Susah juga nih mau mulai bicara masalah kepercayaan kepada Tuhan. Yang jelas dari dulu manusia selalu mencari Tuhannya, baik hasilnya Tuhan dalam bentuk manusia, binatang, fenomena alam, atau Tuhan yang tidak dapat dilihat namun diyakinkan keberadaannya oleh banyak orang.
Lucunya gini, kebanyakan manusia berbicara kepada Tuhannya ketika dia dalam keadaan membutuhkan, dia pikir kalo dia berbicara dan memohon kepada Tuhannya, pasti dia akan tertolong. Sedangkan kalau dia sudah terselamatkan, dia langsung lupa akan Tuhannya. Ini terjadi pada saya, anda dan banyak orang. Ngaku aja deh…
Saya tidak menindas kemungkinan akan adanya manusia-manusia yang selalu mencari keberadaan tuhannya atau selalu mengabdi kepada tuhannya. Orang-orang yang solat 5 waktu sehari, orang-orang yang pergi ke misa tiap hari minggu, dan seterusnya.
Sama ngga sih orang yang solat lima waktu dengan yang ngga? orang yang pergi ke misa dan orang yang ngga? woah..jelas beda, menurut orang-orang yang mengabdi, mereka bilang, orang yang ingat akan Tuhannya pasti akan lebih disayang, dilindungi dan seterusnya.
Bagi saya yang mengaku muslim, sulit mempertahankan kemauan saya untuk berkomunikasi dengan Dia lima waktu sekali. Padahal tiap kali cuma lima menit. Dalam keadaan di mana saya sedang merasa stabil, baik dan tidak membutuhkan pertolongannya, maka secara perlahan-lahan, solat saya tinggalkan. Namun tidak betul kalau saya lupa Tuhan begitu saja. Saya sadar kalau Tuhan ada di hati kita, di nafas kita, di langit dan di mana-mana.
Dengan ini pula, saya ingin mengakui kejelekan saya demi mengerti bagaimana mencapai diriNya.
Dalam halnya berbagai agama menuliskan keberadaan Setan dan Malaikat. Tugas Setan menggoda diri kita supaya menjauhi jalanNya. Sedang Malaikat mencatat perbuatan kita, saya sendiri tidak tahu jika malaikat mengajak kita berbuat baik atau tidak, saya harap demikian…
Bagi saya, kejelekan saya adalah dari diri saya sendiri, bukan karena godaan setan, karena bagi saya setan tidak tampak dan sulit dimengerti jika dia ada di samping saya setiap waktu untuk menjeremuskan saya.
Setiap solat selalu saya meminta kepadaNya supaya Dia membimbing saya dan memelihara keadaan “baik” di mana saya menjalankan perintahNya. Namun pada akhirnya selalu gagal, selalu saja saya meninggalkan perintahNya. Inilah yang menjadi pertanyaan saya. Kenapa saya selalu gagal? apakah saya ditakdirkan menjadi seorang pemberontak? sampai kapan?
Ketika saya pikir saya adalah salah satu dari orang-orang yang telah memilih jalan yang benar, ternyata kemauan saya malah tertelan di tengah jalan. Kadang tanpa saya sadari. Saya tidak mengerti, salah di mana? kenapa tidak berfungsi doa-doa saya? ada di mana saya? kenapa saya berbeda dengan golongan orang yang mengabdi tersebut? kenapa saya selalu terlempar keluar darinya?
Saya salut melihat orang-orang yang bisa mengabdi dan menjalankan perintahnya secara kontinyu dalam kehidupannya sehari-sehari.
Namun sebenernya, apakah orang-orang yang melaksanakan solat sejak lama akan mampu mencapaiNya, menggapaiNya? apakah tindakan-tindakan mereka akan menyerupai perbuatanNya? apakah orang-orang itu akan mempunyai sikap sempurna yang patut dicontoh oleh orang-orang di sekelilingnya? Jawabannya harus. Namun kenyataannya tidak banyak yang berhasil.
Terkadang terlalu banyak hukum-hukum agama, syariah dan peraturan2 yang disepakati yang justru membutai orang-orang untuk berbuat kebaikan, orang-orang yang dikatakan mengabdi tersebut.
