Sebut saja Urip namanya, seorang teman yang baru saya kenal. Ia merantau dari Sulawesi dan pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Entah ia anak keberapa dari tujuh bersaudara. Ia lulusan STM.
Kisahnya menarik untuk diceritakan di sini.
Di Jakarta sendiri Urip berganti-ganti pekerjaan, mulai dari tukang ngamen karena diajak pengangguran lainnya. Namun ia memutuskan untuk tidak menjadi pengamen, selain karena itu bentuk lain dari mengemis, hasil dari ngamenan itupun dipergunakan untuk mabuk-mabukkan oleh rekan-rekannya.
Kemudian dia pun sempat menjadi kuli bangunan, namun lingkungan inipun tidak jauh dari judi dan mabuk-mabukkan malam sehabis bekerja.
Urip pun akhirnya menjadi tukang angkut di pelabuhan Tanjung Priuk, kamu tau sendiri, lingkungan rumah di mana ia tinggal, di antara gubuk-gubuk dan sampah, juga baunya yang menyengat. Ia pun pasrah saja. Namun Urip berhasil bekerja di sebuah kapal korea. Hanya saja, akhirnya kapal itu managementnya dipegang oleh orang-orang rusia.
Urip pun berhasil keluar dari Indonesia dan membayangkan perubahan nasibnya untuk menjadi lebih baik.
Namun ternyata orang-orang rusia itu memperlakukan para awak secara tidak ber-prikemanusiaan.
Sampai akhirnya ketika persediaan makanan untuk awak kapal hampir habis, Urip dan beberapa rekan lainnya memutuskan untuk hengkang dari kapal itu pada pemberhentiaan yang terdekat.
Walaupun para awak kapal ditawari imbalan yang besar jika mereka bertahan di kapal sampai ke Perancis, temanku itu sudah tidak percaya lagi kepada kapten Rusia itu.
Maka ketika kapal itu menambat di Sevilla, di Spanyol Selatan, turunlah temanku itu. Pada awalnya, kapten kapal mengancam tidak memberikan paspor temanku dan dua rekan lainnya. Namun Urip berniat melaporkan kapten ini ke polisi setempat jika ia bermacam-macam dengan paspor mereka.
Kesalahan Urip di sini dia tidak melaporkan diri kepada kepolisian Spanyol tentang apa yang terjadi setelah dia turun dari kapal. Dia hanya menelpon perusahaan kapal yang berada di Inggris dan di Spanyol.
Saya sendiri tidak mengerti lebih jelas dengan ceritanya, bagaimana sistem kontrak dan kondisi para awak kapal. Yang jelas, ke dua rekannya berhasil pulang ke Indonesia, sedangkan Urip memutuskan untuk tinggal di Spanyol sambil berharap mendapatkan pekerjaan.
Urip sempat luntang lantung sepuluh hari di Sevilla tanpa punya tempat menginap, uang hanya cukup buat makan seadanya. Untung saja ketika itu sedang musim panas, jadi dia tidak kedinginan ketika harus tidur di tempat-tempat terbuka.
Sampai akhirnya dia sampai di Madrid, entah karena dijemput oleh orang kedutaan atau apa.
Di Madrid pun Urip ditampung oleh Palang Merah. Sampai akhirnya ia menemukan pekerjaan di lain kota, di Santander. Walaupun Urip belum mendapatkan kontrak dan situasinya masih ilegal, aku berharap dia bisa bertahan terus di sini dan memperbaiki nasibnya.
Semoga kau sukses…
