Memang tidak adil kalau aku yang tidak tinggal di Indonesia menulis tentang kenaikan BBM yang hari senin lalu diberlakukan oleh pemerintah SBY.
Tapi yang jelas aku lihat:
-Wajar kalau harga BBM naik, dikarenakan terbatasnya jumlah minyak bumi dan di pasaran internasional harganya memang sudah semakin mahal
-Indonesia bukan lagi penghasil utama minyak bumi di dunia
-Anggota-anggota DPR yang memanfaatkan kesempatan untuk ribut dengan pemerintah, seakan-akan mereka membela kepentingan rakyat kecil, padahal masih banyak urusan rakyat selain kenaikan BBM ini, namun apa mereka pernah peduli sebelumnya?
-Kebanyakan angkutan umum seperti angkot, tidak dikelola secara langsung oleh pemerintah, maka semisalnya diberlakukan subsidi BBM untuk angkutan umum, maka yang terjadi adalah beberapa pihak akan menuai keuntungan dari subsidi tersebut
-Kalau mahasiswa-mahasiswa turun ke jalan untuk protes, berarti DPR belum berfungsi sebagaimana harusnya
-Benar jika pemerintah tidak harus minta pendapat siapapun jika BBM dinaikkan, kalau memang di pasaran luar harganya naik, orang-orang Indonesia kenapa bisa menikmati BBM dengan murah? keputusan itu berdasarkan pertimbangan makro ekonomi, bukan keputusan asal bunyi (bukannya aku pro-pemerintah, tapi kali ini mereka aku anggap benar)
-Mungkin dengan kenaikan BBM, sirkulasi kendaraan bermotor akan berkurang dan secara langsung akan mengurangi emisi CO2
-Mungkin dengan kenaikan BBM, ada pihak-pihak yang ingin mengembangkan sumber energi lainnya yang bebas polusi/lebih bersih
Yang jelas, permasalahan utama dari negara kita adalah belum meratanya kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa.
Kalo lagi mau ngomong ngawur: bubarkan DPR, MPR dan DPA.
Tidak ada gunanya, hanya buang2 uang negara.
—————————————————————————
Omongan ngawur lagi: kalo DPR sudah bubar, mobil-mobil dan rumah-rumah dinas para “wakil rakyat” itu dijual saja dan uangnya di gunakan untuk memperbaiki sarana transportasi publik dan penghijauan hutan.

At 12:35 AM, imponk said…
lebih ngawur lagi, kalo seluruh rakyat puasa dan tidak pergi kemana-mana
Comment by imponk — March 8, 2005 @ 3:43 pm