Contohnya, segolongan orang berpendapat bahwa kaum muslimin dilarang mengucapkan selamat natal kepada kaum nasrani, karena dengan begitu, kaum muslimin mengakui keberadaan Yesus Kristus. Padahal….teman baik saya beragama nasrani!!!
Contoh lainnya yaitu kenajisan anjing. Dan masih banyak contoh-contoh yang absurd dalam Islam bagi diri saya.
Yang tinggal pada diri saya, entahlah….bersyukur kalau saya selalu mengalami krisis kebatinan. Dimana dalam krisis itu selalu terdapat pencarian.
Cukup sudah mempelajari hal-hal yang absurd yang diputuskan oleh segolangan orang.
Kini pandangan saya hanya Tuhan dan manusia. Hapus saja dulu agama dan ritualnya, dengan pernyataan ini saya akan langsung dihujat.
Kenapa tidak langsung menelusuri keindahanNya, ciptanNya, kemurahanNya, dan seterusnya. Dengan begitu kita akan mengerti mengenai diriNya.
Kemarin, ketika pulang dari pegunungan, ada satu pohon yang kami lewati, ketika itu saya berada di dalam mobil. Pohon itu seperti berbicara pada saya “ini aku, pohon, aku hidup”. Tampaknya juga beliau sedang berjalan dan miring ke arah sang surya.
Bagus kan?
Pohon itu cuma mengingatkan akan kebesaranNya.
Yang harus kita lakukan mungkin berdiam untuk menyadari hal-hal yang ada di sekeliling kita, membuka hati dan mata kita terhadap manusia-manusia ciptanNya, tumbuhan dan binatang di sekitar kita, tanah, laut dan pegunugan milikNya.
Cukup sudah perang antara kristen dan islam, cukup sudah perang antara siapa yang paling benar.
Manusia dan masalahnya semakin kompleks, itulah tipu daya yang menghalangi kita melihat atau mencari kebenaran.
Tidak banyak teman yang mengerti jalan pikiran saya, terutama dari golongan yang mengabdi tersebut. Tersesat, mungkin itu diri saya bagi mereka.
Kontinyu…(mungkin…)

At 6:36 PM, eM_Dee said…
Elsi,
Ketika suatu masyarakat mulai membiarkan gejala kemunafikan dan kekorupan –dengan menganggapnya sebagai sesuatu yg wajar— dan mulai cenderung untuk mengangkat dan menerimanya menjadi suatu “kode sosial” yang baru, maka kata kejujuran dan ketulusan bak kehilangan makna… Buat gue, pandangan elo di sini adalah buah kejujuran dan ketulusan hati, yg pastinya berangkat dari rasa gundah yg mendalam atas berbagai macam peristiwa yg harus ditempuh oleh umat manusia di berbagai belahan dunia ini… entah dalam kurun 5 thn terakhir, 1 dekade, 1 abad, atau bahkan sepanjang abad sejarah manusia itu sendiri. Dan memang tidak ada pertikaian terbesar sepanjang sejarah manusia selain dr pada pertikaian dng latar belakang perbedaan keyakinan (walaupun jika dikaji scr kritis, sumber utama pertikaian bukanlah atas dasar perbedaan iman, melainkan perebutan sumber-sumber ekonomis dan usaha memperlebar sayap kekuasaan semata). Persoalan keyakinan memang bisa jadi hal yg runyam ketika ia “menikah” dengan kekuasaan….
