puisi & fiksiMarch 8, 2005 2:04 pm

kamu tradisional
aku liberal

kamu religus
aku pendosa

kamu di sana
aku di sini

kamu yang tak mengerti diriku
aku yang tak mengerti dirimu

kita berbicara dengan logat yang sama
namun dengan bahasa yang berbeda

kau menyadarkan aku
bahwa mimpi terkadang hanya manipulasi
make-up dari khayalan kita

hanya ku simpan kenangan yang indah
dan lenggang jalanmu yang aduhai…
kamu tetap sayangku dalam mimpi

yang patetic 2:04 pm

Betul…gue lagi ngomongin bra. Gua belum cerita kejadiannya di Sukabumi.

Jadi, pas udah selesai pembelian barang pesenan suami di Cibatu, gue kan pergi ke Sukabumi kotanya, karena adek gua pengen kue moci.

Memang ransel gue berat, karena bawa 2 golok pencak silat sepanjang 50 cm (pas dikilo, ternyata beratnya 1 kilo) plus senjata2 lainnya.

Di Swalayan Yogya gue ngga nemu toko yang menjual kue moci, ya udah gua tanya aja ibu2 di jalan, kalo mo beli kue itu di mana, trus gue ditunjukkin, dia bilang, naik angkot yang warna hijau aja, nanti bilang diturunin di tempat yang jual kue moci, supirnya udah tau.

Udah aja, gue udah beli kue moci, di gg. mesjid kalo ngga salah, di jalan bhayangkara (kalo ga salah gue ada sedokur jauh di gg. dewa, deket2 situ). Nah, ga jauh dari situ gue liat tukang bubur, di pojokan, deket kantor kelurahan kalo ga salah.

Eh begitu gua mo duduk, kan gua turunin ransel, saat itulah…gua ngerasa BH gua lepas, kancingnya lepas. Gua sih santai aja, pernah juga ngalamin kejadian kayak gini, cuma bisa diatasi. Itu gara2 ransel sih, pas ngelepas, punggung kan jadi melebar karena gerakan otot lengan ke arah luar. Atau guanya jadi kurus karena kepanasan di Indonesia, jadi makanya BH bisa lepas karena kendor….

Pas ada ibu2 pegawai negri pesen bubur juga, untung aja sepi. Gua bilang aja langsung sama ibu itu, “ibu tolongin saya dong bu, bh saya lepas”- sebenernya ya malu, tapi gue ngga ngeliat solusi lainnya.

Ngga mungkin dong gua diem aja, perjalanan masih jauh, Sukabumi - Jakarta cing! masa gue mo membiarkan bh itu menggelantung tanpa dikancingkan, kalo melorot bisa berabe.

Untung aja ibu itu mengerti, sesama perempuan, dia nolongin gue memperbaiki kerusakan itu, gue cuek, kebetulan tukang bubur lagi ngobrol sama tukang rujak yang mangkal ga jauh dari situ.

Lega deh gue. Terima kasih ya ibu….

Trus kebetulan aja gua balik ke arah terminal barengan naik angkot sama ibu itu. Si ibu dan si supir angkot nolongin gue juga pas gua bilang gua mo ambil kolt dari Suska sampe Ciawi.

Pas si ibu mau turun, dia ngasih duit besar, si supir ngga punya kembalian, jadi kebetulan gua bisa bales jasa ibu itu….

Begitulah….BH bisa jadi masalah di perjalanan….

ngelmu ah.. 2:03 pm

Betul, karena proses penguapan uap air dari tubuh kita yang menghasilkan keringat, berguna untuk mendinginkan temperatur tubuh kita.

Kenapa proses penguapan ini mendinginkan? karena dalam proses penguapan ini sendiri diperlukan enerji (enerji panas), maka jika kita berkeringat, energi panas yang ada dalam tubuh akan berpindah/keluar, hingga temperatur tubuh kita berkurang (mendingin).

Analoginya begini, jika kita memasak air dengan kompor elektrik, air itu akan mendidih pada temperatur 100º C, hingga setelah air mendidih, air akan tetap menguap jika kita biarkan mendidih dan dalam penguapan ini diperlukan enerji panas dari kompor elektrik.

