travel/placesMarch 16, 2005 12:05 pm

Sebelum naik gunung Ciremai, aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita bahwa gunung itu adalah salah satu gunung yang angker di seluruh Jawa.

Pada waktu itu bulan oktober, tahunnya aku lupa, mungkin tahun 92. Aku, Ika, Alam, Bejo, almarhum Kokong, Capit dan Ferdy sudah merencanakan naik gunung Ciremai. Aku juga sudah minta izin kepada ibuku dan sudah diperbolehkan.

Namun beberapa hari sebelum pendakian, ada kira-kira sepuluh pendaki yang tewas di gunung Slamet karena cuaca yang buruk. Maka akupun akhirnya dilarang oleh ibuku, “Jangan naik gunung dulu deh nak, cuaca lagi buruk, hujan terus, masa’ kamu mau naik gunung?”.

Karena belum pernah dilarang, maka akupun menurut saja. Akhirnya Ika pun tidak diizinkan oleh orangtuanya, padahal bayangkan saja, kami sudah repot-repot belanja perbekalan untuk pendakian, yang akhirnya kami berikan kepada teman-teman kami yang jadi mendaki. Mau nangis ga sih? makanan yang dibeli enak-enak lagi….

Pada hari H-nya, Ika dan aku memutuskan untuk mengantar teman-teman pria yang akan mendaki, kebetulan mereka seusai sekolah (atau kita bolos waktu itu? lupa…), mereka bersiap-siap di rumah Wendy, tidak jauh dari 70.

Ada Alam, Bejo, Capit, almarhum Kokong Jaya dan Ferdy. Namun…ketika kami berdua melihat mereka asyik mengepak, Ika dan aku saling melihat dan kami pun mengangguk seakan-akan bisa membaca pikiran masing-masing.

Betul….! kami berniat kabur ke Ciremai.

tempat yang salah untuk kabur
tempat yang salah untuk pergi setelah berdusta kepada orang tua….

Buru-burulah kami pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil baju seadanya dan ransel, kemudian kembali lagi ke rumah Wendy di bilangan blok M. Aku tinggalkan catatan untuk ibuku di white board yang biasa kugunakan untuk belajar mengaji. Aku bilang, “mih, aku akhirnya jadi berangkat ke Ciremai sama Ika. Pulang hari minggu, ngga usah khawatir”…

Setelah anggota pendakian lengkap, berangkatlah kami menuju terminal Pulo Gadung (kalo ga salah, lupa) diantar oleh ibunya Alam dengan mobilnya. Di bis, ketika hampir sampai di Cirebon, aku dan Ika memandang gunung itu melalui jendela. Saat itu langit memang sedikit mendung, namun gunung itu tidak bergeming, seperti menantang kedatangan kami. Terus terang hati kami agak bergetar, apalagi pakai berbohong dan kabur dari rumah segala….

Di terminal Cirebon, kami bertemu dengan seorang pendaki yang membawa grupnya, katanya dia sudah biasa mendaki gunung Ciremai, maka bergabunglah kami dengan grup mereka. Kami naik truk bak terbuka menuju Kuningan.

Ketika sampai di Kuningan, kami melapor kepada petugas penjaga hutan dan kelurahan, semua itu terima kasih atas kebaikan pendaki yang kami kenal tadi, sebut saja Asep namanya.

Akhirnya selesai Magrib kami mulai mendaki, tentunya Aseplah yang memimpin kami semua.

Gunung Ciremai ternyata tanjakannya seperti gunung Salak namun dalam skala yang besar. Tanjakannya terjal-terjal dan sulit, kalau tidak salah ada pos yang bernama “Kuburan Kuda”.

Kami sampai di puncak paginya, aku sendiri tidak ingat apakah kami bersistirahat malam harinya (maklum perjalanan ini sudah lewat lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika si penulis masih mudah euy…ha ha). Seingatku kami sempat beristirahat sebentar saja di “kuburan kuda”.

