<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Tuhan-Manusia</title>
	<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/</link>
	<description>berisi tulisan-tulisan yang tidak terkait dengan moral agama maupun politik dan sejenisnya, pokok-e bebas...</description>
	<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 07:23:02 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: hermawan</title>
		<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-2264</link>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 12:57:17 +0100</pubDate>
		<guid>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-2264</guid>
					<description>Seep, jujur sekali...., piss</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Seep, jujur sekali&#8230;., piss
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: kiki</title>
		<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1986</link>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 09:37:41 +0000</pubDate>
		<guid>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1986</guid>
					<description>Saudari seorang muslimah, ingat ayat quran yg pertama kali diturunkan, bunyinya 'iqra!' , artinya 'bacalah'. Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca segala sesuatu yg bisa dibaca: buku,alam,sifat manusia.Singkatnya, Tuhan ingin manusia berpikir dgn akalnya ,bukan mendahulukan ego-nya. Termasuk merenungkan 'sebab2' dari suatu 'akibat'. Karena apa2 yg kita 'lihat,rasakan,pikirkan' sekarang adalah 'akibat'. Mari 'mencari' segala 'sebab2' itu.Coba kita mulai dgn 'kenapa kita percaya Tuhan itu ada?'</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Saudari seorang muslimah, ingat ayat quran yg pertama kali diturunkan, bunyinya &#8216;iqra!&#8217; , artinya &#8216;bacalah&#8217;. Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca segala sesuatu yg bisa dibaca: buku,alam,sifat manusia.Singkatnya, Tuhan ingin manusia berpikir dgn akalnya ,bukan mendahulukan ego-nya. Termasuk merenungkan &#8217;sebab2&#8242; dari suatu &#8216;akibat&#8217;. Karena apa2 yg kita &#8216;lihat,rasakan,pikirkan&#8217; sekarang adalah &#8216;akibat&#8217;. Mari &#8216;mencari&#8217; segala &#8217;sebab2&#8242; itu.Coba kita mulai dgn &#8216;kenapa kita percaya Tuhan itu ada?&#8217;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: kiki</title>
		<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1985</link>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 09:20:24 +0000</pubDate>
		<guid>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1985</guid>
					<description>Keimanan itu bertingkat2 dan bergejolak, pada level tertentu kadang naik kadang turun, baik karena faktor luar maupun dari dalam diri sendiri. Manusia itu selalu 'mencari', mencari jawaban atas segala sesuatu, termasuk yg berkenaan dgn Tuhannya. Kenapa harus begini dan begitu dalam agama, kenapa kok rasanya ga sreg lah, membatasi gerak, dll. Jawabnya, 'saya juga ga tau'. Tapi saya tau cara untuk mengetahui, 'cari tahu'. Bisa dgn membaca bnyk buku,bisa dgn bertanya pd yg ahli,atau merenung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Keimanan itu bertingkat2 dan bergejolak, pada level tertentu kadang naik kadang turun, baik karena faktor luar maupun dari dalam diri sendiri. Manusia itu selalu &#8216;mencari&#8217;, mencari jawaban atas segala sesuatu, termasuk yg berkenaan dgn Tuhannya. Kenapa harus begini dan begitu dalam agama, kenapa kok rasanya ga sreg lah, membatasi gerak, dll. Jawabnya, &#8217;saya juga ga tau&#8217;. Tapi saya tau cara untuk mengetahui, &#8216;cari tahu&#8217;. Bisa dgn membaca bnyk buku,bisa dgn bertanya pd yg ahli,atau merenung.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Ady</title>
		<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1704</link>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2007 17:57:41 +0100</pubDate>
		<guid>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1704</guid>
					<description>Masalah keyakinan,.....
Membaca tulisan Anda, saya cukup terkesan begitu juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Elsi. Di sini saya mencoba memberikan sedikit pendapat dan pandangan................&quot;mengenai kita beragama dan berkeyakinan&quot;

Kalau di katakan saya memeluk agama tertentu karena sebelumnya orang tua saya memluk agama tsb........bagi saya itu kurang pas, Mengapa?

