asem manis asinMarch 9, 2005 2:29 pm

Sebut saja Urip namanya, seorang teman yang baru saya kenal. Ia merantau dari Sulawesi dan pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Entah ia anak keberapa dari tujuh bersaudara. Ia lulusan STM.

Kisahnya menarik untuk diceritakan di sini.

Di Jakarta sendiri Urip berganti-ganti pekerjaan, mulai dari tukang ngamen karena diajak pengangguran lainnya. Namun ia memutuskan untuk tidak menjadi pengamen, selain karena itu bentuk lain dari mengemis, hasil dari ngamenan itupun dipergunakan untuk mabuk-mabukkan oleh rekan-rekannya.

Kemudian dia pun sempat menjadi kuli bangunan, namun lingkungan inipun tidak jauh dari judi dan mabuk-mabukkan malam sehabis bekerja.

Urip pun akhirnya menjadi tukang angkut di pelabuhan Tanjung Priuk, kamu tau sendiri, lingkungan rumah di mana ia tinggal, di antara gubuk-gubuk dan sampah, juga baunya yang menyengat. Ia pun pasrah saja. Namun Urip berhasil bekerja di sebuah kapal korea. Hanya saja, akhirnya kapal itu managementnya dipegang oleh orang-orang rusia.

Urip pun berhasil keluar dari Indonesia dan membayangkan perubahan nasibnya untuk menjadi lebih baik.

Namun ternyata orang-orang rusia itu memperlakukan para awak secara tidak ber-prikemanusiaan.

Sampai akhirnya ketika persediaan makanan untuk awak kapal hampir habis, Urip dan beberapa rekan lainnya memutuskan untuk hengkang dari kapal itu pada pemberhentiaan yang terdekat.

Walaupun para awak kapal ditawari imbalan yang besar jika mereka bertahan di kapal sampai ke Perancis, temanku itu sudah tidak percaya lagi kepada kapten Rusia itu.

Maka ketika kapal itu menambat di Sevilla, di Spanyol Selatan, turunlah temanku itu. Pada awalnya, kapten kapal mengancam tidak memberikan paspor temanku dan dua rekan lainnya. Namun Urip berniat melaporkan kapten ini ke polisi setempat jika ia bermacam-macam dengan paspor mereka.

Kesalahan Urip di sini dia tidak melaporkan diri kepada kepolisian Spanyol tentang apa yang terjadi setelah dia turun dari kapal. Dia hanya menelpon perusahaan kapal yang berada di Inggris dan di Spanyol.

Saya sendiri tidak mengerti lebih jelas dengan ceritanya, bagaimana sistem kontrak dan kondisi para awak kapal. Yang jelas, ke dua rekannya berhasil pulang ke Indonesia, sedangkan Urip memutuskan untuk tinggal di Spanyol sambil berharap mendapatkan pekerjaan.

Urip sempat luntang lantung sepuluh hari di Sevilla tanpa punya tempat menginap, uang hanya cukup buat makan seadanya. Untung saja ketika itu sedang musim panas, jadi dia tidak kedinginan ketika harus tidur di tempat-tempat terbuka.

Sampai akhirnya dia sampai di Madrid, entah karena dijemput oleh orang kedutaan atau apa.

Di Madrid pun Urip ditampung oleh Palang Merah. Sampai akhirnya ia menemukan pekerjaan di lain kota, di Santander. Walaupun Urip belum mendapatkan kontrak dan situasinya masih ilegal, aku berharap dia bisa bertahan terus di sini dan memperbaiki nasibnya.

Semoga kau sukses…

buku/film/celeb 10:16 am

Me gustaría que Manuel Vicent me diera permiso para traducir este libro maravilloso en bahasa indonesia (indonesio), para compartir a los lectores de mi país de una historia de amor intenso.

Todavía no sé como pedirselo, pero mientras tanto voy a hablar de este libro para introducirlo a los lectores indonesios.

