en españolMarch 8, 2005 12:20 pm

A la espera de un bebé que no se ha hecho todavía, los padres ya empiezan hablar de la vida del futuro descendiente. Por la primera vez, una mujer y un hombre hablan de cosas en común.

A principio no lo creía cuando los viejos hablan de que un niño puede unir a los padres, etc. Ahora entiendo un poco cuando decidí tener uno y espero no equivocarme en esto.

Después de estar 6 años casada y dando vueltas en el planning, en decidir, en pensar mil veces….sigo diciendo que no estamos preparados para tener uno, sobre todo economicamente.
Pero pienso que nunca jamas estamos preparados, mentalmente y economicamente.

Ya surgió una palabara que nunca me ha gustado, “hay que lanzarse”….precisamente, estos seis años me dedico evitar cualquier lanzamiento sin previo plan.

Pero veo que he perdido tiempo en esos 6 maravillosos años. Y tengo que cambiar el rumbo de mi vida, de la nuestra. Me parece muy dificil tomar esta decisión, pero es algo que surge en la cabeza todos los días y acabas aceptandolo.

Aceptar de que esta fase es importante con lo cual hay que hablarlo con tu pareja y tomar decisiones necesarias.

Se acabará la libertad pero vendrá una nueva vida y una alegria para todos.

Hijo, bienvenido serás tú….

puisi & fiksi, My Favorite 12:19 pm

Aku…..
berdiri sendiri di muka pantai.

Di belakangku terdengar suara burung-burung gaviota. Di depanku pasir putih dan ombak yang menerjang pantai. Aku berjalan mendekati laut dan dapat mencium baunya yang semerbak.
Aku membasahi kakiku hingga air sampai di betisku, sesaat kutatap langit yang biru, bersih tanpa awan, kemudian aku kembali menjauhi laut.

Setelah beberapa langkah, aku menjatuhkan diri di pasir yang putih, terlentang, sekali lagi menatap langit yang biru. Kurasakan angin pantai melewati tubuhku, namun dalam waktu yang sama, kurasakan panasnya matahari yang terserap oleh tubuhku, kupejamkan mataku sesaat.
Kurasakan panas mentari yang merasuk sampai ke tulang-tulang tubuhku, ah….seperti makanan yang menenangkan perut yang lapar.

Aku dapat merasakan berat tubuhku dan dapat kurasakan pula pantai yang menolak berat badanku. Aku dapat mendengar nafasku yang perlahan dan bunyi yang menyerupai detak jantungku atau mungkin denging keheningan?

Masih terdengar suara burung-burung pantai yang bersahut-sahutan.
Sesekali suara ombak dan bau laut yang menghampiri wajahku karena dorongan angin. Pasir pantai melekat erat di lengan, kaki dan rambutku, seakan mereka kulit tubuhku.

Tiba-tiba aku tersadar dan berkata dalam hati, “rasanya aku pernah mengalami saat-saat seperti ini, sepertinya ini yang kedua kalinya”.

Kemudian aku membalikkan tubuhku, punggungku kini menghadap langit, tepat ketika itu kulihat rumah putih dibelakangku. Ia terbuat dari kayu, di depannya terdapat teras, dan dari sisi kiri sampai sisi kanan rumah itu ditutupi oleh jendela perancis yang kusennya di cat berwarana putih, tanpa kain, hingga cahaya masuk ke dalamnya dan menerangi seluruh isi rumah. Rumah idamanku.

Di samping kiri dan kanannya terdapat beberapa buah pohon kelapa. Di terasnya terdapat sebuah ayunan, sebuah kursi goyang dan satu meja di tengahnya. Semua di cat berwarna putih.
Aku tersenyum, lama, sambil memandangi rumah mungil itu. “Tentu sayangku, aku akan kembali kepadamu”

Aku mencoba bangkit dari pantai, namun badanku terasa amat berat. Aku mencoba menggerakkan ke dua tanganku, namun keduanya tampak tidak berhubungan dengan badanku. Aku mencoba menggapai rumah itu dengan tangan kananku, “tunggu aku, kumohon, aku akan sampai segera”…

Kepalaku mulai terasa pening dan pandangan mataku menguning dan…..oh, keningku terasa nyeri.
______________________________________