Begitu juga dengan penguapan air dari dalam tubuh kita (keringat), diperlukan energi panas yang akan terkonsumsi.

perempuan 2:03 pm

Ternyata masih banyak pria di planet ini yang berpikir bahwa fungsinya di dunia ini adalah untuk memberi penghidupan yang layak bagi kaum wanita, selain dari melindungi dan dilayani oleh wanita.

Sudah sejak lama banyak wanita yang bisa menghidupi dirinya sendiri, baik di desa-desa maupun di kota. Hanya saja terkadang jasa mereka tertutup karena penilaian yang miring terhadap pendapatannya, yang dikatakan hanya sebagai “penambah” pemasukan utama (yaitu dari suami). Sebetulnya hal ini tidak benar, terutama di jaman sekarang ini, pendapatan istri sama pentingnya dengan pendapatan suami. Tanpa pemasukan dari keduanya, suatu rumah tangga akan menemui banyak kesulitan dalam menutup bon-bon yang masuk tiap bulannya.

Malah aku yang heran kalau menemukan pria yang masih berkata bahwa dia harus menghidupi istrinya, calon istrinya, dst. tanpa berpikir lebih jauh bahwa si istri bisa juga mencari nafkah.

Berangkat dari pemikiran kesamaan hak dan kewajiban antara kaum pria dan wanita, hendaknya dari kaum wanita juga harus menunjukkan aktuasi emansipasi feminitasnya dalam segala aspek kehidupan.

Jika kita ingin kaum pria mengakui kesamaan derajat kita, maka tunjukkanlah hal itu, tidak dengan meminta-minta dibawakan belanjaan jika kita memang bisa dan mampu mengangkutnya.

Atau usahakan membayar apapun ketika kita berkencan, setidaknya sebagian, jangan sampai membiarkan pria membayar semuanya.

Jangan melemah-lemahkan diri kita dengan alasan karena diri kita “perempuan”.

ngelmu ah.. 2:02 pm

Hai teman-teman, memang akhir-akhir ini tulisanku mengarah ke ilmu pasti, hiraukan saja, memang aku tulis untuk diriku sendiri….

Nah, mengapa es mengapung di air, bukankah es dan air adalah sustansi yang sama?

Jawabannya, karena berat jenis es lebih kecil daripada berat jenis air.
Ini dikarenakan perbedaan posisi molekul-molekul di dalam es. Posisi molekul es ini lebih berjarak daripada posisi molekul di air, hingga ada ruang di antara molekul-molekul. Sedangkan posisi molekul di uap air, jaraknya lebih besar lagi/ruangnya lebih besar lagi, hingga berat jenis uap air lebih kecil daripada es dan air.

ngelmu ah.. 2:01 pm

Kenapa terjadi proses kondensasi? atau embun?
Udara di sekitar kita mengandung uap air, hingga ketika udara mendingin, udara tidak dapat menahan lebih lama seluruh uap air hingga ia akan melepas sebagian uap air itu. Maksudnya, jika kita bandingkan, udara panas mampu menahan lebih banyak uap air daripada udara dingin.

Misalnya pada superfisi kaleng minuman coca cola yang dingin sering kita lihat terjadi pengembunan, karena suhu yang dingin, mendinginkan udara di sekitarnya, karena itu udara melepas sebagian uap air di permukaan yang dingin, sehingga terjadi embun.

Kalau embun yang dilepas itu sangat kecil ukurannya, mereka akan tetap tertahan di udara sebagai awan di dataran tinggi atau sebagai kabut di dekat permukaan bumi.

Sumber: OU

Contoh pengalamanku secara langsung. Ketika udara dingin di sekitar mendinginkan kacamataku selagi menunggu kedatangan bis di halte.
Ketika aku masuk bis, di mana udara di dalamnya penat dan tidak sedingin di luar bis, maka kacamataku akan mendiginkan sebagian udara di dalam bis, karenanya terjadi proses kondensasi yang mengakibatkan pengembunan di superfisi kacamataku.
Tepat pada saat itu seorang bapak2 mentertawakan diriku “ha ha ha….saya juga mengalami hal itu” ujarnya….
Sialan…..kau! dalam hati sambil menyimpan kacamata di dalam kantong jaketku.
Hari-hari berikutnya ketika udara dingin atau hujan, aku selalu mencabut kacamataku sebelum masuk ke dalam bis.