Terjemahan kutipan presentasi buku ini :

Son de Mar adalah sebuah novel cinta, dari yang tenggelam dan yang kembali. Semua yang telah mati kembali jika mereka dipanggil oleh kekasihnya dengan kekuatan semampunya. Pemeran utama di novel ini adalah seorang yang tenggelam yang kembali setelah sepuluh tahun, namun kejadian ini terjadi pula setiap hari di trotoar di kota-kota. Menurut buku petunjuk resureksi, syarat pertama yang dibutuhkan untuk kembali hidup adalah menjalankan hidup, walaupun kehidupan menenggelamkan dirimu dalam kedalaman lautan. Dalam kasus ini selalu akan ada seorang kekasih yang memanggilmu dari segala tepi dan kamu akan merasa perlu memenuhi panggilannya.

Buku ini yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan dengan judul “Mereka dari Laut”, ditulis oleh seorang penulis dari Valencia, Manuel Vicent.

Karyanya berhasil terpilih sebagai novel terbaik dalam Penghargaan Alfaguara tahun 1999. Manuel Vicent selain penulis novel juga bekerja di surat kabar “El País”.

Novel ini berbicara tentang seorang guru filosofi (Ulises Adsura) yang mengajar di sebuah sekolah di desa nelayan, tepatnya di daerah pantai timur Spanyol.

Sehari-harinya Ulises biasa berkunjung ke sebuah rumah makan yang dimiliki oleh orang tua seorang gadis yang bernama Martina. Ulises yang sering berpartisipasi dalam pembicaraan sehari-hari para nelayan menjadi jatuh cinta kepada dunia perlautan dan bermimpi suatu hari dia akan memiliki sebuah perahu dan berlayar mencari ikan.

Di rumah makan ini juga Ulises bertemu dengan Martina, yang bekerja membantu kedua orangtuanya. Ulises biasa duduk di teras belakang rumah makan dan sehari-harinya dilayani oleh Martina yang menghidangkan makanan. Ulises pun sering berbincang-bincang dengan Martina dan menceritakan cerita-cerita Yunani kuno yang berbicara tentang dewa, monster, dan sebagainya, hingga Martina pun jatuh cinta pada mata pelajaran yang diajarkan Ulises di sekolah.

Makin lama hubungan kedua anak muda ini semakin erat, mereka sering berjalan-jalan ke bukit yang indah tak jauh dari desa dengan vespa yang dimiliki oleh Ulises. Pertama kalinya mereka bermaksud mencari mata air- sebuah leyenda yang diceritakan oleh ayahnya Martina, menurutnya, di dalam lubang mata air itu ditemukan seekor kepala kuda, yang dari atas hanya terlihat biji matanya.

Dalam pencarian, mereka menemukan sebuah gua. Bercintalah keduanya di dalam gua itu.
Dengan alasan ingin melihat mata kuda itu, Martina mengajak Ulises berjalan-jalan ke bukit itu setiap kali ia ingin bercinta dengan kekasihnya.

Martina pun akhirnya hamil, pasangan ini memutuskan untuk menikah. Namun sampai saat mereka menikah, Ulises tidak pernah mengucapkan bahwa dia mencintai Martina, sedangkan Martina sangat mencintai lelaki itu.

Hari ke hari, Ulises hanya sibuk memikirkan mimpinya menjadi seorang nelayan dan sampai pada suatu hari dia berhasil membeli sebuah perahu. Perahu yang tadinya milik Jorgito, seorang nelayan yang menderita penyakit jiwa, diperbaiki oleh Ulises dan diberi nama “Martina”. Walaupun Jorgito sudah memperingati Ulises bahwa mengganti nama suatu perahu adalah pertanda buruk, namun Ulises tidak menghiraukan peringatannya.

Ulises selalu bermimpi untuk menangkap ikan tuna, ia ingin menangkap ikan tuna yang pertama keluar pada musimnya, seperti leyenda yang diceritakan oleh para nelayan bahwa ketika ikan-ikan itu muncul, mereka bisa menyilaukan mata kita, hingga nelayan yang melihat kumpulan ikan itu secara langsung, bisa menjadi buta.