“Lapor kepada pos pusat, kami temukan sebuah perahu nelayan Krakatau jam 5 dari titik pusat, ganti”
“Ada tanda-tanda awak kapal selamat, kapten? Ganti”
“Tampaknya tidak ada satu orangpun. Kapal tampak tidak berpenghuni dan tiang utama layarnya hancur”
“Kapten, saya mohon hentikan pencarian. Badai akan menuju selat dalam waktu satu jam”
“Konfirmasi. Kami akan kembali ke pusat”

_____________________________________________-

Keesokan paginya di pulai Beturu, Majid bersiap berlayar dengan perahunya, ia berjanji menunggu kedatagan Barsofi di sekitar perahu.

Ketika ia sedang mempersiapkan jalanya, ia melihat sesuatu yang tak bergerak di terjang ombak. Dia berharap itu bukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh seorang nelayanpun.

Ia berlari tergesa-gesa menghampiri sesuatu itu sambil terus berdoa.

Ia berjongkok di samping tubuh yang tengkurap itu, rambutnya hitam dan panjang. Kemudian ia balikkan tubuh mayat itu, seorang wanita, kira-kira seumur dengannya 30 tahunan. Keadaan mayat masih tampak bagus. Hanya ada luka di jidatnya, tak ada darah, karena air lautpun telah membersihkannya.

Ia memakai kaos putih dan celana pendek berwarna kaqui. Di lehernya tergantung sebuah kalung, dengan lempengan bergambar naga, dibaliknya terdapat tulisan, “nagasundani, 1946″
Betul, kalau hari ini tepat tanggal 17 januari 1976, wanita ini berumur kurang lebih 30 tahun.
Majid menatap wanita itu. Menunggu kedatangan Barsofi, agar dia memberitahu kepolisian setempat.

Sampai sore hari, kepolisian setempat tidak mendapat kabar adanya perahu nelayan yang hilang maupun keluarga yang mencari-cari sanaknya yang hilang. Maka warga setempat memutuskan untuk menguburnya dengan pemakaman yang sederhana namun dihadiri oleh para keluarga nelayan.

“Paling tidak, ketahuan namanya – kalaupun betul itu namanya, bisa ditulis nanti dibatu nisannya, kalau-kalau ada keluarga yang menuntut”, bisik seorang warga.

“Tampaknya ia tidak mati tenggelam, ia mati karena kepalanya terbentur sesuatu, mungkin tiang perahu atau sebatang pohon? lalu ia tak sadarkan diri lagi, hingga gelombang pasang membawanya ke pulau ini” Majid menjelaskan kepada tetangga-tetangganya.

“Herannya, sedang apa wanita itu berlayar sendirian?”, sahut Barsofi.

Sementara itu 50 kilometer ke utara dari pulau Beturu, perahu yang bernama Krakatau itu berhasil diselamatkan dan dibawa ke daratan oleh pihak yang berwajib.
Di dalam kapal yang tergenang air laut, hanya terdapat jala, botol air minum dan sebuah tas kain.

“Inlander….” bisik seseorang dengan perawakan tinggi dan paras wajah yang asing. “Mansur, kowe orang tau milik siapa perahu ini?” tanya komendan Van Huissen yang masih menjadi juragan perkebunan di daerah itu.

“Milik Inlander tuan” jawab Mansur acuh tak acuh.

Van Huissen hanya menghela nafas panjang, “Kalau itu saya sudah tahu, dasar jongos”
“Sudah, pergi kau sana. Selesaikan saja urusan surat Tuan untuk bupati Karang Asem itu heh dan jangan kamu kembali sampai mendapat jawaban”.

Van Huissen menghisap pipanya, kemudian duduk di dalam perahu itu sambil memeriksa isi tas hitam itu. Diantara isinya terdapat sebuah buku tulis yang tintanya sebagian besar meluntur oleh air laut.

“Inlander ini menulis bisa hah?”….

Di awal lembar buku itu tertulis, “di tulis oleh nagasundani, di mulai tahun 1975….”

Belum banyak yang ditulis oleh orang ini sebelum badai menghempaskannya ke tengah lautan.

Van Huissen sampai pada halaman terakhir, ia tampak memfokuskan matanya pada judul catatan terakhir si inlander, “Kematianku” bisiknya sambil memincingkan matanya.

