Bercinta dgn lelaki, menikahlah dgn perempuan
Kalau lagi kesel sama laki-laki yang aku nikahi, karena sering mengelit alias mengeles dari tugas-tugasnya di rumah, seperti hal-hal yang paling gampang, membuang sampah. Tugas yang aku bagi untuknya yang “oficial” adalah membuang sampah. Namun doski sering kali “lupa” atau mengalami amnesia yang amat dalam dengan tugas yang satu ini. Aku sering berkata dalam hati judul yang kutulis di atas “untuk wanita-wanita yang masih single….bercintalah dengan lelaki, tapi nikahlah dengan seorang perempuan”…..
Terkadang aku juga suka suruh dia bantu-bantu cuci piring, itu pun dia lakukan saat-saat terakhir, kalau sudah mepet.
Perang ini sudah ada semenjak kita tinggal di rumah sendiri, alias sekitar hampir…hmm…5 tahun. Antara teriakan dan kelembutan cara menyuruh, sampai ironi dan sinisme…semuanya sudah diaplikasi dalam perang sipil ini…Namun ibarat mulut sudah berbusa dan bibir sudah jontor, begitulah laki-laki…..walaupun dia special, namun dia tetap berjenis kelamin laki-laki.
Pembelian mesin dishwasher terpaksa ditunda karena harus “merusak” struktrur patio dan kami pikir lebih baik menunggu tawaran dari konstruktor, mungkin saja tahun ini kami harus hengkang dari rumah itu. Ada banyak penundaan reformasi rumah dikarenakan pikiran ini.
Anyway back to the subject. Ngga pernah bosan-bosannya kita berkata, kenapa sih laki-laki itu hanya bisa melakukan satu macam tugas dalam satu waktu? sedangkan seorang perempuan bisa melaksanakan bermacam-macam tugas atau pekerjaan dalam satu waktu?
Jadi untuk lebih jelasnya, wanita lebih banyak bekerja daripada laki-laki? at least di rumah….
Betul ga? betul aja deh.
Lucunya lagi…..si suamiku ini, kalau aku marah-marah karena suatu hal (salahku juga kalo lagi ngambek ngga mau bilang sebabnya apa), dia pikir aku marah karena dia tidak mengerjakan tugasnya, jadi lantas dia dengan segera membersihkan rumah. Aku jadi malah tambah marah lagi, karena sebenernya aku marah bukan karena itu. Bingung kan?
Persis seperti yang aku baca di buku “Men come from Mars and Women come from Venus” (I might be wrong in the tittle, but sounds like that). Pria selalu menawarkan solusi untuk segala problem, padahal terkadang wanita hanya perlu untuk diajak sekedar berbicara, dia tidak mau solusi dari si pria.
Terkadang karena sudah capek berdiskusi, akhirnya aku mengambil alih tugas-tugas yang ia lupakan, seperti membuang sampah, membersihkan halaman. Tugas-tugas lainnya sudah aku relakan menjadi “tugasku”. Kalau lagi malas, tidak aku kerjakan, aku biarkan saja, sebodo amat deh…rumah mau acak adul, siapa sih yang semangat pulang kerja, lantas bersih-bersih rumah. Paling-paling masak buat makan….itu yang paling penting, soalnya kalo aku ga masak ya ga ada makanan. No way deh kita bertahan dengan makanan junk food.
Kalau kekesalan sudah mencapai puncaknya, aku pikir, apa untungnya kaum wanita serumah dengan kaum lelaki. Wong 80% pekerjaan rumah dilakukan wanita, laki-laki serasa tinggal sama ibunya, makan disediain, baju dicuci dan disetrikain, gimana ga nyaman? jadi apa untungnya? apalagi aku bekerja dan sanggup membiayai hidupku sendiri. Paling butuh laki-laki buat bercinta…ha ha…that’s the truth, sounds cruel or too liberal.
I think many women found in the same situation. Gimana kalo kita pisah, masing-masing tinggal di rumah sendiri, enak ga ya? seperti orang pacaran….nikah tapi ga serumah…has anybody ever thought about this possibilty?
Dan judul di atas bukannya memacu kaum cewek untuk jadi lesbian, bukan…maksudnya kalau tinggal sesama perempuan, kan enak, betul, ngga semua perempuan mau mengerjakan tugas rumah. Namun kebanyakan perempuan lebih “care” dengan urusan rumah. At least kalau kita tinggal sama mereka rumah lebih bersih dan tertib, masing-masing lebih memperhatikan pekerjaan yang harus dilakukan, sadar gitu loh….ngga ada yang amnesia.
Yah kalau di Indonesia sih gampang, tinggal cari pembantu. Nah kalau di sini, di luar negri tidak ada budaya pembantu. Aku sendiri juga ngga setuju, ngga butuh-butuh amat bantuan pembantu, wong tinggal cuma berdua, rumah kecil, bisa dihandle sendiri (bisa dihandle sendiri kalau ada koordinasi antara dua penghuni tersebut, kenyataannya yang bekerja hanya salah satu dari mereka).