Suatu minggu pagi, Ulises pun pamit kepada Martina untuk mencari ikan, iapun meminta Martina untuk dibuatkan goreng kentang yang ia sukai untuk dimakan saat ia pulang dari berlayar nanti. Namun sejak itu Ulises tidak pernah kembali.

Ke manakah Ulises? Apakah dia pergi karena dia tidak dan tidak pernah mencintai Martina? bagaimana nasib Martina sejak ia dinyatakan janda? Apakah Ulises suatu hari akan kembali dengan ikan tuna yang dijanjikannya kepada Martina? Bagaimana akhir dari kisah cinta kedua manusia ini? adakah cinta pada akhirnya?

Manuel Vicent berhasil merangkum sebuah cerita cinta dengan sederhana namun manis dan penuh misteri. Mungkin rangkumanku tidak cukup menjelaskan kisah roman ini, maka itu aku berharap bisa menterjemahkan buku ini ke dalam bahasa indonesia untuk berbagi sebuah kisah yang menggelapkan mata para pecinta sejati.

manusia/renungan 9:30 am

Proses penuaan diri seseorang biasa dimulai dari menipisnya rambut di kepala kita, anak-anak rambut mulai menjadi sedikit dan juga terjadi kerontokan ataupun kebotakan dalam beberapa kasus. Uban atau rambut putih ditemukan di sana sini, juga ketombe.

Kemudian mungkin pengerutan kulit di sekitar wajah, terutama di bagian samping dan di bawah mata kita, juga kulit tangan kita yang tidak sekencang dulu.

Lalu karena sibuk dengan pekerjaan, seseorang tidak lagi berolah raga seperti pada jaman-jaman dia sekolah atau kuliah, sehingga perutpun sedikit demi sedikit membengkak tanpa terasa. Pada perempuan, mungkin sebagian setelah melahirkan seorang bayi, tubuh tidak seramping sebelumnya.

Pada orang-orang lainnya, mata mulai lelah dan tidak lagi bisa melihat jarak jauh.

Lebih parah lagi yang menderita reuma atau penyakit-penyakit penuaan lainnya.

Ada orang-orang yang mengambil solusi dengan operasi plastik dan semacamnya, seperti lifting dan pengangkatan lemak.

Aku sendiri memilih solusi konvensional atau tradisional, contohnya rambutku mulai bermasalah dengan ketombe dan mulai menipis. Yang aku lakukan adalah memberi minyak cemcem-an sebelum keramas. Aku hindari shampo yang berisi hair conditioner agar rambut terhindar sebanyak mungkin dari zat-zat kimia.

Untuk kerut-kerut di mata, setiap malam sebelum tidur, tidak lupa aku oleskan krim untuk mata, intinya agar kulit di sekitar mata tidak kering sebelum berangkat tidur. Krim itu persis seperti krim yang digunakan para petinju ketika mereka bertarung…

Lalu untuk kulit tubuh dan muka, tentunya setiap hari aku rajin menggunakan lotion supaya kulit tidak mengering dan tidak cepat menua.

Supaya perut tidak buncit, kita juga perlu memperhatikan makanan yang kita makan sehari-hari. Seimbangkan jumlah karbohidrat dengan kalori yang kita butuhkan sehari-hari. Misalnya kalau pekerjaan kita sehari-hari di kantor yang tidak memerlukan kegiatan fisik secara penuh, maka jangan terlalu banyak makan nasi. Jangan lupa minum air putih sebanyak mungkin (bagi orang-orang yang tidak suka minum, cukup berat minum air putih saja) dan makan buah-buahan setelah makan.

Begitulah, sebagai mahluk hidup, kita mengalami proses penuaan. Aku sendiri menerimanya. Namun tidak ada salahnya kita merawat tubuh kita, agar proses itu berjalan selambat mungkin dan tidak mengkhawatirkan.

online