_______________________________

Entah berapa lama aku dalam keadaan tidak sadar, aku ingat terakhir kali menatap rumahku. Ingat merasakan berada di dalamnya, menatap ombak dari jendela-jendela perancis yang aku buat sendiri dengan bantuan temanku Ismail.

Ide memasang jendela-jendela perancis itu terima kasih atas deskripsi seorang teman yang pernah berkunjung ke Eropa untuk belajar dan melihat keindahan bangunan-bangunan di sana. Namun karena kaca sangat mahal, maka daripada menggunakan kaca, akhirnya jendela-jendela itu berubah menjadi pintu-pintu kecil yang senantiasa aku buka semenjak sang Surya menyongsong bumi.

Lalu, rumah yang kutatap sesaat yang lalu, rumah idamanku dengan jendela perancis yang menggunakan kaca! Kristal! Mungkin itu hanya mimpi…aku tak sanggup membeli kaca-kaca itu….

Tiba-tiba, ketika aku berhasil membuka mataku dan merasakan peningnya keningku, di depanku berdiri seseorang, tampak seperti laki-laki yang menggunakan jubah putih.

Matikah aku? Di mana aku?

Ia tersenyum melihatku.

“Ya Tuhan” ucapku untuk pertama kalinya.
“Kaukah…? kaukah yang disebut-sebut malaikat pencabut nyawa?”
(Terus terang saat itu aku tidak tahu namanya dan masih tidak peduli)

Ia tidak menjawab.

“Tuhan….jadi benar ada Tuhan? Ada surga dan ada neraka??? ada malaikat-malaikat dan syeitan?”

Oh mampuslah aku yang selama ini tidak percaya pada semua itu.

Laki laki berjanggut putih itu tetap tidak bersuara, entah mengapa. Mulutku juga tidak terbuka namun dia dapat membaca pikiranku. Tubuhku pun seperti yang hilang, ringan, dan kepeningan itu tidak lagi kurasakan.

Kemudian ia menunjukkan sebuah gambar yang nyata, seperti kehidupan di dunia yang lain, seorang keluarga yang melahirkan bayi keduanya, bayi perempuan, yang menangis meronta-ronta di gendongan ibunya.

“Apa maksudmu? Kau akan memberiku bayi itu?” pikirku, namun dia tetap tidak menjawab.

Pada saat itu, laki-laki yang aku panggil sebagai malaikat pencabut nyawa itu berbicara kepadaku tanpa membuka mulutnya.

“Karena kau tidak percaya akan kekuasaan Tuhan, kaupun tidak percaya akan adanya surga dan neraka, maka kami akan mengirimmu kembali ke bumi. Kau akan berinkarnasi di dalam tubuh bayi itu, usahakan untuk berbuat kebaikan dan senantiasalah berdoa kepada yang Maha Kuasa anakku supaya kau diberi petunjuk olehNya”….

Kala itu aku ingin menjerit dan menikam laki-laki itu….namun sekali lagi tangan-tanganku tidak berdaya dan tubuhku kosong. Aku hanya…spectrum? bayangan?

“Tuhan….ini sungguh tidak adil. Biarkanlah aku mati. Biarkanlah aku tidak ada. Tidak ada di manapun, di bumi maupun di langit! Aku mohon….”

Namun pada saat aku ingin berontak dan menangis menjerit, yang aku dengar hanyalah suara seorang perempuan yang menggendong tubuhku dan berupaya menenangkan diriku.

………………………………………………………………….

Pemberontak yang mereka katakan itu turun dengan dua sayapnya
Terhempas di muka bumi
Seorang diri
Sambil bertanya-tanya apa yang telah diperbuatnya
Hingga Tuhan dan seluruh armadanya murka kepada dirinya

Kata mereka dia sesat
Kata mereka dia tidak lain hanya seorang pembantu yang memberontak
Kata mereka dia telah menghasut malaikat-malaikat lainnya

Dia tidak merasa sesat, dia bukan pengkhianat
Namun yang lainnya tidak mengerti

Dia hanya mencari kebenaran

Dia merasa tanpa jiwa
Dia tidak ingin dikendalikan
Diperintah, disuruh-suruh maupun dimiliki
Dia ingin bebas dan lepas

