, ga asyik kn klo di tengah” gunung tiba-tiba lo denger suara gamelan??
hehe.. saya jadi rada gemeter n ngusulin ketmn” spy ga jadi k ceremai!
trus skrg bingung deh mau k gunung mana!
Comment by vthree — November 15, 2007 @ 1:45 pm
Wah asik juga ceritanya. Emang Asik naek gunung, serasa gak ada capeknya. Coba deh naek ciremai untuk ikut pengibaran bendera 17 Agustusan Pasti Ruame banget, ribuan orang ada di puncak Ciremai. Udah pernah sih naik lewat Palutungan dan Linggarjati. Gimana medannya kalo lewat Apuy ? tapi udah gak muda lagi nih…tapi kalo ada temen2nya boleh juga
. Sekarang lebih ketat ya Ciremai sejak jadi Taman Nasional ?
Comment by WongCil — December 22, 2007 @ 8:33 am
aku jadi merinding waktu membaca cerita pendakian di atas, aku juga pernah mendaku gunung ciremai, tapi alhamdulillah tidak terjadi mistik kayak gituan, lain kali klo mendaki, ijin orangtua dulu yah.
Comment by reang — January 8, 2008 @ 4:17 am
aku jg dah denger semua kejadian tentang gunung Ciremai,aku asli orng KUNINGAN JawaBarat terletak d kaki gunung CIREMAI,saya beberapa kali naik gunung Ciremai Alhamdulillah ga da apa2 th.mungkin karena ga d restui orng tua jd kena bencana az tuh.MITOS D GUNUNG CIREMAI :
1. TIDAK BOLEH BILANG SEMBARANGAN
2. MOHON IJIN KPD KEDUA ORNG TUA SBLM PEMDAKIAN
Comment by Harun — January 23, 2008 @ 10:32 am
Ku br kmrn trun dr Ciremai.tggl 19 jan ‘08 s/d 22 jan ‘08,ku berada d Gng.Ciremai,kami ber 3 .ku lewat jalur Pendakian Cisantana,Palutungan…memang seru & ngeri di Hutan Gng Ciremai.diatas Pos “Pesanggrahan”,kami ngacamp,perlengkapan dtnggal,&bw seperlunya,,paginya kami naik,&siangnya sampai Puncak.Pas turun dari Puncak,ku Nyasar di Persimpangan Apuy.Sampai di “Sanghyang Rangkah” yang mana tidak tercantum dalam Peta Jalur Pendakian yang ku bawa,krn hampir malam kami berusaha secepat mungkin kembali ke Persimpangan Apuy,dan Turun ke Jalur Pendakian yang benar,tanpa senter&bekal seadanya,kami bnr2 bekerja keras..tp Alhamdulillah berkat Kekompakan&kebersamaan,kami akhirnya kmi Selamat smpai d Bawah….
Comment by Ahmed Arif — January 27, 2008 @ 9:34 am
MmmMmm….
temen2, awal atau pertengahan maret 2008 nanti rencananya gue mau EKSPEDISI pendidikan mapala gue ke Gn. Ceremai..
denger cerita2 kalian gue jadi semakin penasaran sepeti apa persimpangan apuy begitu huga pos2 yang konon katanya mempunyai banyak keanehan..
doakan saya yaaa…
Comment by Ibone maniez,, — February 10, 2008 @ 6:05 pm
mau kasih comment lagi gpapa yaa… gue berharap salah satu temen2 ada yang bisa bantu gue cari informasi, terlebih gue akan merasa senang kalo ada teman2 yang mau nemenin gue pendakian ke Ceremai. gw tunggu balesan dari loe2 semua yaaa.