Saya, manusia pada umumnya bukanlah mahkluk yang dapat menerima hal begitu saja dan itu yang saya rasakan setelah saya memasuki masa kuliah dulu. semula saya mempunyai keyakinan yang mungkin bida dianggap sebagai turunan dari Ortu, tetapi hal itu tidak membuat saya menerima begitu saja. Setelah saya mulai mempunyai sedikit wawasan dan analisa untuk sesuatu hal, saya coba lakukan itu pada semua hal dan keadaan yang pada akhirnya memberikan pandangan kepada saya bahwa segala sesuatu tidak dapat diterima begitu saja sebelum semuanya melalui suatu analisa dan pengujian serta pembuktian yang real.

Saya termasuk orang yang salah menurut &quot;pandangan orang lain' karena agama yang saya anut dan yang lain saya coba analisa dengan analisa keilmuan dan fakta yang ada (dapat dilihat). Misalnya
1. Kenapa saya yakin TUHAN itu ada?
   * karena saya kembalikan pada keadaan yang
     ada, darimana air, udara, daratan ini ada
     kalau tidak dibuat oleh seseorang yang
     maha.....
2. Bagaimana dengan kepercayaan/agama, dan mana
   yang bener?
   * Hanya satu agama yang bener, tidak mungkin
     ada dua, dan hanya ada satu kitab yang bener
     karena kitab itu adalah kata-kata TUHAN yang
     tidak mungkin berubah-ubah. 
   * Cara menanalisa dan mengujinya:
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan hati
       manusia
     - Hukum2-NYA tidak berubah-ubah (kekal)
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan 
       keilmuan terutama ilmu alam

Kedua hal diatas tsb yang membuat saya meyakini Agama yang saya pegang sekarang jadi saya sangat tidak setuju kalau Agama yang dianut orang itu karena atas dasar ortu.

Kalau kita percaya Agama hanya berdasarkan keyakinan dari turunan itu sama aja kita orang yang buta. TUHAN telah memberikan kita akal yang sangat sempurnah dan dengan akal kita bisa membuktikan bahwa TUHAN itu ada, dan kita juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan TUHAN tidak pernah melarang dengan mengeluarkan Hukum jangan membuktikan sesuatu, malah katanya &quot;Ujialah segala sesesuatu agar kamu tidak tersesat, segala sesuatu yang dari TUHAN adalah baik adanya dan segala yang jahat bukanlah dari TUHAN, karena TUHAN itu KUDUS dan benci akan kejahatan&quot;

oke mungkin hanya ini yang sementara dapat saya ungkapkan, semoga dapat berguna.


                                 Salam Kasih


                                   Jacobus</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Masalah keyakinan,&#8230;..<br />
Membaca tulisan Anda, saya cukup terkesan begitu juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Elsi. Di sini saya mencoba memberikan sedikit pendapat dan pandangan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;mengenai kita beragama dan berkeyakinan&#8221;</p>
	<p>Kalau di katakan saya memeluk agama tertentu karena sebelumnya orang tua saya memluk agama tsb&#8230;&#8230;..bagi saya itu kurang pas, Mengapa?</p>
	<p>Saya, manusia pada umumnya bukanlah mahkluk yang dapat menerima hal begitu saja dan itu yang saya rasakan setelah saya memasuki masa kuliah dulu. semula saya mempunyai keyakinan yang mungkin bida dianggap sebagai turunan dari Ortu, tetapi hal itu tidak membuat saya menerima begitu saja. Setelah saya mulai mempunyai sedikit wawasan dan analisa untuk sesuatu hal, saya coba lakukan itu pada semua hal dan keadaan yang pada akhirnya memberikan pandangan kepada saya bahwa segala sesuatu tidak dapat diterima begitu saja sebelum semuanya melalui suatu analisa dan pengujian serta pembuktian yang real.</p>
	<p>Saya termasuk orang yang salah menurut &#8220;pandangan orang lain&#8217; karena agama yang saya anut dan yang lain saya coba analisa dengan analisa keilmuan dan fakta yang ada (dapat dilihat). Misalnya<br />
1. Kenapa saya yakin TUHAN itu ada?<br />
   * karena saya kembalikan pada keadaan yang<br />
     ada, darimana air, udara, daratan ini ada<br />
     kalau tidak dibuat oleh seseorang yang<br />
     maha&#8230;..<br />
2. Bagaimana dengan kepercayaan/agama, dan mana<br />
   yang bener?<br />
   * Hanya satu agama yang bener, tidak mungkin<br />
     ada dua, dan hanya ada satu kitab yang bener<br />
     karena kitab itu adalah kata-kata TUHAN yang<br />
     tidak mungkin berubah-ubah.<br />
   * Cara menanalisa dan mengujinya:<br />
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan hati<br />
       manusia<br />
     - Hukum2-NYA tidak berubah-ubah (kekal)<br />
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan<br />
       keilmuan terutama ilmu alam</p>
	<p>Kedua hal diatas tsb yang membuat saya meyakini Agama yang saya pegang sekarang jadi saya sangat tidak setuju kalau Agama yang dianut orang itu karena atas dasar ortu.</p>
	<p>Kalau kita percaya Agama hanya berdasarkan keyakinan dari turunan itu sama aja kita orang yang buta. TUHAN telah memberikan kita akal yang sangat sempurnah dan dengan akal kita bisa membuktikan bahwa TUHAN itu ada, dan kita juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan TUHAN tidak pernah melarang dengan mengeluarkan Hukum jangan membuktikan sesuatu, malah katanya &#8220;Ujialah segala sesesuatu agar kamu tidak tersesat, segala sesuatu yang dari TUHAN adalah baik adanya dan segala yang jahat bukanlah dari TUHAN, karena TUHAN itu KUDUS dan benci akan kejahatan&#8221;</p>
	<p>oke mungkin hanya ini yang sementara dapat saya ungkapkan, semoga dapat berguna.</p>
	<p>                                 Salam Kasih</p>
	<p>                                   Jacobus
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Ady</title>
		<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1703</link>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2007 17:48:36 +0100</pubDate>
		<guid>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-1703</guid>
					<description>Masalah keyakinan,.....
Membaca tulisan Anda, saya cukup terkesan begitu juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Elsi. Di sini saya mencoba memberikan sedikit pendapat dan pandangan................&quot;mengenai kita beragama dan berkeyakinan&quot;