Namun beratlah jalan yang dia ambil
Tak seorangpun yang ingin menolongnya

Kebebasan diri dan jiwa harus diraih dengan kesepian, tangis dan darah
Tanpa teman, tanpa belas kasihan
Kadang dengan hujatan dari berbagai penjuru

Maka kumulai jalan ini dengan langkah
Walaupun di akhir aku harus kembali padaMu

ngelmu ah.. 12:15 pm

Nah teman-teman, sekarang ini kan lagi ramai-ramainya nih mass media membicarakan soal mulai diberlakukannya Protokol Kyoto, yang isinya mengatakan bahwa negara-negara maju khususnya berjanji untuk mengurangi emisi karbon dioksida-nya demi mencegah lebih lanjut pemasanan bumi secara global.

Memang kalau baca beginian suka males yah? tapi akibat pemanasan bumi itu ada banyak imbas buruk yang akan menimpa kita. Seperti akan tenggelamnya dataran rendah karena naiknya ketinggian permukaan laut, naiknya temperatur di muka bumi yang bisa menyebabkan kekacauan panen, munculnya penyakit tropis di tempat-tempat baru. Lalu bagian bumi yang akan mendingin, artinya akan diperlukan lebih banyak energi untuk menghangatkan rumah-rumah. Belum lagi perubahan arus laut yang mengakibatkan berubahnya iklim di berbagai belahan bumi, banjir, badai, kekeringan, dan masih banyak lagi akibat buruk dari pemanasan bumi tersebut.

Jadi kita sebagai manusia penghuni bumi, ngga bisa dong berdiam diri, karena kan akibatnya ke kita-kita juga, ya ga sih?

Sebenernya bagaimana sih terjadinya pemanasan global ini? apa sih efek rumah kaca itu?

Setiap hari kita kan menerima sinar matahari ya? sebagian dari sinar matahari ini ada yang diserap bumi dan ada juga yang dibalikkan ke atmosfir karena refleksi.

Nah, setelah diserap oleh bumi, sinar ini menjadi energi panas atau infra merah yang nantinya akan memancar ke permukaan bumi dan keluar menuju atmosfir.

Namun sayangnya, karena kegiatan manusia di muka bumi ini, yang di antara lain menghasilkan “greenhouse gas”(gas dengan efek rumah kaca) yang menyerap energi panas yang tadi disebut di atas.

Greenhouse gas sendiri berasal dari penggunaan energi yang berasal dari fosil, seperti minyak bumi, kemudian kebakaran hutan juga menambah jumlah CO2 di atmosfer bumi kita. Gas-gas lainnya seperti: HFC yang digunakan di kulkas dan pendingin ruangan, penggunaan pupuk yang mengandung N2O, dst.

Jadi karena pertambahan gas-gas tersebut di atas akibat kegiatan manusia, energi panas tadi yang akan menuju atmosfir akhirnya terserap oleh greenhouse gases tadi yang berada di permukaan bumi, sehingga berhasil memanaskan permukaan bumi kita.

Semakin banyak greenhouse gas yang diproduksi di muka bumi, semakin panas temperatur bumi kita. Nah kenaikan temperatur bumi ini yang akan menyebabkan bencana dan alterasi alam di seluruh permukaan dunia.

Contohnya ya itu tadi:

- dengan naiknya temperatur di permukaan bumi secara global, maka es di kutub akan meleleh, menyebabkan naiknya permukaan laut yang akan mencaplok dataran rendah di berbagai wilayah di bumi, artinya bila ada penduduk yang hidup di wilayah2 tersebut, mereka harus diungsikan.

-Kacaunya panen, misalnya tumbuhan yang biasa hidup dengan hawa sejuk - kalau ada kenaikan temperatur, dia tidak akan bisa berkembang sebagaimana mestinya. Tempat penanaman harus diubah.

-Timbulnya penyakit-penyakit tropis seperti malaria di tempat-tempat yang tadinya mempunyai iklim sejuk.

Apa sih yang bisa kita lakukan sebagai orang awam untuk membantu ibu kita, bumi kita supaya beban yang dia pegang (berat ya? jadi bumi, harus menanggung milyaran penduduk bumi belum lagi sebagian besar merusak tempat tinggalnya sendiri) lebih ringan sedikit?