ngelmu ah.. 2:00 pm

Kekuatan unta sebagai hewan transportasi di gurun atau lingkungan kering disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Keringat yang dikeluarkan unta lebih kecil jumlahnya daripada keringat yang dikeluarkan manusia.
Unta dapat mengadaptasikan temperatur tubuhnya ketika temperatur lingkungan naik. Sebelum seekor unta mulai berkeringat, dia bisa menaikkan temperatur tubuhnya sebesar 2º. Sedangkan kenaikan temparatur tubuh pada manusia bisa mengakibatkan demam serius.

2. Kehilangan cairan di unta yang disebabkan oleh keringat berasal dari seluruh jaringan tissue tubuhnya dan sedikit yang berasal dari darah.
Sedangkan pada manusia, ketika berkeringat, sebagian besar cairan berasal dari darah, sehingga pada saat darah mengental karena kurangnya cairan, jantung akan menemui kesulitan untuk memompa darah

Perbandingannya adalah sebagai berikut:
Jika manusia kehilangan cairan dari berat tubuhnya sebanyak 4%, volume darahnya berkurang sebanyak 10%.
Sedangkan untuk seekor unta, jika ia tidak meminum air dalam waktu yang cukup panjang, dia bisa kehilangan cairan dari massa tubuhnya sebanyak 20%, namun volume darahnya hanya berkurang 10%.
Jika dibandingkan dengan manusia, seekor unta harus kehilangan 5 kali porsentasi jumlah cairan dari massa tubuhnya sebelum volume darahnya jatuh menjadi 10%.

Dan juga manusia akan dekat dengan kematian jika ia kehilangan 12% cairan dari massa tubuhnya, sedangkan seekor unta bisa bertahan hidup jika ia kehilangan cairan sampai 40% dari massa tubuhnya.

3. Unta secara relatif mengeluarkan sedikit cairan di faeces dan urinenya.
Faeces unta sangat kering dan urinenya pun berkonsentrasi tinggi.

4. Selain itu di pundak Unta tersimpan lemak (bukan persediaan air seperti yang dibayangkan orang-orang), ketika ia membutuhkan lemak ini ketika dia lapar, proses pembebasan lemak menghasilkan cairan selain dari enerji yang dibutuhkan oleh unta.

Sumber: Buku 1 OU (Open University-UK)

masalah sosial 2:00 pm

Memang tidak adil kalau aku yang tidak tinggal di Indonesia menulis tentang kenaikan BBM yang hari senin lalu diberlakukan oleh pemerintah SBY.

Tapi yang jelas aku lihat:

-Wajar kalau harga BBM naik, dikarenakan terbatasnya jumlah minyak bumi dan di pasaran internasional harganya memang sudah semakin mahal

-Indonesia bukan lagi penghasil utama minyak bumi di dunia

-Anggota-anggota DPR yang memanfaatkan kesempatan untuk ribut dengan pemerintah, seakan-akan mereka membela kepentingan rakyat kecil, padahal masih banyak urusan rakyat selain kenaikan BBM ini, namun apa mereka pernah peduli sebelumnya?

-Kebanyakan angkutan umum seperti angkot, tidak dikelola secara langsung oleh pemerintah, maka semisalnya diberlakukan subsidi BBM untuk angkutan umum, maka yang terjadi adalah beberapa pihak akan menuai keuntungan dari subsidi tersebut

-Kalau mahasiswa-mahasiswa turun ke jalan untuk protes, berarti DPR belum berfungsi sebagaimana harusnya

-Benar jika pemerintah tidak harus minta pendapat siapapun jika BBM dinaikkan, kalau memang di pasaran luar harganya naik, orang-orang Indonesia kenapa bisa menikmati BBM dengan murah? keputusan itu berdasarkan pertimbangan makro ekonomi, bukan keputusan asal bunyi (bukannya aku pro-pemerintah, tapi kali ini mereka aku anggap benar)

-Mungkin dengan kenaikan BBM, sirkulasi kendaraan bermotor akan berkurang dan secara langsung akan mengurangi emisi CO2

-Mungkin dengan kenaikan BBM, ada pihak-pihak yang ingin mengembangkan sumber energi lainnya yang bebas polusi/lebih bersih

Yang jelas, permasalahan utama dari negara kita adalah belum meratanya kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa.