Kalau di katakan saya memeluk agama tertentu karena sebelumnya orang tua saya memluk agama tsb........bagi saya itu kurang pas, Mengapa?

Saya, manusia pada umumnya bukanlah mahkluk yang dapat menerima hal begitu saja dan itu yang saya rasakan setelah saya memasuki masa kuliah dulu. semula saya mempunyai keyakinan yang mungkin bida dianggap sebagai turunan dari Ortu, tetapi hal itu tidak membuat saya menerima begitu saja. Setelah saya mulai mempunyai sedikit wawasan dan analisa untuk sesuatu hal, saya coba lakukan itu pada semua hal dan keadaan yang pada akhirnya memberikan pandangan kepada saya bahwa segala sesuatu tidak dapat diterima begitu saja sebelum semuanya melalui suatu analisa dan pengujian serta pembuktian yang real.

Saya termasuk orang yang salah menurut &quot;pandangan orang lain' karena agama yang saya anut dan yang lain saya coba analisa dengan analisa keilmuan dan fakta yang ada (dapat dilihat). Misalnya
1. Kenapa saya yakin TUHAN itu ada?
   * karena saya kembalikan pada keadaan yang
     ada, darimana air, udara, daratan ini ada
     kalau tidak dibuat oleh seseorang yang
     maha.....
2. Bagaimana dengan kepercayaan/agama, dan mana
   yang bener?
   * Hanya satu agama yang bener, tidak mungkin
     ada dua, dan hanya ada satu kitab yang bener
     karena kitab itu adalah kata-kata TUHAN yang
     tidak mungkin berubah-ubah. 
   * Cara menanalisa dan mengujinya:
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan hati
       manusia
     - Hukum2-NYA tidak berubah-ubah (kekal)
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan 
       keilmuan terutama ilmu alam

Kedua hal diatas tsb yang membuat saya meyakini Agama yang saya pegang sekarang jadi saya sangat tidak setuju kalau Agama yang dianut orang itu karena atas dasar ortu.

Kalau kita percaya Agama hanya berdasarkan keyakinan dari turunan itu sama aja kita orang yang buta. TUHAN telah memberikan kita akal yang sangat sempurnah dan dengan akal kita bisa membuktikan bahwa TUHAN itu ada, dan kita juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan TUHAN tidak pernah melarang dengan mengeluarkan Hukum jangan membuktikan sesuatu, malah katanya &quot;Ujialah segala sesesuatu agar kamu tidak tersesat, segala sesuatu yang dari TUHAN adalah baik adanya dan segala yang jahat bukanlah dari TUHAN, karena TUHAN itu KUDUS dan benci akan kejahatan&quot;

oke mungkin hanya ini yang sementara dapat saya ungkapkan, semoga dapat berguna.