Ya ga usah muluk-muluk deh.
1. Gunakan transportasi umum (pengurangan emisi karbondioksida dari kendaraan pribadi)
2. Hemat Listrik, hemat air bersih
3. Jaga kebersihan lingkungan, pisahkan sampah yang bisa didaur ulang dengan yang tidak
etc.

Kalau kebetulan kamu menjadi penguasa di Indonesia, ya mbok hutan-hutan itu diperhatikan, dipelihara, ditanam ulang kembali tanah-tanah yang kosong, dsb.

Ya….sebenernya kalau mau dibilang, aku ini sedang omong kosong, ngomong sama hantu. Tapi ya untung aja di kolom ini aku bebas cuap-cuap toh?

Nanti kalau ada bencana alam lagi, ya mulai saling menyalahkan……

perempuan 12:12 pm

Di Indonesia sudah umum ketika satu pasangan menikah, mereka akan langsung mencoba mempunyai anak. Entah tahun pertama, kedua atau ketiga dan seterusnya. Namun di negara-negara maju, pasangan suami istri ataupun teman hidup (karena tidak melegalisasi hubungannya), tidak memasukkan ke dalam program wajibnya - punya anak.

Punya bayi adalah opsi, bukan sesuatu yang wajib atau yang “seharusnya”.

Wanita mempunyai kebebasan untuk memutuskan apakah dia akan hamil atau apakah dia mau atau tidak punya anak.

Banyak perempuan yang mengundur-undur kehamilannya karena alasan pekerjaan. Tidak benar juga kalau dikatakan mereka terlalu berpikiran maju hingga hanya mementingkan karirnya, kebanyakan dari mereka dilanda dilema. Dilema antara pekerjaan dan menjadi ibu, dilema menjadi ibu atau tidak menjadi ibu, dan sebagainya.

Ketika umur sudah mendekati kepala tiga, mereka pikir, apakah sudah waktunya aku mulai mencoba untuk hamil? apakah aku wajib hamil sekarang sebelum umur mencapai kepala tiga? apakah aku benar-benar menginginkan bayi itu? apakah aku harus hamil karena dengan umur yang lebih tua aku akan lebih susah untuk menjadi hamil? apakah aku sudah siap? mental dan materi? dan seterusnya…

Dilema ini datang ketika waktu dimana mereka dalam keadaan sehat, kuat dan produktif akan segera habis…sehingga mau tidak mau mereka harus mengambil satu keputusan.
Adakalanya secara mental mereka belum siap ataupun mereka belum punya keinginan untuk mempunyai bayi, namun umur mengejar-ngejar mereka.

Kedatangan seorang bayi adalah kedatangan seorang manusia di muka bumi ini. Orang tua tidak bisa hanya mengantisipasi masa pertumbuhan manusia kecil itu. Tapi orang tua juga harus bertanggung jawab akan pendidikan dan pembentukan dari manusia kecil hingga menjadi manusia remaja.

Bukan hanya diperlukan materi yang mendukung pertumbuhan mereka, namun waktu luang, kasih sayang, kesiapan mendidik, atensi yang berkelanjutan, dsb.

Sementara berpikir, waktu berlalu….dan waktu tidak pernah memaafkan.

ngelmu ah.. 12:11 pm

Albar punya kebiasaan yang aneh. Jika dia punya barang yang ia suka atau yang dia anggap berharga, seperti sepotong roti atau bola mainannya, dia akan mencari-cari tempat untuk mengubur benda-benda itu.

Dia menggali tanah dengan ke dua kaki depannya, kemudian roti itu dia taruh dengan mulutnya, kemudian dia kubur, dengan menggunakan moncongnya dia memindahkan tanah hingga menutupi roti itu.

Lalu dia melihat kuburan itu sebentar, terkadang kalau dia tidak suka, kuburan itu dia gali lagi, benda itu dia ambil lagi dengan mulutnya. Kemudian dia mulai mencari-cari tempat baru untuk mengubur…

Dia selalu ingat tempat-tempat di mana benda kesayangannya dikubur.

