Tiga atau empat hari sebelum aku kembali ke Madrid, aku menyempatkan diri untuk membeli pesanan Antonio, suamiku, sepasang sepatu tenis dan sepasang lagi untuk lari.

Maka pergilah aku ke pasar Blok M, persisnya di bawah terminal di mana terdapat toko-toko di sepanjang jalan. Setelah mendapatkan satu pasang, aku memasuki toko yang lain-lain hingga mendapatkan sepasang sepatu tenis yang cocok.

Dimulailah pembicaraanku dengan dua pegawai toko yang ramah, seorang laki-laki muda dan seorang perempuan dengan umur sebayanya. Setelah melihat satu pasang sepatu yang cocok, berwarna putih seperti yang disukai Antonio dan kebetulan pula merek itu sedang didiscount.

Aku: “Yang ini mas, yang nomer 43.”

Si mas naik ke atas loteng untuk mencari sepatu dengan merek yang aku maksud. Namun setelah mencari-cari selama sepuluh menit, dia tidak menemukan sepatu yang aku mau.

Mas penjual: “Adanya cuma nomer 42 mbak. Nomer 42 aja ya?”
Pikirku, walah…kok maksa, yang namanya ukuran kaki kan mana bisa dirubah-rubah?

Aku: “Ngga mas, orang mintanya nomer 43 kok….”

Maka pergilah si mbak keluar dari toko tersebut untuk mencarinya di tempat lain (tidak jelas apakah mereka mempunyai satu gudang di luar toko, atau ia mencarinya di toko tetangga)

Setelah lima sepuluh menit ia kembali dengan tangan hampa. Maka akhirnya aku memutuskan untuk mengambil merek yang lain yang agak sedikit lebih mahal. Sembari si mas naik lagi ke loteng toko itu untuk mencari sepatu yang aku maui, si mbak mulai mengajak aku ngobrol.

Mbak: “Sepatu untuk siapa mbak?”
Aku: “Untuk suami”
Mbak: “Hah….udah bersuami? Saya pikir belum…ngga ada tampang”
Aku (tersenyum-senyum, bukan GR! Tapi mulai memasang mental “keramahtamahan Indonesia” yang masih tersisa…cie…)

Mbak: “Saya baru aja nikah juga, baru 7 bulan”
Aku: “Oh…” (sebetulnya aku juga mau bilang bahwa ia tampak pula terlalu muda untuk menikah, namun aku rasa komentar itu akan menyamai komentarnya dan terdengar bodoh)

Mbak: “Kok suaminya ngga dibawa mbak?”
Aku: “Sibuk, kerja.”
Mbak: “Udah punya anak mbak?” (PERTANYAAN STANDAR)
Aku: “belum”
Mbak: “Emang udah berapa tahun menikah?”
Aku: “Enam tahun”
Mbak: “oh…

Sementara itu aku berharap si mas turun dengan sepatu yang aku mau untuk cepat-cepat hengkang dari ruang interogasi .

Mbak: “kok belum punya mbak?”
Aku: “Yah belum mau aja, belum siap” (terkadang kesabaranku bisa hilang sesaat, namun aku harus menenangkan diri, demi mendapatkan sepatu yang aku mau)

Tepat ketika itu si mas turun dari loteng dengan sepatu yang aku mau, aku berteriak gembira dalam hati, karena kalau tidak, pertanyaan yang akan dilempar selanjutnya bisa:
Mbak: “KB- nya pake apa ya mbak?”

Bisa, bisa terjadi di Indonesia, seseorang yang hendak membeli sepatu “dipaksa” untuk membeberkan alat kontrasepsi apa yang ia gunakan, umur, status, pekerjaan dan tempat tinggal- kalau perlu- jika saja pencarian sepatu di gudang terus berlanjut.

Pernah juga ketika aku hendak mencuci foto, aku mencegat ojek di jalan Legoso.

Aku:”Bang, coba tolong anterin saya ke tempat cuci foto”
Bang Ojek:”Di mana ya neng? Saya kurang tau”
Aku: “Kalo ngga salah di depan UIN ada satu bang”
Abang: “O iya..”

Setelah menyingkat jalan melalui gang-gang maka diturunkanlah aku tidak jauh dari toko yang aku maksud (sebenernya kita sendiri melawan arah jalan raya, jadi si abang ngga mau nerusin tepat sampai tujuan, biasa, ini kan jalan gaya indonesia)

Aku: “Berapa bang?”
Abang Ojek:” Yah terserah deh berapa”
Aku jadi heran, kok si abang ngga bisa nentuin harga.

“Dua ribu?” tawarku.
“Tiga deh” saut si abang.

Setelah transaksi selesai, aku berjalan kaki ke toko itu. Keluar toko setelah tidak mendapatkan yang aku mau, aku berjalan kaki menuju pangkalan ojek terdekat. Aku mengambil satu ojek sambil menyebutkan alamat rumahku.

Di perjalanan: “Udah neng nyuci fotonya?” tanyanya.
“Ngga jadi soalnya ga ada yang cuci kilat”…

Namun setelah itu aku merasa heran dengan pertanyaannya, darimana ia tau kalo aku baru saja dari toko foto, padahal kan ia mangkal cukup jauh dari toko itu hingga aku tak mungkin terlihat keluar dari situ? Dan ia juga bukan tukang ojek yang sama yang mengantarku pergi ke situ.

Nah…..
_____________________________

Cerita sampai di situ selesai. Namun pangkalan ojek itu ternyata kamuflasi dari jaringan intel kepolisian resort Ciputat.