                                 Salam Kasih


                                   Jacobus</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Masalah keyakinan,&#8230;..<br />
Membaca tulisan Anda, saya cukup terkesan begitu juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Elsi. Di sini saya mencoba memberikan sedikit pendapat dan pandangan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;mengenai kita beragama dan berkeyakinan&#8221;</p>
	<p>Kalau di katakan saya memeluk agama tertentu karena sebelumnya orang tua saya memluk agama tsb&#8230;&#8230;..bagi saya itu kurang pas, Mengapa?</p>
	<p>Saya, manusia pada umumnya bukanlah mahkluk yang dapat menerima hal begitu saja dan itu yang saya rasakan setelah saya memasuki masa kuliah dulu. semula saya mempunyai keyakinan yang mungkin bida dianggap sebagai turunan dari Ortu, tetapi hal itu tidak membuat saya menerima begitu saja. Setelah saya mulai mempunyai sedikit wawasan dan analisa untuk sesuatu hal, saya coba lakukan itu pada semua hal dan keadaan yang pada akhirnya memberikan pandangan kepada saya bahwa segala sesuatu tidak dapat diterima begitu saja sebelum semuanya melalui suatu analisa dan pengujian serta pembuktian yang real.</p>
	<p>Saya termasuk orang yang salah menurut &#8220;pandangan orang lain&#8217; karena agama yang saya anut dan yang lain saya coba analisa dengan analisa keilmuan dan fakta yang ada (dapat dilihat). Misalnya<br />
1. Kenapa saya yakin TUHAN itu ada?<br />
   * karena saya kembalikan pada keadaan yang<br />
     ada, darimana air, udara, daratan ini ada<br />
     kalau tidak dibuat oleh seseorang yang<br />
     maha&#8230;..<br />
2. Bagaimana dengan kepercayaan/agama, dan mana<br />
   yang bener?<br />
   * Hanya satu agama yang bener, tidak mungkin<br />
     ada dua, dan hanya ada satu kitab yang bener<br />
     karena kitab itu adalah kata-kata TUHAN yang<br />
     tidak mungkin berubah-ubah.<br />
   * Cara menanalisa dan mengujinya:<br />
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan hati<br />
       manusia<br />
     - Hukum2-NYA tidak berubah-ubah (kekal)<br />
     - Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan<br />
       keilmuan terutama ilmu alam</p>
	<p>Kedua hal diatas tsb yang membuat saya meyakini Agama yang saya pegang sekarang jadi saya sangat tidak setuju kalau Agama yang dianut orang itu karena atas dasar ortu.</p>
	<p>Kalau kita percaya Agama hanya berdasarkan keyakinan dari turunan itu sama aja kita orang yang buta. TUHAN telah memberikan kita akal yang sangat sempurnah dan dengan akal kita bisa membuktikan bahwa TUHAN itu ada, dan kita juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan TUHAN tidak pernah melarang dengan mengeluarkan Hukum jangan membuktikan sesuatu, malah katanya &#8220;Ujialah segala sesesuatu agar kamu tidak tersesat, segala sesuatu yang dari TUHAN adalah baik adanya dan segala yang jahat bukanlah dari TUHAN, karena TUHAN itu KUDUS dan benci akan kejahatan&#8221;</p>
	<p>oke mungkin hanya ini yang sementara dapat saya ungkapkan, semoga dapat berguna.</p>
	<p>                                 Salam Kasih</p>
	<p>                                   Jacobus
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Meldy</title>
		<link>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-2</link>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2005 15:35:11 +0000</pubDate>
		<guid>http://nagasundani.blogsome.com/2005/03/08/tuhan-manusia/#comment-2</guid>
					<description>At 6:36 PM, eM_Dee said... 
Elsi,

Ketika suatu masyarakat mulai membiarkan gejala kemunafikan dan kekorupan –dengan menganggapnya sebagai sesuatu yg wajar— dan mulai cenderung untuk mengangkat dan menerimanya menjadi suatu “kode sosial” yang baru, maka kata kejujuran dan ketulusan bak kehilangan makna... Buat gue, pandangan elo di sini adalah buah kejujuran dan ketulusan hati, yg pastinya berangkat dari rasa gundah yg mendalam atas berbagai macam peristiwa yg harus ditempuh oleh umat manusia di berbagai belahan dunia ini... entah dalam kurun 5 thn terakhir, 1 dekade, 1 abad, atau bahkan sepanjang abad sejarah manusia itu sendiri. Dan memang tidak ada pertikaian terbesar sepanjang sejarah manusia selain dr pada pertikaian dng latar belakang perbedaan keyakinan (walaupun jika dikaji scr kritis, sumber utama pertikaian bukanlah atas dasar perbedaan iman, melainkan perebutan sumber-sumber ekonomis dan usaha memperlebar sayap kekuasaan semata). Persoalan keyakinan memang bisa jadi hal yg runyam ketika ia “menikah” dengan kekuasaan....