Kalo lagi mau ngomong ngawur: bubarkan DPR, MPR dan DPA.
Tidak ada gunanya, hanya buang2 uang negara.
—————————————————————————
Omongan ngawur lagi: kalo DPR sudah bubar, mobil-mobil dan rumah-rumah dinas para “wakil rakyat” itu dijual saja dan uangnya di gunakan untuk memperbaiki sarana transportasi publik dan penghijauan hutan.

pasangan, masalah sosial 1:59 pm

Belum lama ini aku ngobrol-ngobrol sama temenku yang di Amrik, dia nikah sama orang sono. Nah gara-garanya kita lagi ngobrolin kelakuannya orang-orang jakarta (sorry ya…..), yah begitu deh.

Katanya tendesi yang ada sekarang tuh, cewek-cewek muda maunya nyari pasangan bule, bule udeh tue juga ga pa-pe…berabe ken? eh kan?
Pas kemaren-kemaren ini gue di Jkt yang gue liat juga begitu, artis-artis kawin cerai (udah biasa) dan pada kawin sama bule.

Alasan mereka (wanita-wanita muda jakarta dan sekitarnya) kawin sama bule yang pasti duitnya dong….yah…antara kecakepan si bule (kalo emang cakep) dan duitnya deh. Kalau di bawa ke luar negri, lebih bagus lagi,…kan gitu?

Ini kebetulan gue juga hari ini nemuin artikel yang berhubungan di kompas, baca aja kalau mau:
http://www.kompas.com/otomotif/news/0502/19/014844.htm

Tapi, bule-bule juga pada pinter, ada yang ga mau ngawinin si cewek, maunya “make”nya aja (sadis ya bahasaku? sorry…..). Tapi si cewek ya gimana…..soalnya udah dibeliin berlian segala, masa nolak?

Yang jelas kalo mereka yang ngedapetin bule tua, yang seumur bapak atau kakeknya, biasanya sih mereka ga peduli, mo kawin apa ngga, udah terlanjur…

Gue pikir, itu sama ngga sih sama perek? alias wanita penjaja seks?
Tidak ada perbedaan yang jauh, wanita penjaja S itu kan sebenernya melawan kerelaan dirinya yang dipakai. Nah wanita-wanita muda yang pergi sama bule tua juga sebenernya kan karena duit bukan karena emang suka daun tua! hah!

Terkadang, kami-kami yang sudah menikah dengan “bule”, jadi turut prihatin, dan ada aja juga orang-orang yang memandang kami sejenis dengan wanita-wanita muda di atas.

Padahal sebagian besar dari kami, ketemunya aja kebetulan dan ngga sengaja nyari2 bule.

Well terlepas dari semua itu, uang dan materi memang sudah di atas segalanya. Yang penting mereka mau kehidupan yang layak dan tidak susah.

Awas, ada juga yang memang cinta dengan orang yang jauh lebih tua dan menikah bukan karena embel2 bule.

Gue sendiri pernah naksir sama laki-laki tue, penulis favorit gue, Valerio Massimo Manfredi.

Waktu itu ngga sengaja ketemu di pameran buku, orangnya cakep, rambutnya putih, dan mukanya seperti Sean Connery. Langsung gue samperin (sebelumnya mikir2 sambil ga percaya bahwa dia ada di depan mata gue), trus gue beli buku terakhirnya dan minta tanda tangan.

Gua bilang dengan noraknya “Saya fan kamu, saya sedang membaca buku terakhir Alexander” (sanking grogi, salah lagi nyebut judulnya…hu hu).

Ternyata….umurnya sama dengan umur nyokap bokap gue…60 tahunan.
Ya udah….gitu doang, terpesona aja sama lawan jenis yang umurnya lebih tua dari gue (sambil terus mengulang-ulang frase ini: “gua suka dia karena karyanya, gue suka dia karena karyanya”). Doi arkeolog dan jadi dosen di salah satu universitas di Milan, keren ga sih?