Sampai di puncak, aku sempat tertidur kecapean, karena itulah mukaku (sekitar hidung dan pipi) terbakar. Aku tertidur di samping ambang kawah yang indah. Seperti pendaki-pendaki lainnya, kami menyempatkan diri berfoto-foto.

Sekitar pukul satu siang kami melihat ke langit yang tampak mendung dan akan hujan, maka kamipun memutuskan untuk kembali ke bawah dengan tergesa-gesa, alias berlari-lari.

Di tengah perjalanan, hujan deras pun turun, seperti yang ditakutkan oleh ibuku. Namun kami tidak berhenti berjalan dan berlari menuruni gunung. Grup-grup pendaki lainnya pun menyusul grup kami yang akhirnya tertinggal. Sampai akhirnya kami disongsong oleh kegelapan malam di tengah hutan Ciremai.

Kami sudah lelah dan capai berjalan, namun sepertinya tidak pernah sampai di tujuan. Pepohonan tampak sama saja seperti pepohonan di atas, sepertinya kami terkurung di gunung itu.

Di suatu tempat kami pun berisitirahat, aku sendiri tertidur. Sementara Ika dan lainnya melihat “pendaki-pendaki” yang turun dari atas, padahal rombongan kamilah yang terakhir.

Dalam suatu kesempatan, aku sempat terpisah dari rombongan, aku ingat Capit berada di depanku, di belakangku Ika dan Alam. Ketika itu hujan sudah berhenti dan malam diterangi oleh bulan purnama. Ketika itu aku melewati jalan yang digenangi air hujan, di air itu aku lihat bayangan “tangan” yang melambai-lambai dengan jari-jari yang panjang. Karena sudah capai, aku pikir bayangan yang aku lihat itu adalah dahan pepohonan, namun anehnya gerakannya bukan gerakan dahan yang diterpa angin (dan pada saat itu pun tidak ada angin), melainkan gerakan jari-jari tangan yang bergerak perlahan-lahan- yang membedakan itu dari gerakan terpaan angin.

Aku tertegun melihat bayangan yang masih bergerak-gerak itu dengan senter di tanganku, walaupun sinar bulan pun sudah cukup menerangi jalan. Akhirnya aku mengacuhkan bayangan itu sambil terus berjalan, pikiran waktu itu “telmi” (telat mikir) karena sudah capai.

Setelah sejam-dua jam kemudian, barulah tampaknya kami berhasil melewati hutan yang lebat.

Aku sempat menangis, mata kakiku sakit dan lelah. Aku memelas kepada Bejo untuk ditinggal saja di hutan karena tidak kuat lagi berjalan….patetik ya???

Suatu kejadian aneh terjadi, aku terjatuh, namun ketika hendak bangun, aku tersadar bahwa aku duduk di sebuah batu yang besar, berdiameter 1 meter…bagaimana aku bisa berada di atas batu itu, akupun tidak mengerti.

Namun karena pikiran dan badan sudah lelah…..hal-hal itu tidak merisaukan pikiranku.

Menjelang subuh rombongan kami sampai di desa, kotor, lelah dan agak shock dengan kejadian yang di alami tiap-tiap anggota. Seperti Ika dan almarhum Kokong yang sempat melihat satu rumah di tengah persawahan. Dan Capit pun ternyata melihat bayangan yang sama seperti yang aku lihat.

Ketika aku sampai di rumah membayangkan kembali bayangan yang aku lihat, bulu tanganku bergidik….

Seperti yang aku perkirakan, sesampainya di rumah aku disambut oleh keheningan suara ibuku yang tampak kesal dengan “escapada” ku. Malamnya aku pun minta maaf kepada beliau dan tentu saja beliau memaafkan diriku yang bodoh ini….

all about blog 8:45 am

Guys, yesterday blogsome was parked, we couldn’t login nor saw our page. So you better make a back up of your stories.

online