Hans Kung, seorang cendekiawan Kristen pernah bilang, “... no peace among the nations without peace among the religions; no peace among the religions without dilogue between the religions; no dialogue between religions without investigating the foundation of religions...” Nah, sayangnya... di negara kita (gue? Hehehe kasian deh gue) masih banyak yg beranggapan bhw persoalan keyakinan bukanlah utk ditelaah atau diselidiki... Keyakinan menjadi sesuatu yg given begitu saja... taken for granted (eh... bener gak sih istilah inggrisnya begitu... ?? hehehe) di mana keluarga menjadi media utk menurunalihkan (transmission) keyakinan itu... Gua menjadi seorang Kristen, misalnya, ya karena kebetulan saja dilahirkan dlm keluarga dng tradisi keimanan Kristen. Begitu juga elo yg Islam. Sebagai sesuatu yg given, keyakinan ya tdk perlu ditelaah-telaah atau diselidiki begitu. Penelaahan mengasumsikan adanya suatu keraguan... dan keraguan bukanlah keyakinan, bukan? Begitulah kurang lebih logika pikirnya. Menyelidiki keyakinan tdk akan membawa kepada keteguhan iman; yg ada malahan terjerembab ke dalam rimba keragu-raguan dan ketidakpastian.... (dalam istilah elo “krisis kebatinan”)

Tapi... apa benar begitu?
Bukankah keyakinan itu adalah sebuah proses tanpa henti, yg berawal dari keragu-raguan kita? Itulah sebabnya ia sering digambarkan dng menggunakan metafor peziarahan atau pilgrimage. Seorang peziarah terus berjalan dr satu tempat ke tempat yg lainnya sampai ia tiba di akhir tujuannya. Manusia adalah “peziarah” di dunia ini. Ia seharusnya terus mencari... berjalan utk menemukan satu makna ke makna yg lain dan proses itu berjalan terus hingga ia menemukan The Ultimate Reality... Al-Haqq....The One (Film Matrix.. hehehe) ..dan pada titik inilah proses peziarahan usai. Barulah manusia berhenti dr keragu-raguan hatinya. 
Kedua, masih soal “krisis kebatinan”. Sejauh yg gua tahu, hampir semua Nabi atau Rasul, ketika dlm proses penerimaan wahyu... tdk ada yg langsung yakin dan percaya bhw yg mrk “dengar” adalah kalam Allah sendiri. Mereka ragu-ragu dulu... bahkan ada yg takut... baru kemudian yakin....
Lha... kalo ada orang yg belum apa-apa udah yakin, bgm itu menyebutnya yah? Blind Faith... kali ye....

Sementara itu, relasi Sang Khalik dng manusia tdk seperti relasi manusia dng sesama manusia. Jika relasi antar sesama manusia sdh terdistorsi dng kepentingan politis-ekonomis, maka gua rasa cara “Dia” berhubungan dng kita tdk begitu. Maksudnya, “Dia” pasti ‘gak lebih sayang sama orang-orang yg rajin beribadah tinimbang dng orang yg jarang beribadah..... Dan kalau kita beranggapan bhw “Dia” pasti akan melimpahkan segala yg kita harapkan apabila kita setia dan rajin beribadah padanya, jelas itu masih melihat relasi Allah-manusia dr perspektif kepentingan politis-ekonomis tadi. (ada uang, ada barang; you bayar ai kasih lhaaa) Ustadz gua di kampus pernah bilang: “Allah tdk akan menjadi lebih besar apabila kita sering menyembahnya; sebaliknya, Allah tdk akan menjadi kecil bila kita tdk pernah menyembahnya”. Jadi, kayaknya gua rasa relasi Allah-Manusia bisa diistilahkan sebagai relasi walaupun.... Walaupun elo jelek (hehehe), elo brengsek, elo jarang ikut misa, elo jarang shallat, elo gay, elo lesbi, dan lain-lain.... “Dia” pasti masih dan selalu membuka pintu hubungan baik dng manusia.... Bukan relasi karena; karena elo rajin shallat, karena elo rajin misa, karena org tua elo Kyai, karena elo hapal kitab suci bolak-balik atas-bawah (hehehe), dan lainlain... Tapi gua akan naik banding kalo “Dia” ngampunin koruptor dan para penjahat-penjahat elit lainnya yg mengakibatkan rakyat kecil jd sengsara... 

