yang patetic, buku/film/celebMarch 10, 2005 3:39 pm

Ketika aku melihat film “The Sea Inside“, dari awal hingga akhir film, aku tidak dapat berhenti menangis, air mata terus mengalir dari mataku, sambil terisak-isak.

Untung saja ketika itu penonton bioskop hanya aku, seorang bapak-bapak dan dua orang wanita. Kebetulan saat itu hari kerja dan sudah malam, aku sedang bertengkar dengan suamiku.

Film itu seperti yang kamu ketahui diambil dari kisah nyata, menceritakan tentang Ramón San Pedro yang cacat total (tertapléjico) yang menginginkan kematian, dengan kata lain dia menuntut kepada masyarakat dan pihak yang bertanggung jawab supaya dia di”bunuh”, dimatikan saja, karena bagi dia hidup di tempat tidur bukanlah kehidupan yang ia inginkan.

Terlepas dari gambaran teknik film ini, sebenarnya seseorang tidak perlu menunggu menjadi cacat total untuk menuntut sebuah kematian, ada banyak orang-orang di luar sana, di dunia ini yang menginginkan kematian menjemput dirinya tanpa harus menderita cacat atau sakit. Mereka orang-orang yang secara fisik sehat, bahkan tidak kekurangan apapun dalam hidup ini, alasannya? tiap jiwa punya alasannya sendiri-sendiri. Seperti tiap nasib menuntun orang-orangnya.

Lihat di Jepang sana, anak-anak muda yang mengorganisasi kematian mereka sendiri.

Mati memang seribu kali lebih gampang dari hidup. Dalam kehidupan kita menemukan diri kita, dalam kehidupan ini ada pencarian yang tiada akhir yang membantu kita menyebrangi jembatan itu. Hingga umur kita sampai pada angka yang tertulis di Kitab Besar itu.

puisi & fiksi 11:27 am

Terkadang sulit mengubur seorang yang tidak bisa dimiliki.

Terkadang cinta harus berhadapan dengan kenyataan yang melawan keberadaan cinta itu.

Sakit yang sulit untuk diobati, luka yang tidak terlihat, perasaan yang tidak menentu.

Hanya bisa mengubur diri dalam tumpukan pekerjaan, menghindar lagu-lagu cinta yang berdengung di radio mobil, mencari-cari seseorang yang lain, yang bisa membantu mengubur cinta yang tidak bisa dimiliki.
Menghapus namanya dari messenger, nomernya di hp, mencantumkan alamat emailnya sebagai “spam” atau “junk email”, merobek-robek fotonya dan setelah itu membakarnya, kemudian menjebloskan abunya ke dalam WC.

Namun ketika malam menyambut, ketika tidak ada sisa lagi pekerjaan kantor untuk diurus, ketika tubuh sudah bersih keluar dari kamar mandi, ketika perut sudah kenyang akan makanan yang dibuat mama, ketika ingin memejamkan mata dan ingin langsung terlelap…

Di langit-langit kamar terlihat dirinya, ketika mata terpejam, dalam kegelapan terlihat juga dirinya. Berbaring ke kiri, ke kanan, tengkurap, posisi fetal, menutup kepala dengan bantal….hanya terdengar lagu ketika ia bersama dirinya, suaranya di telpon, senyumannya ketika menyongsongnya dari kejauhan, langkah-langkahnya…

“Sialan” ujarnya dalam hati.

Kemudian ia bangun dan menyalakan rokoknya sambil membuka jendela kamar. “Ini sungguh menyeramkan, bagaimana aku melupakan dirinya?”

Ketika itu angin masuk dari luar melalui jendela kamarnya dan membawa harum tubuh orang yang dicintainya.
Ia pun bangkit menutup jendela itu, memulai lagi sebatang rokok yang baru, bersumpah agar bau kamar ini dipenuhi bau rokok yang dihisapnya.

Apalagi benda-benda miliknya yang belum aku bakar? sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

Ketika ia sampai pada batang rokok yang ke sepuluh, ia pun memutuskan untuk membuka sedikit jendela kamarnya dan tidur. Namun matanya tidak terpejam, memikirkan “ia” yang tidak berada dalam pelukannya.
Air mata menitik dan jatuh ke pipinya, kemudian ke seprei tempat tidurnya.

Putus asa tak mampu melampaui perasaan cintanya kepada seseorang.

“Besok kumulai hari yang baru, besok kumulai hari yang baru, besok….” sampai terlelap.

yang patetic 10:49 am

Aku punya seorang rekan kerja yang juga seorang pecinta binatang seperti diriku.

Kalau dia sedang menganggur, dia terkadang masuk ke dalam forum tentang pembelaan binatang di Internet. Aku tahu sering kali ada kasus di mana binatang-binatang itu mati secara mengenaskan karena perbuatan manusia. Aku terus terang tidak pernah ingin mendengar berita-berita yang menyedihkan mengenai nasib binatang itu, sama halnya ketika aku menghindar melihat berita di televisi agar tidak melihat dan mendengar berita-berita menyedihkan tentang kematian dan kesengsaraan manusia di belahan bumi lainnya.

Namun rekan kerjaku itu terkadang dengan “rajin” menceritakan apa yang dia lihat dan dia dengar di forum itu.

Menyebalkan bukan? bukannya aku tidak sayang kepada mahluk hidup yang menderita, hanya saja keseringan mendengar hal itu seringkali membuatku berpikir pesimis dalam menjalankan kehidupan di muka bumi ini.

online