www.dema18manyun@yahoo.com
Comment by Ibone maniez,, — February 10, 2008 @ 6:13 pm
Gunung ciremai tidak seangker yang ditulis banyak orang,kita harus mengenal karakter dasar alam gunung ciremai secara menyeluruh jangan sepotong2,dari 80 pendakian saya ke ciremai cuma 2 kejadian mistis yang saya alami,dan itupun karena orang yang kami guide tidak mematuhi aturan yang sudah kami tetapkan,saya sebagai guide ciremai dan mantan koordinator Team SAR Linggarjati tahu betul karakteristik history ciremai jadi kami berharap agar cerita2 mistis tentang ciremai yang belum tentu kebenarannya jangan terlalu di ekspos. thanks…
Comment by suparta "kakek" A. Lea — April 21, 2008 @ 8:07 am
aku juga seneng naik2 gunung.. sebaiknya sebelum naik gunung berdoa dulu dan shalat dulu.. kalo naik pd malam hari sebaiknya kita sholat dulu magrib dan isya, baik di lakukan pd waktunya ataupun mau di jama’(digabungkan)magrib dan isya kalo kita naik sesudah magrib..dzikir kita sewaktu naik adalah mengagungkan Allah SWT ( ALLAHU AKBAR )sampai puncak, dan pada paginya (waktu shubuh) kita lakukan sholat 2 rakaat sebelum shubuh dan kmdian sholat shubuh 2 rakaat… beres deh.. tinggal kita lihat pemandangan sekitar dengan byk berdzikir kpd Allah SWT yg menciptakannya.. dan begitu juga sewaktu kita turun jangan lupa lidah kita berdzikir dg bertasbih (SUBHANALLAH)… mudah2an Allah menjaga kita…
Comment by abu abdrhmn — May 23, 2008 @ 4:54 am
setiap gunung pasti ada keangkerannya koq,tergantung kitanya aja menjaga sikap dan omongan,ada sebab ada akibat… yang penting niat kita baik insya allah g akan ada apa2,2006 atau 2007 (lupa…)saya juga pernah k G.Ciremai (kita b4)lewat jalur linggarjati,oiy… di sanggabuana II & condang amis ada air koq,kita turun sampe kelebihan air.
Comment by echo — July 22, 2008 @ 3:38 am
bgi para pendaki,q saranin klo mw mendaki
k gunung ciremai hrus dgn org kuningan asli
coz yg q dgr klo klian mendaki tanpa org sna
nti’y bnyk kjadian yg aneh…
slma q tgal d kngan,q lum brani bwt ngedaki
k gnung tersebt.coz mitos’y bikin q merinding.
pa lgi sejak da harimau yg prnah turun k kota
itu sgt merisaukan wrga sekitar.
bwt klian yg mw ksna,psan q klian hrs sopan,
tdk brbuat mcm2 N jgn lpa ajk org asli sna
Comment by mojang kuningan — August 4, 2008 @ 6:35 am
duh…serem juga yah…..
cowo aq mo berangkat ke sana ntar mlm jadi khawatir euy…
Comment by risa — August 16, 2008 @ 1:44 am
Perjalanan fisik(ragawi, indrawi)dan batin(emosi, mental,rohani)dipengaruhi oleh perkembangan pengalaman wawasan hidup seseorang berhadapan dengan pengenalan alam, manusia,religiositas, pengetahuan, pola pikir dan olah rasa, olah batin/rohani atau motivasi, komitmen, concern perorangan atau kelompok. Saya salut kepada para pendaki solo yang tangguh dan tegar mentalnya yg tetap eksis, punya komitmen baik perintis, penggiat, maupun fasilitator komunikasi orari/rapi/klub pa/ranger dll.
Harus kita akui masyarakat boleh menyebut angker, tetapi saya menyebut “suci” — dikeramatkan — karena memiliki keaslian tersendiri yg disebut ‘energi gunung’ status aktif atau pasif (ini tidak mistik), bisa dipelajari. Jatuhnya ada yang logis, masuk akal, tetapi ada yang tidak logis, tidak dapat dipahami nalar/akal sehat kita. Ya, biarkan saja mengendap ke batin masing-masing, menjadi peradaban yg bijak, arif, tawakal. Amin.
Salam Rimba!
Eka.Rst Palembang
Comment by Eka_Rst. — November 5, 2008 @ 5:30 am
duh lumayan serem juga yach….mau brangkat bulan desember 2008 jdi n9r1 n1cH uHh,,,Tp mNtAl w bRo mSih kUat….
Comment by amie — November 26, 2008 @ 7:31 am
duh lumayan serem juga yach….mau brangkat bulan desember 2008 jdi n9r1 n1cH uHh,,,Tp mNtAl w bRo mSih kUat….
Comment by amie croe-pala,,xarengge — November 26, 2008 @ 7:37 am
pengalaman adalah guru yang terbaik.
saya, dulu adalah pendaki termuda di gunung ciremai, pada usia saya 15th, liburan kelulusan SMP, seru dan tentunya ketagihan,,,
g panas,g dingin,g ujan, apalagi badai….. wusssssssss keren pisan….
Mau naik lagi??????
cal me please….
urang “kuningan” aaaaaaaasli….
cigugur,,, Desa “LUMBU”
Salam Rimba!
Comment by lorensius yoyo.w — December 16, 2008 @ 6:26 am
klo di gnung salak serem gk???
cz bln januari kita mw ksna
Comment by mapala unisaspala — December 22, 2008 @ 7:47 am