Terakhir,
Gua setuju ketika elo scr tdk langsung bertanya: “Apakah yg dpt dijadikan ukuran bhw seseorang itu religius?” Frekwensi ritual ibadah yg telah dijalankannya-kah? Besarnya amal yg disumbangkannya-kah? Pengetahuannya yg mendalam soal iman dan ketuhanannya-kah? Tidak juga... Ukurannya, mnr gua, adalah perilaku sosialnya di tengah-tengah kehidupan kongkrit... Cepat tanggap nggak, mereka dng persoalan kemiskinan (di sini banyak orang miskin soalnya elsi, termasuk gue.. rakyat jelata...), dng persoalan korupsi, dng persoalan pengangguran.... hehehe semua contoh yg gua sebut khas Indonesia yah... Beruntung sekali elo nggak setiap hari ngadepin orang-orang egois kayak di Jakarta ini... 
Udah dulu yah, en gak usah sedih kalo dicap kafir ama org lain... krn itu kan kafir menurut konsepnya sendiri.....Thanks!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>At 6:36 PM, eM_Dee said&#8230;<br />
Elsi,</p>
	<p>Ketika suatu masyarakat mulai membiarkan gejala kemunafikan dan kekorupan –dengan menganggapnya sebagai sesuatu yg wajar— dan mulai cenderung untuk mengangkat dan menerimanya menjadi suatu “kode sosial” yang baru, maka kata kejujuran dan ketulusan bak kehilangan makna&#8230; Buat gue, pandangan elo di sini adalah buah kejujuran dan ketulusan hati, yg pastinya berangkat dari rasa gundah yg mendalam atas berbagai macam peristiwa yg harus ditempuh oleh umat manusia di berbagai belahan dunia ini&#8230; entah dalam kurun 5 thn terakhir, 1 dekade, 1 abad, atau bahkan sepanjang abad sejarah manusia itu sendiri. Dan memang tidak ada pertikaian terbesar sepanjang sejarah manusia selain dr pada pertikaian dng latar belakang perbedaan keyakinan (walaupun jika dikaji scr kritis, sumber utama pertikaian bukanlah atas dasar perbedaan iman, melainkan perebutan sumber-sumber ekonomis dan usaha memperlebar sayap kekuasaan semata). Persoalan keyakinan memang bisa jadi hal yg runyam ketika ia “menikah” dengan kekuasaan&#8230;.</p>
	<p>Hans Kung, seorang cendekiawan Kristen pernah bilang, “&#8230; no peace among the nations without peace among the religions; no peace among the religions without dilogue between the religions; no dialogue between religions without investigating the foundation of religions&#8230;” Nah, sayangnya&#8230; di negara kita (gue? Hehehe kasian deh gue) masih banyak yg beranggapan bhw persoalan keyakinan bukanlah utk ditelaah atau diselidiki&#8230; Keyakinan menjadi sesuatu yg given begitu saja&#8230; taken for granted (eh&#8230; bener gak sih istilah inggrisnya begitu&#8230; ?? hehehe) di mana keluarga menjadi media utk menurunalihkan (transmission) keyakinan itu&#8230; Gua menjadi seorang Kristen, misalnya, ya karena kebetulan saja dilahirkan dlm keluarga dng tradisi keimanan Kristen. Begitu juga elo yg Islam. Sebagai sesuatu yg given, keyakinan ya tdk perlu ditelaah-telaah atau diselidiki begitu. Penelaahan mengasumsikan adanya suatu keraguan&#8230; dan keraguan bukanlah keyakinan, bukan? Begitulah kurang lebih logika pikirnya. Menyelidiki keyakinan tdk akan membawa kepada keteguhan iman; yg ada malahan terjerembab ke dalam rimba keragu-raguan dan ketidakpastian&#8230;. (dalam istilah elo “krisis kebatinan”)</p>
	<p>Tapi&#8230; apa benar begitu?<br />