Hans Kung, seorang cendekiawan Kristen pernah bilang, “… no peace among the nations without peace among the religions; no peace among the religions without dilogue between the religions; no dialogue between religions without investigating the foundation of religions…” Nah, sayangnya… di negara kita (gue? Hehehe kasian deh gue) masih banyak yg beranggapan bhw persoalan keyakinan bukanlah utk ditelaah atau diselidiki… Keyakinan menjadi sesuatu yg given begitu saja… taken for granted (eh… bener gak sih istilah inggrisnya begitu… ?? hehehe) di mana keluarga menjadi media utk menurunalihkan (transmission) keyakinan itu… Gua menjadi seorang Kristen, misalnya, ya karena kebetulan saja dilahirkan dlm keluarga dng tradisi keimanan Kristen. Begitu juga elo yg Islam. Sebagai sesuatu yg given, keyakinan ya tdk perlu ditelaah-telaah atau diselidiki begitu. Penelaahan mengasumsikan adanya suatu keraguan… dan keraguan bukanlah keyakinan, bukan? Begitulah kurang lebih logika pikirnya. Menyelidiki keyakinan tdk akan membawa kepada keteguhan iman; yg ada malahan terjerembab ke dalam rimba keragu-raguan dan ketidakpastian…. (dalam istilah elo “krisis kebatinan”)
Tapi… apa benar begitu?
Bukankah keyakinan itu adalah sebuah proses tanpa henti, yg berawal dari keragu-raguan kita? Itulah sebabnya ia sering digambarkan dng menggunakan metafor peziarahan atau pilgrimage. Seorang peziarah terus berjalan dr satu tempat ke tempat yg lainnya sampai ia tiba di akhir tujuannya. Manusia adalah “peziarah” di dunia ini. Ia seharusnya terus mencari… berjalan utk menemukan satu makna ke makna yg lain dan proses itu berjalan terus hingga ia menemukan The Ultimate Reality… Al-Haqq….The One (Film Matrix.. hehehe) ..dan pada titik inilah proses peziarahan usai. Barulah manusia berhenti dr keragu-raguan hatinya.
Kedua, masih soal “krisis kebatinan”. Sejauh yg gua tahu, hampir semua Nabi atau Rasul, ketika dlm proses penerimaan wahyu… tdk ada yg langsung yakin dan percaya bhw yg mrk “dengar” adalah kalam Allah sendiri. Mereka ragu-ragu dulu… bahkan ada yg takut… baru kemudian yakin….
Lha… kalo ada orang yg belum apa-apa udah yakin, bgm itu menyebutnya yah? Blind Faith… kali ye….
Sementara itu, relasi Sang Khalik dng manusia tdk seperti relasi manusia dng sesama manusia. Jika relasi antar sesama manusia sdh terdistorsi dng kepentingan politis-ekonomis, maka gua rasa cara “Dia” berhubungan dng kita tdk begitu. Maksudnya, “Dia” pasti ‘gak lebih sayang sama orang-orang yg rajin beribadah tinimbang dng orang yg jarang beribadah….. Dan kalau kita beranggapan bhw “Dia” pasti akan melimpahkan segala yg kita harapkan apabila kita setia dan rajin beribadah padanya, jelas itu masih melihat relasi Allah-manusia dr perspektif kepentingan politis-ekonomis tadi. (ada uang, ada barang; you bayar ai kasih lhaaa) Ustadz gua di kampus pernah bilang: “Allah tdk akan menjadi lebih besar apabila kita sering menyembahnya; sebaliknya, Allah tdk akan menjadi kecil bila kita tdk pernah menyembahnya”. Jadi, kayaknya gua rasa relasi Allah-Manusia bisa diistilahkan sebagai relasi walaupun…. Walaupun elo jelek (hehehe), elo brengsek, elo jarang ikut misa, elo jarang shallat, elo gay, elo lesbi, dan lain-lain…. “Dia” pasti masih dan selalu membuka pintu hubungan baik dng manusia…. Bukan relasi karena; karena elo rajin shallat, karena elo rajin misa, karena org tua elo Kyai, karena elo hapal kitab suci bolak-balik atas-bawah (hehehe), dan lainlain… Tapi gua akan naik banding kalo “Dia” ngampunin koruptor dan para penjahat-penjahat elit lainnya yg mengakibatkan rakyat kecil jd sengsara…
Terakhir,
Gua setuju ketika elo scr tdk langsung bertanya: “Apakah yg dpt dijadikan ukuran bhw seseorang itu religius?” Frekwensi ritual ibadah yg telah dijalankannya-kah? Besarnya amal yg disumbangkannya-kah? Pengetahuannya yg mendalam soal iman dan ketuhanannya-kah? Tidak juga… Ukurannya, mnr gua, adalah perilaku sosialnya di tengah-tengah kehidupan kongkrit… Cepat tanggap nggak, mereka dng persoalan kemiskinan (di sini banyak orang miskin soalnya elsi, termasuk gue.. rakyat jelata…), dng persoalan korupsi, dng persoalan pengangguran…. hehehe semua contoh yg gua sebut khas Indonesia yah… Beruntung sekali elo nggak setiap hari ngadepin orang-orang egois kayak di Jakarta ini…
Udah dulu yah, en gak usah sedih kalo dicap kafir ama org lain… krn itu kan kafir menurut konsepnya sendiri…..Thanks!!