Balik lagi ke tema yang lagi kita ngomongin. Kalo moto gue sih, don’t have sex for money, it’s just the same as being a slave!!!
Gua sering bilang, aduh sesusah-susahnya cari kerjaan…mendingan jadi tukang sapu jalanan deh…daripada menjual tubuh….amit-amit!!!!

perempuan 12:21 pm

Sambungan dari bagian I:

Haruskah perempuan memilih antara kepentingannya pribadi dan kepentingan keluarga? Kenapa perempuan mempunyai banyak peran dan tanggung jawab dibandingkan laki-laki?Bisakah kita berkompromi dengan pasangan kita untuk membagi tugas-tugas rumah tangga?
____________________

Jawaban dari pertanyaan pertama, harus saya katakan: YA. Perempuan pada akhirnya harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga.

Keinginan untuk mempunyai anak selalu lebih besar daripada keinginan untuk mengangkat karirnya.

Well, memang kita tidak bisa menyamakan situasi semua wanita. Bahkan banyak wanita-wanita yang mendapatkan segalanya, anak yang banyak dan karir yang gemilang. Tentu semua itu harus didukung oleh suami dan kondisi ekonomi keluarga tersebut dan juga politik perusahaan di mana si wanita itu bekerja.

Lahir tidaknya anak tergantung pada perempuan, dan inilah yang merubah segalanya.

Jika seorang laki-laki dapat hamil dan melahirkan seorang bayi, maka wanita akan mulai memilih, apakah dia harus hamil ataukah suaminya yang hamil?

Suatu pemikiran yang gila. Ya benar.

Adakah rasa sesal di balik kebanggannya sebagai seorang wanita executive yang telah melewatkan kesempatannya untuk mendapatkan anak?

Hidup memang harus memilih.

Seseorang yang kontra feminis akan mengatakan, wanita tidak bisa mendapatkan semuanya, wanita seperti layaknya laki-laki harus berada dalam kondisi yang sama untuk berada di jenjang karir yang sama. Artinya, absensi menjadi seorang ibu, absensi dari cuti hamil 4 bulan, tidak adanya pegawai yang suatu saat harus berada di rumah ketika anaknya sakit, dsb.

Untunglah dalam beberapa bentuk pekerjaan, ada teknologi yang membantu, sehingga seseorang bisa mengerjakan tugasnya dari rumah.

Namun kenyataannya di luar sana, perusahaan bukanlah satu keluarga yang prihatin akan rendahnya natalitas suatu negara. Masih banyak perusahaan-perusahaan (yang sebagian besar direksinya diduduki oleh kaum lelaki) yang berkomentar dengan nada sinis atas hamilnya seorang pegawai wanita di lingkungan kerja.

Mungkin orang-orang yang tinggal di Indonesia tidak akan mengerti masalah kelanggengan dari seorang wanita karir dan hubungannya dengan mempunyai anak, karena masalah itu dapat segera diselesaikan dengan pembantu. Tidak sama halnya dengan wanita-wanita yang tinggal di negara maju khususnya.

Maka seperti yang saya katakan di tulisan saya yang berjudul “Dilema”, wanita dihadapi oleh dilema, di mana di ambang umur tertentu dia harus memutuskan untuk hamil atau tidak.

Walaupun kemajuan teknologi sangat pesat, hamil di umur 40 sama sekali tidak direkomendasikan.

Tinggi rendahnya natalitas di suatu negara sangat tergantung dari fasilitas dan dorongan yang diberikan oleh suatu negara kepada unit-unit keluarga. Tidak cukup dengan memberi kemudahan pajak, namun harus didukung oleh infrastruktur (jumlah penitipan anak dan sekolah yang mencukupi dengan jam buka yang luas, beasiswa, dsb.) yang memudahkan para orang tua dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Dan juga jika keadilan negara sudah berfungsi, maka tidak ada perusahaan yang berani memecat pegawai wanitanya karena dia hamil.

Jika kondisi ini sudah tercapai, maka sebagian besar wanita tidak akan pernah didera oleh dilema. Tentunya sebagian besar akan memutuskan mempunyai anak dalam usia semuda mungkin.

Next Page »
online