Bukankah keyakinan itu adalah sebuah proses tanpa henti, yg berawal dari keragu-raguan kita? Itulah sebabnya ia sering digambarkan dng menggunakan metafor peziarahan atau pilgrimage. Seorang peziarah terus berjalan dr satu tempat ke tempat yg lainnya sampai ia tiba di akhir tujuannya. Manusia adalah “peziarah” di dunia ini. Ia seharusnya terus mencari&#8230; berjalan utk menemukan satu makna ke makna yg lain dan proses itu berjalan terus hingga ia menemukan The Ultimate Reality&#8230; Al-Haqq&#8230;.The One (Film Matrix.. hehehe) ..dan pada titik inilah proses peziarahan usai. Barulah manusia berhenti dr keragu-raguan hatinya.<br />
Kedua, masih soal “krisis kebatinan”. Sejauh yg gua tahu, hampir semua Nabi atau Rasul, ketika dlm proses penerimaan wahyu&#8230; tdk ada yg langsung yakin dan percaya bhw yg mrk “dengar” adalah kalam Allah sendiri. Mereka ragu-ragu dulu&#8230; bahkan ada yg takut&#8230; baru kemudian yakin&#8230;.<br />
Lha&#8230; kalo ada orang yg belum apa-apa udah yakin, bgm itu menyebutnya yah? Blind Faith&#8230; kali ye&#8230;.</p>
	<p>Sementara itu, relasi Sang Khalik dng manusia tdk seperti relasi manusia dng sesama manusia. Jika relasi antar sesama manusia sdh terdistorsi dng kepentingan politis-ekonomis, maka gua rasa cara “Dia” berhubungan dng kita tdk begitu. Maksudnya, “Dia” pasti ‘gak lebih sayang sama orang-orang yg rajin beribadah tinimbang dng orang yg jarang beribadah&#8230;.. Dan kalau kita beranggapan bhw “Dia” pasti akan melimpahkan segala yg kita harapkan apabila kita setia dan rajin beribadah padanya, jelas itu masih melihat relasi Allah-manusia dr perspektif kepentingan politis-ekonomis tadi. (ada uang, ada barang; you bayar ai kasih lhaaa) Ustadz gua di kampus pernah bilang: “Allah tdk akan menjadi lebih besar apabila kita sering menyembahnya; sebaliknya, Allah tdk akan menjadi kecil bila kita tdk pernah menyembahnya”. Jadi, kayaknya gua rasa relasi Allah-Manusia bisa diistilahkan sebagai relasi walaupun&#8230;. Walaupun elo jelek (hehehe), elo brengsek, elo jarang ikut misa, elo jarang shallat, elo gay, elo lesbi, dan lain-lain&#8230;. “Dia” pasti masih dan selalu membuka pintu hubungan baik dng manusia&#8230;. Bukan relasi karena; karena elo rajin shallat, karena elo rajin misa, karena org tua elo Kyai, karena elo hapal kitab suci bolak-balik atas-bawah (hehehe), dan lainlain&#8230; Tapi gua akan naik banding kalo “Dia” ngampunin koruptor dan para penjahat-penjahat elit lainnya yg mengakibatkan rakyat kecil jd sengsara&#8230; </p>
	<p>Terakhir,<br />
Gua setuju ketika elo scr tdk langsung bertanya: “Apakah yg dpt dijadikan ukuran bhw seseorang itu religius?” Frekwensi ritual ibadah yg telah dijalankannya-kah? Besarnya amal yg disumbangkannya-kah? Pengetahuannya yg mendalam soal iman dan ketuhanannya-kah? Tidak juga&#8230; Ukurannya, mnr gua, adalah perilaku sosialnya di tengah-tengah kehidupan kongkrit&#8230; Cepat tanggap nggak, mereka dng persoalan kemiskinan (di sini banyak orang miskin soalnya elsi, termasuk gue.. rakyat jelata&#8230;), dng persoalan korupsi, dng persoalan pengangguran&#8230;. hehehe semua contoh yg gua sebut khas Indonesia yah&#8230; Beruntung sekali elo nggak setiap hari ngadepin orang-orang egois kayak di Jakarta ini&#8230;<br />
Udah dulu yah, en gak usah sedih kalo dicap kafir ama org lain&#8230; krn itu kan kafir menurut konsepnya sendiri&#8230;..Thanks!!
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