Comment by Meldy — March 8, 2005 @ 3:35 pm
Masalah keyakinan,…..
Membaca tulisan Anda, saya cukup terkesan begitu juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Elsi. Di sini saya mencoba memberikan sedikit pendapat dan pandangan…………….”mengenai kita beragama dan berkeyakinan”
Kalau di katakan saya memeluk agama tertentu karena sebelumnya orang tua saya memluk agama tsb……..bagi saya itu kurang pas, Mengapa?
Saya, manusia pada umumnya bukanlah mahkluk yang dapat menerima hal begitu saja dan itu yang saya rasakan setelah saya memasuki masa kuliah dulu. semula saya mempunyai keyakinan yang mungkin bida dianggap sebagai turunan dari Ortu, tetapi hal itu tidak membuat saya menerima begitu saja. Setelah saya mulai mempunyai sedikit wawasan dan analisa untuk sesuatu hal, saya coba lakukan itu pada semua hal dan keadaan yang pada akhirnya memberikan pandangan kepada saya bahwa segala sesuatu tidak dapat diterima begitu saja sebelum semuanya melalui suatu analisa dan pengujian serta pembuktian yang real.
Saya termasuk orang yang salah menurut “pandangan orang lain’ karena agama yang saya anut dan yang lain saya coba analisa dengan analisa keilmuan dan fakta yang ada (dapat dilihat). Misalnya
1. Kenapa saya yakin TUHAN itu ada?
* karena saya kembalikan pada keadaan yang
ada, darimana air, udara, daratan ini ada
kalau tidak dibuat oleh seseorang yang
maha…..
2. Bagaimana dengan kepercayaan/agama, dan mana
yang bener?
* Hanya satu agama yang bener, tidak mungkin
ada dua, dan hanya ada satu kitab yang bener
karena kitab itu adalah kata-kata TUHAN yang
tidak mungkin berubah-ubah.
* Cara menanalisa dan mengujinya:
- Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan hati
manusia
- Hukum2-NYA tidak berubah-ubah (kekal)
- Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan
keilmuan terutama ilmu alam
Kedua hal diatas tsb yang membuat saya meyakini Agama yang saya pegang sekarang jadi saya sangat tidak setuju kalau Agama yang dianut orang itu karena atas dasar ortu.
Kalau kita percaya Agama hanya berdasarkan keyakinan dari turunan itu sama aja kita orang yang buta. TUHAN telah memberikan kita akal yang sangat sempurnah dan dengan akal kita bisa membuktikan bahwa TUHAN itu ada, dan kita juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan TUHAN tidak pernah melarang dengan mengeluarkan Hukum jangan membuktikan sesuatu, malah katanya “Ujialah segala sesesuatu agar kamu tidak tersesat, segala sesuatu yang dari TUHAN adalah baik adanya dan segala yang jahat bukanlah dari TUHAN, karena TUHAN itu KUDUS dan benci akan kejahatan”
oke mungkin hanya ini yang sementara dapat saya ungkapkan, semoga dapat berguna.
Salam Kasih
Jacobus
Comment by Ady — June 1, 2007 @ 5:48 pm
Masalah keyakinan,…..
Membaca tulisan Anda, saya cukup terkesan begitu juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh saudari Elsi. Di sini saya mencoba memberikan sedikit pendapat dan pandangan…………….”mengenai kita beragama dan berkeyakinan”
Kalau di katakan saya memeluk agama tertentu karena sebelumnya orang tua saya memluk agama tsb……..bagi saya itu kurang pas, Mengapa?
