Melawan pemikiran kelaki-lakian
Ternyata masih banyak pria di planet ini yang berpikir bahwa fungsinya di dunia ini adalah untuk memberi penghidupan yang layak bagi kaum wanita, selain dari melindungi dan dilayani oleh wanita.
Sudah sejak lama banyak wanita yang bisa menghidupi dirinya sendiri, baik di desa-desa maupun di kota. Hanya saja terkadang jasa mereka tertutup karena penilaian yang miring terhadap pendapatannya, yang dikatakan hanya sebagai “penambah” pemasukan utama (yaitu dari suami). Sebetulnya hal ini tidak benar, terutama di jaman sekarang ini, pendapatan istri sama pentingnya dengan pendapatan suami. Tanpa pemasukan dari keduanya, suatu rumah tangga akan menemui banyak kesulitan dalam menutup bon-bon yang masuk tiap bulannya.
Malah aku yang heran kalau menemukan pria yang masih berkata bahwa dia harus menghidupi istrinya, calon istrinya, dst. tanpa berpikir lebih jauh bahwa si istri bisa juga mencari nafkah.
Berangkat dari pemikiran kesamaan hak dan kewajiban antara kaum pria dan wanita, hendaknya dari kaum wanita juga harus menunjukkan aktuasi emansipasi feminitasnya dalam segala aspek kehidupan.
Jika kita ingin kaum pria mengakui kesamaan derajat kita, maka tunjukkanlah hal itu, tidak dengan meminta-minta dibawakan belanjaan jika kita memang bisa dan mampu mengangkutnya.
Atau usahakan membayar apapun ketika kita berkencan, setidaknya sebagian, jangan sampai membiarkan pria membayar semuanya.
Jangan melemah-lemahkan diri kita dengan alasan karena diri kita “perempuan”.
