Terkadang sulit mengubur seorang yang tidak bisa dimiliki.

Terkadang cinta harus berhadapan dengan kenyataan yang melawan keberadaan cinta itu.

Sakit yang sulit untuk diobati, luka yang tidak terlihat, perasaan yang tidak menentu.

Hanya bisa mengubur diri dalam tumpukan pekerjaan, menghindar lagu-lagu cinta yang berdengung di radio mobil, mencari-cari seseorang yang lain, yang bisa membantu mengubur cinta yang tidak bisa dimiliki.
Menghapus namanya dari messenger, nomernya di hp, mencantumkan alamat emailnya sebagai “spam” atau “junk email”, merobek-robek fotonya dan setelah itu membakarnya, kemudian menjebloskan abunya ke dalam WC.

Namun ketika malam menyambut, ketika tidak ada sisa lagi pekerjaan kantor untuk diurus, ketika tubuh sudah bersih keluar dari kamar mandi, ketika perut sudah kenyang akan makanan yang dibuat mama, ketika ingin memejamkan mata dan ingin langsung terlelap…

Di langit-langit kamar terlihat dirinya, ketika mata terpejam, dalam kegelapan terlihat juga dirinya. Berbaring ke kiri, ke kanan, tengkurap, posisi fetal, menutup kepala dengan bantal….hanya terdengar lagu ketika ia bersama dirinya, suaranya di telpon, senyumannya ketika menyongsongnya dari kejauhan, langkah-langkahnya…

“Sialan” ujarnya dalam hati.

Kemudian ia bangun dan menyalakan rokoknya sambil membuka jendela kamar. “Ini sungguh menyeramkan, bagaimana aku melupakan dirinya?”

Ketika itu angin masuk dari luar melalui jendela kamarnya dan membawa harum tubuh orang yang dicintainya.
Ia pun bangkit menutup jendela itu, memulai lagi sebatang rokok yang baru, bersumpah agar bau kamar ini dipenuhi bau rokok yang dihisapnya.

Apalagi benda-benda miliknya yang belum aku bakar? sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

Ketika ia sampai pada batang rokok yang ke sepuluh, ia pun memutuskan untuk membuka sedikit jendela kamarnya dan tidur. Namun matanya tidak terpejam, memikirkan “ia” yang tidak berada dalam pelukannya.
Air mata menitik dan jatuh ke pipinya, kemudian ke seprei tempat tidurnya.

Putus asa tak mampu melampaui perasaan cintanya kepada seseorang.

“Besok kumulai hari yang baru, besok kumulai hari yang baru, besok….” sampai terlelap.