Ketika aku melihat film “The Sea Inside“, dari awal hingga akhir film, aku tidak dapat berhenti menangis, air mata terus mengalir dari mataku, sambil terisak-isak.
Untung saja ketika itu penonton bioskop hanya aku, seorang bapak-bapak dan dua orang wanita. Kebetulan saat itu hari kerja dan sudah malam, aku sedang bertengkar dengan suamiku.
Film itu seperti yang kamu ketahui diambil dari kisah nyata, menceritakan tentang Ramón San Pedro yang cacat total (tertapléjico) yang menginginkan kematian, dengan kata lain dia menuntut kepada masyarakat dan pihak yang bertanggung jawab supaya dia di”bunuh”, dimatikan saja, karena bagi dia hidup di tempat tidur bukanlah kehidupan yang ia inginkan.
Terlepas dari gambaran teknik film ini, sebenarnya seseorang tidak perlu menunggu menjadi cacat total untuk menuntut sebuah kematian, ada banyak orang-orang di luar sana, di dunia ini yang menginginkan kematian menjemput dirinya tanpa harus menderita cacat atau sakit. Mereka orang-orang yang secara fisik sehat, bahkan tidak kekurangan apapun dalam hidup ini, alasannya? tiap jiwa punya alasannya sendiri-sendiri. Seperti tiap nasib menuntun orang-orangnya.
Lihat di Jepang sana, anak-anak muda yang mengorganisasi kematian mereka sendiri.
Mati memang seribu kali lebih gampang dari hidup. Dalam kehidupan kita menemukan diri kita, dalam kehidupan ini ada pencarian yang tiada akhir yang membantu kita menyebrangi jembatan itu. Hingga umur kita sampai pada angka yang tertulis di Kitab Besar itu.