Albar bisa membawa 3 bola tenis di mulutnya. Dia sangat sabar terhadap anak-anak. Kalau kita minta salam, dia akan memberi kaki depannya dengan lembut….(tidak seperti Kenya yang kasar dan penuh enerji)

Dalam soal makan, Albar juga tidak seperti Kenya. Albar selalu menyisakan makanannya untuk keesokan paginya (sarapan kali ya???)…

Kebiasaan buruknya: makan kerikil! (entah kenapa, bukan Albar saja, Otto juga begitu).

Hobi dari kedua anjingku: berburu kelinci dan kucing.

Albar pernah membunuh seekor kelinci secara tidak sengaja, mungkin tekanan rahangnya terlalu keras, hingga leher kelinci itu akhirnya patah. I’m sorry bunny….I tried to tell him not to hunt you, but his instinc was too big.

Kenya juga pernah membawa seekor kelinci tanpa kepala di hutan Pardo, mungkin kelinci itu memang sudah mati di alat jebakan. Ia juga sudah “membunuh” secara tidak sengaja beberapa burung dara dan burung kecil lainnya.

Kenya pernah nekat berenang mengejar 2 bebek di danau Covadonga, padahal saat itu turun hujan salju….

asem manis asin, My Favorite 12:11 pm

Pernah ga kamu ngirim email ke seseorang, kemudian nyesel….trus sanking nyeselnya, kamu tanya ke temen sebelah kamu yang ahli komputer, “Ko, kalo email udah kekirim, ga bisa di delete di perjalanan ya?”

Ha ha ha ha……mau nangis deee kite….

Temenku cuma tersenyum aja sambil mikir “rasain lu…”.

Kebayang deh tuh email yang sudah berubah menjadi dot dot 1000111000 sedang melalui kabel-kabel dan server-server, melintasi perjalanan dari satu benua ke benua yang lainnya. Trus kamu mencoba menginjak-injak kabel itu biar emailnya mogok di suatu tempat! Dasar….atau membayangkan seekor kurcaci yang bekerja di dalam mesin server bisa membantu kamu mencari email bangsat yang telah terkirim itu….

Atau misalnya, kamu melakukan suatu kesalahan fatal, seperti minjemin duit ke seseorang padahal kamu butuh duit itu. Nah setelah kamu sadar bahwa apa yang kamu perbuat itu salah, rasanya pengen kejadian itu bisa diinformatisasi, tinggal mengklik “UNDO”, semuanya kembali seperti semula….

JELAS GA BISA….!!!!

Tapi pengen kan? atau pernah mengalami kejadian itu?

Kalau saja dalam kenyataan kita bisa mengkansel, meng-undo, semua kesalahan kita…dunia ini menjadi lebih mudah ya? Tapi sayangnya tidak begitu.

Tapi, ya sudah. Terkadang dalam hidup ini diperlukan keberanian, mengambil resiko apa yang telah kamu lakukan.

Yang jelas pesenku, hati-hati ya, kalau menulis email, jangan ada kata-kata yang jelek, karena terkadang, mau mengklik “save” eh mousenya keterusan dan mencet…”SEND”….
Bahaya kan?

asem manis asin 12:04 pm

Mata itu selalu memelas di hadapanku ketika aku sedang memakan roti bakarku dengan mentega.
“Eh….ga ada makanan buat kamu”
“Kamu jangan ngeliatin aku begitu ah…”
“Ayo keluar, jangan di sini! aku lagi sarapan!”

Si…kamu tega-teganya! ngusir siapa sih? makan roti aja ga mau bagi-bagi…

Ha ha ha….

Skenario itu terjadi setiap kali aku menyempatkan diri sarapan pagi di dapur. Siapa sih yang aku usir? ya anjingkulah, si Kenya terutama.

Aku ga tahan melihat matanya, dia selalu pasang mata memelas, sehingga tampak lebih bulat dari biasanya. Dia akan duduk manis dan melihat antara aku dan roti bakar yang aku pegang.

Pokoknya perang, siapa yang paling kuat, dia yang menang. Kalau aku kalah karena ga tega, ya paling aku bagi-bagi roti tawar. Kalau aku sedang kejam, dia akan pergi sendiri dari dapur…

Ketika aku akan berangkat kerja, kucium dua-duanya, mereka tidak bergeming. Terkadang Kenya akan mengantar aku sampai halaman, menatapku sampai pintu itu tertutup.
“Adios mi corazón…”

asem manis asin 12:01 pm

Pernah ga punya temen yang lebih suka mendengar daripada berbicara?