Saya, manusia pada umumnya bukanlah mahkluk yang dapat menerima hal begitu saja dan itu yang saya rasakan setelah saya memasuki masa kuliah dulu. semula saya mempunyai keyakinan yang mungkin bida dianggap sebagai turunan dari Ortu, tetapi hal itu tidak membuat saya menerima begitu saja. Setelah saya mulai mempunyai sedikit wawasan dan analisa untuk sesuatu hal, saya coba lakukan itu pada semua hal dan keadaan yang pada akhirnya memberikan pandangan kepada saya bahwa segala sesuatu tidak dapat diterima begitu saja sebelum semuanya melalui suatu analisa dan pengujian serta pembuktian yang real.
Saya termasuk orang yang salah menurut “pandangan orang lain’ karena agama yang saya anut dan yang lain saya coba analisa dengan analisa keilmuan dan fakta yang ada (dapat dilihat). Misalnya
1. Kenapa saya yakin TUHAN itu ada?
* karena saya kembalikan pada keadaan yang
ada, darimana air, udara, daratan ini ada
kalau tidak dibuat oleh seseorang yang
maha…..
2. Bagaimana dengan kepercayaan/agama, dan mana
yang bener?
* Hanya satu agama yang bener, tidak mungkin
ada dua, dan hanya ada satu kitab yang bener
karena kitab itu adalah kata-kata TUHAN yang
tidak mungkin berubah-ubah.
* Cara menanalisa dan mengujinya:
- Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan hati
manusia
- Hukum2-NYA tidak berubah-ubah (kekal)
- Hukum2-NYA tidak bertentangan dengan
keilmuan terutama ilmu alam
Kedua hal diatas tsb yang membuat saya meyakini Agama yang saya pegang sekarang jadi saya sangat tidak setuju kalau Agama yang dianut orang itu karena atas dasar ortu.
Kalau kita percaya Agama hanya berdasarkan keyakinan dari turunan itu sama aja kita orang yang buta. TUHAN telah memberikan kita akal yang sangat sempurnah dan dengan akal kita bisa membuktikan bahwa TUHAN itu ada, dan kita juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan TUHAN tidak pernah melarang dengan mengeluarkan Hukum jangan membuktikan sesuatu, malah katanya “Ujialah segala sesesuatu agar kamu tidak tersesat, segala sesuatu yang dari TUHAN adalah baik adanya dan segala yang jahat bukanlah dari TUHAN, karena TUHAN itu KUDUS dan benci akan kejahatan”
oke mungkin hanya ini yang sementara dapat saya ungkapkan, semoga dapat berguna.
Salam Kasih
Jacobus
Comment by Ady — June 1, 2007 @ 5:57 pm
Keimanan itu bertingkat2 dan bergejolak, pada level tertentu kadang naik kadang turun, baik karena faktor luar maupun dari dalam diri sendiri. Manusia itu selalu ‘mencari’, mencari jawaban atas segala sesuatu, termasuk yg berkenaan dgn Tuhannya. Kenapa harus begini dan begitu dalam agama, kenapa kok rasanya ga sreg lah, membatasi gerak, dll. Jawabnya, ’saya juga ga tau’. Tapi saya tau cara untuk mengetahui, ‘cari tahu’. Bisa dgn membaca bnyk buku,bisa dgn bertanya pd yg ahli,atau merenung.
Comment by kiki — March 4, 2008 @ 9:20 am
Saudari seorang muslimah, ingat ayat quran yg pertama kali diturunkan, bunyinya ‘iqra!’ , artinya ‘bacalah’. Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca segala sesuatu yg bisa dibaca: buku,alam,sifat manusia.Singkatnya, Tuhan ingin manusia berpikir dgn akalnya ,bukan mendahulukan ego-nya. Termasuk merenungkan ’sebab2′ dari suatu ‘akibat’. Karena apa2 yg kita ‘lihat,rasakan,pikirkan’ sekarang adalah ‘akibat’. Mari ‘mencari’ segala ’sebab2′ itu.Coba kita mulai dgn ‘kenapa kita percaya Tuhan itu ada?’
Comment by kiki — March 4, 2008 @ 9:37 am