Perempuan dan kehidupan aktual III
Sambungan dari bagian I:
Haruskah perempuan memilih antara kepentingannya pribadi dan kepentingan keluarga? Kenapa perempuan mempunyai banyak peran dan tanggung jawab dibandingkan laki-laki?Bisakah kita berkompromi dengan pasangan kita untuk membagi tugas-tugas rumah tangga?
____________________
Jawaban dari pertanyaan pertama, harus saya katakan: YA. Perempuan pada akhirnya harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga.
Keinginan untuk mempunyai anak selalu lebih besar daripada keinginan untuk mengangkat karirnya.
Well, memang kita tidak bisa menyamakan situasi semua wanita. Bahkan banyak wanita-wanita yang mendapatkan segalanya, anak yang banyak dan karir yang gemilang. Tentu semua itu harus didukung oleh suami dan kondisi ekonomi keluarga tersebut dan juga politik perusahaan di mana si wanita itu bekerja.
Lahir tidaknya anak tergantung pada perempuan, dan inilah yang merubah segalanya.
Jika seorang laki-laki dapat hamil dan melahirkan seorang bayi, maka wanita akan mulai memilih, apakah dia harus hamil ataukah suaminya yang hamil?
Suatu pemikiran yang gila. Ya benar.
Adakah rasa sesal di balik kebanggannya sebagai seorang wanita executive yang telah melewatkan kesempatannya untuk mendapatkan anak?
Hidup memang harus memilih.
Seseorang yang kontra feminis akan mengatakan, wanita tidak bisa mendapatkan semuanya, wanita seperti layaknya laki-laki harus berada dalam kondisi yang sama untuk berada di jenjang karir yang sama. Artinya, absensi menjadi seorang ibu, absensi dari cuti hamil 4 bulan, tidak adanya pegawai yang suatu saat harus berada di rumah ketika anaknya sakit, dsb.
Untunglah dalam beberapa bentuk pekerjaan, ada teknologi yang membantu, sehingga seseorang bisa mengerjakan tugasnya dari rumah.
Namun kenyataannya di luar sana, perusahaan bukanlah satu keluarga yang prihatin akan rendahnya natalitas suatu negara. Masih banyak perusahaan-perusahaan (yang sebagian besar direksinya diduduki oleh kaum lelaki) yang berkomentar dengan nada sinis atas hamilnya seorang pegawai wanita di lingkungan kerja.
Mungkin orang-orang yang tinggal di Indonesia tidak akan mengerti masalah kelanggengan dari seorang wanita karir dan hubungannya dengan mempunyai anak, karena masalah itu dapat segera diselesaikan dengan pembantu. Tidak sama halnya dengan wanita-wanita yang tinggal di negara maju khususnya.
Maka seperti yang saya katakan di tulisan saya yang berjudul “Dilema”, wanita dihadapi oleh dilema, di mana di ambang umur tertentu dia harus memutuskan untuk hamil atau tidak.
Walaupun kemajuan teknologi sangat pesat, hamil di umur 40 sama sekali tidak direkomendasikan.
Tinggi rendahnya natalitas di suatu negara sangat tergantung dari fasilitas dan dorongan yang diberikan oleh suatu negara kepada unit-unit keluarga. Tidak cukup dengan memberi kemudahan pajak, namun harus didukung oleh infrastruktur (jumlah penitipan anak dan sekolah yang mencukupi dengan jam buka yang luas, beasiswa, dsb.) yang memudahkan para orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya.
Dan juga jika keadilan negara sudah berfungsi, maka tidak ada perusahaan yang berani memecat pegawai wanitanya karena dia hamil.
Jika kondisi ini sudah tercapai, maka sebagian besar wanita tidak akan pernah didera oleh dilema. Tentunya sebagian besar akan memutuskan mempunyai anak dalam usia semuda mungkin.

Saya seorang laki-laki urutan ke tujuh dari sebelas saudara. Perempuan ada delapan orang. Jadi saya mengerti watak dasar perempuan. Sebenarnya adalah peran orang tua terlebih dahulu untuk menentukan sikap anak baik perempuan maupun laki laki. Terpupuk sejak dini suatu keyakinan akan membawa kepercayaan terhadap anak sampai dewasa. Maka orang tua saya terutama dan yang paling utama mendasari anak-anaknya dengan keyakinan akan adanya Tuhan ( ALLAH ). Dia maha penolong, dia maha pembimbing dan pemberi petunjuk dimana kalau kita meyakini petunjuk itu.
Dari delapan anak perempuan, semuanya tidak ada yang menyimpang. Karir tetap jalan, Ibu rumah tangga juga berhasil membina anak-anaknya menjadi anak yang bisa bermanfaat.
Dari delapan saudara perempuan, mempunyai anak ditotal
ada delapan belas anak. dari delapan belas anak yang perempuan ada sebelas anak. Dari sebelas anak perempuan
enam sudah menikah dan mepunyai anak.
Memang, kata Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya: Barang siapa yang berhasil membina tiga anak perempuan sampai ia menikah dan beriman/taat kepada Allah. Maka Ibu/bapak dari anak tersebut meninggal dalam keadaan syahid.
Hal itu menunjukan bahwa penghargaan dan perhatian terhadap perempuan harus dijunjung tinggi, tapi bukan berarti memanjakanya.
Bersemangatlah perempuan……Jangan takut dengan kemajuan IPTEK…. selama kita bisa meningkatkan IMTAQ
BAHIJ ABDULLAH
Comment by BAHIJ ABDULLAH, SH — August 28, 2008 @ 1:32 pm