Aku punya. Susahnya aku sendiri tidak suka berbicara, maksudnya kalau memang ga ada yang diomongin, ngapain ngoceh, kan gitu? daripada ngocehin tema-tema bodoh, mendingan diam.

Nah, kalau sudah ketemu temenku yang satu ini, yang tidak suka bicara, aku jadi bingung. Tapi yang jelas, aku lebih banyak bicara daripada dia. Karena aku ga tahan keheningan ketika kita berdua duduk-duduk di sebuah café.

Kalau ditanya, “apa kabar Sxxx?” , jawabnya, “baik” titik…(tidak ada panjang lebarnya), trus aku coba tanya lagi “bagaimana pekerjaan kamu mengajar, lancar?” jawabannya kalau tidak “lancar”, ya “baik”.

Untungnya aku masih punya pertanyaan yang satu lagi, “lalu, ladang sayuran kamu di desa?”, jawabannya, “baik, namun musim dingin kali ini tomatnya bla bla bla” (jangan dikira jawaban terakhir panjang juga)

Barulah setelah itu, aku memeras keringat untuk mencari-cari tema pembicaraan. Aku bicara mulai dari pekerjaan dan teman-teman di kantor (temenku ini pernah sekantor denganku), lalu kunjunganku ke Indonesia, tentang anjing-anjingku, dst. dst.

Terkadang, selesai bertemu dengan dia, tenggorakanku sakit dan kering, karena aku sendiri tidak biasa ngoceh tanpa henti. Abis, kalau aku diam, dia juga diam atau malah dia yang bertanya dan aku tidak bisa menjawab dengan sekedar, “baik”.

Untuk berbicara dengan diapun, harus pintar memilih tema yang jitu supaya dia mulai berbicara.

Yang jelas, aku selalu mengusahakan untuk mengajak teman lainnya ketika bertemu dengannya, supaya “membantu” aku berbincang-bincang dengan teman yang spesial ini.

Salahkah aku? jika terakhir dia mengajak aku ketemuan, aku bilang, “nanti aja deh, bulan depan, kalau Claudia sudah pulang dari Mexico, soalnya sekarang bla bla bla…”

Inti masalahnya, belum lama ini kami bertemu, kira-kira sebulan setengah yang lalu. Dan bagiku waktu itu belum cukup untuk mengakumulasi “cerita-cerita” heboh yang bisa aku ceritakan ke dia….he he he…

Jahat ya aku? abis gimana? setiap kali dia ngajak ketemu, kok sepertinya aku jadi tekanan batin ya? bener…dan yang merasa tidak nyaman bukan aku saja.

Ya ga heran sih sebenarnya kalau semua orang agak menghindar atau malas bertemu dengannya.

Aku bukanya antipatik, tapi….MALAS aja….sorry ya? semoga kamu mengerti wahai temanku….

masalah sosial 11:58 am

Entah siapa walikota terkejam di dunia ini? mungkin Sutiyoso (Jakarta), mungkin Gallardon (Madrid), walikotanya Barcelona atau walikotanya London?

Yang jelas, Gallardon terpilih karena simpatinya dan karena ke-kiri2-annya. Namun setelah terpilih, ternyata doi langsung ganti kulit! Ngga tanggung-tanggung, menaikkan hampir 30% (malah lebih menurut laporan orang-orang) Pajak Bumi dan Bangunan di Madrid. Kok semena-mena sih?

Setelah itu, tempat parkir bebas di daerah-daerah tertentu di rubah menjadi “blue zone” alias kalo parkir di situ harus bayar perjam-nya. Orang-orang yang tinggal di daerah situpun diwajibkan membayar parkir per-tahun, yang pembayarannya diantisipasi sebelum zone itu berlaku….ini walikota atau preman??

Di balik semua itu, Gallardon sedang menggarap ring-road2 baru di dalam dan di luar Madrid. Daerah mana yang tidak terkena galian, mesin-mesin yang membuat terowongan bawah tanah,
baik itu untuk jalan, subway, kereta api cepat, dan parkiran kendaraan bermotor.