Lagi pula pembantu di Indonesia adalah bentuk dari perbudakan dan terus terang aku sama sekali tidak setuju.
Ya udah….life goes on my friends, biarpun tanganku sudah panuan nulis nulis sambil protes, mulut sudah kaku karena keseringan ngomel, laki-laki tidak pernah berubah. Camkan hal itu. Kalau kau beruntung, bisalah kau temukan laki-laki idaman itu….yang care dengan pekerjaan rumah, yang berpikiran bahwa tugas rumah adalah tugas bersama yang harus dibagi sama rata.
Ada ga sih laki-laki seperti itu? kalau ngga, ya….jangan menikah, jangan serumah sama laki-laki. Just make love with him but don’t invite him to live together… (sumpe…), kalau perlu loe test dulu deh sebulan, pake agreement dan tertulis. Kalo udah lulus sebulan, kontraknya loe perpanjang jadi enam bulan, begitu seterusnya. Kontrak memanjang jadi jangka setahun, kemudian dua tahun, kemudian lima, dst.
Iya deh….mo disebut terlalu liberal atau apalah, kalau yang baca ini laki-laki, don’t comment deh, gue ga perlu komentar loe. Kalau yang baca perempuan, pasti setuju sama gue…..kha kha kha…
_____________________________________
Post data:
Gue sendiri udah mati kutu, ngga tau gimana caranya ngebilangin dia. Gue ga bisa kan tiap hari nyuruh, sampah dibuang gih! loe kok ngga pernah bersihin halaman?
Atau hal yang paling menyebalkan, peralatan macam bor, mur, obeng, kertas-kertas berisi catatan telpon, orat oret miliknya tersebar di seluruh penjuru rumah dan gue udah ga bisa ngontrol lagi, udah capek!

g stuju bangeeett ama lu.
Comment by ani — May 7, 2005 @ 5:12 am
setuju banget… ama lue… emang namanya juga produk pertama gimana bisa kerja and care… hehe…
Comment by ina — August 4, 2006 @ 3:22 am
Ha..ha..ha55x… Lo perempuan yang uniq. Karena gw lom maried, gw gak bs coment byk. Justru gw lagi mikir, gmn caranya spy pas maried gw+suami gw sama2 enak (g cm pas ML doank. Anw, gw setuju soal agreement sblm nikah. Biar gak ada yang dirugiin! Cos maried adl kontrak yang gak bisa dituntut!!! Bisnis sih msh ada duitnya. Hehe..bknnya matre, tapi analogi aza
Comment by noe — September 1, 2006 @ 9:42 am
OK sis, akurr beeng tuh!!
Soale mulut gue jg busanya dah lebih banyak dari rinso kalo suruh dia bantu2 di rumah.
Anyway, tuk agreement kynya kurang setuju tuh.Yg ptg kalo dia ga mo bantu lempar aje. Ha…ha…ha…
Comment by Mona — October 24, 2006 @ 2:45 pm
Gua setujuuuu bgt..tp kadang ada kok laki”yang malah kebalikannya dr suamimu..cth nya lakiku..dia lbh bersihan dari ak..tp urusan dapur mmg aku yg handle..tp klo kebersihan dia yg pegang..dan aneh nya dia itu terlalu over protektif ma kesehatanku, dadi sampah aj aku nggak boleh pegang..dia yg pegang..tp saking bersihannya..cium ak aj jarang huahahaha..dia selalu menghindari hal”yg bisa transfer barang tidak hygine..kekeke..ky transfer air liur cth e..just joke..tp most of mars like that..they always selfish..ok..tell your husband..i need wife and husband..let me merry with woman..huhhhaaa just joke semua nya..kudu e km bikin kontrak tertulis.jd klo dia melanggar isa km gugatt, akan di tuntut di muka hakim kekekke
Comment by noppi — February 24, 2007 @ 11:01 pm
gak setuju mbak, suamiku justru lebih rajin daripada aku sendiri dalam hal merawat dan melakukan pekerjaan rumahtangga. Jadi di rumah itu yang bersih2 ya suamiku, yang cuci piring, cuci baju, dll. Dia paling ga tega kalo liat aku bersih2 rumah sendiri… wah thanx God banget deh
Comment by nungqee — June 14, 2007 @ 9:48 am
gw laki-laki, tapi gw ngerti yg kamu rasain,
aku juga setuju ko sama lo
Comment by asmetd — February 4, 2008 @ 6:38 am
seorang laki2 yang benar, bukan menjadi raja dalam rumah tangga, tapi justru memuja saang wanita dengan menghargai setiap tindakannya dan membantu segala pekerjaannya. ya harsnya pekerjaan rumah harus di selesaikan berdua, dalam catatan: berdua sama2 bekerja di luar rumah ( pegawai ). tapi jika sang istri adalah ibu rumah tangga secara ful, ya pekerjaan itu emang sudah seharusnya dya kerjakan, dan tidak ada alasan untuk menghindarinya. tapi yang jelas kamu yang lebih tahu suasana keluargamu. bukan orang lain.
Comment by asmetd — February 4, 2008 @ 6:43 am