Kalau masalah di Jakarta banjir dan macet, di sini masalahnya galian. Betul….

Di Madrid dan Barcelona, pemerintah daerah rajin menggali-gali, sehingga struktur tanah di sekitar bangunan terpengaruh, dan terjadilah apa yang terjadi di Madrid dan Barcelona, tanah bergerak dan tiba-tiba jatuh hingga tercipta sebuah lubang yang amat besar dan dalam yang di sini biasa disebut “socavon”

Tetangga-tetangga ketakutan, bangunan rumah mereka mulai muncul retakan, pintu dan jendela tidak bisa ditutup, sewaktu-waktu bangunan bisa rubuh.

Di Barcelona, di daerah Carmel, dua bangunan terpaksa dihancurkan, karena tidak aman lagi, akibat galian yang dilakukan oleh pemda untuk perluasan jaringan subway. Pemilik rumah bahkan hampir tidak sempat menyelematkan barang-barangnya. Mereka hanya diberi waktu tiga puluh menit untuk masuk ke dalam rumah dan mengambil barang-barang seperlunya dengan ditemani oleh petugas pemadam kebakaran.

Menyedihkan. Ada foto-foto kenangan yang tertinggal, bahkan ada penghuni yang meninggalkan burung-burung peliharaannya di rumah itu.

Di Madrid, ada banyak lagi galian, mulai dari ring road M30, M40, M50, subway (metro), tunel “ketawa” (dinamakan tunel ketawa, karena tidak selesai-selesai dari jaman kuda)- tunel ini dibuat dari stasiun kereta Atocha di selatan yang akan menghubungkan jalur kereta api cepat dengan stasiun Chamartin, di utara Madrid.

Kalo aku sih ngga ngebayangin gimana mereka akan melaksanakan hal itu. Yang jelas yang terkena imbasnya ya orang macam aku ini yang menggunakan transport umum. Harus menghindari kemacetan dengan merubah rute, jalan kaki lebih panjang lagi demi datang tepat waktu di tempat kerja. Begitu juga orang-orang yang menggunakan mobil pribadi, karena ada banyak galian dan pekerjaan umum di jalan-jalan, semua itu menyebabkan kemacetan di jam-jam sibuk. Belum lagi di pusat kota, banyak toko-toko yang merasa dirugikan ketika jalan di depannya digali, hingga turis malas melewati jalan itu.

Taruhan yuk? empat tahun mendatang, apakah dia akan terpilih lagi?

Aku pikir pendukung Gallardon pun kini membencinya, apalagi orang-orang sosialis. Namanya dikutuk di mana-mana.
____________________________________________________
Sekedar menambah data-data, ada tiga cara pembuatan tunel:

1. Cara Austria, dengan menggali tanah perlahan-lahan, cara termurah. Yaitu dengan menggali secara transversal.
2. Dengan menggunakan eksplosi bom (tidak bisa digunakan di zona yang telah dihuni)
3. Dengan mesin tunel yang segede gajah (paling aman dan paling mahal), nah ini susah cara ngejelasinnya…maklum bukan orang teknik…

asem manis asin 11:56 am

Ih..nyesel waktu kemaren ke Indonesia, aku ga sempet ke Yogyakarta, padahal diajakin sama Uwa Uweh, ke rumah tante Yiyis bareng mamih…NYESEL….NYESEL…NYESEL…

Sekarang yang ada jadi ngebayangin Yogya, Malioboro, Gudeg, terutama gudegnya deh…ampun! rumah Tante Yiyis yang lega, asri dan yang dapurnya segede gajah. Pengen liat mbok-mbok dan tukang becak…idih…betul, itu suasana indonesia dan jawa….banget. Mana ada sih di sini mbok yang sanggulan, pake kebaya dan kain jawa, YA GA ADA!!!!

Aku kangen tiba-tiba….kangen wewangian pasar, bumbu, masakan, orang-orang jawa…becak, sepeda jaman belanda, jalan malioboro yang dipenuhi kaki lima, kangen pake celana batik yang norak itu….

Ya udah segitu aja….siapa sih yang ngerti omongan beginian??

LINK TEXTNext Page »
online