masalah sosialMarch 31, 2005 11:13 am

Diskriminasi bukan saja terjadi pada ras-ras atau minoritas tertentu, diskriminasi yang tak terlihat adalah diskriminasi terhadap orang-orang miskin/kelas menengah ke bawah.

Kebutaan seseorang terhadap kemajuan teknologi juga merupakan diskriminasi.

Fisik yang tidak memenuhi standar (dengan kata lain, orang-orang bermuka jelek dan bertubuh gajah), juga didiskriminasi.

Dalam dunia ini menang orang-orang: Kaya, dengan uang - kamu tidak buta teknologi dan informasi dan dengan uang, kamu bisa mempermak muka dan tubuh kamu.

Diskriminasi akhirnya mengarah kepada isolasi pada grup-grup penderita.

Isolasi terhadap kemajuan teknologi, isolasi terhadap pencapaian informasi-informasi penting, isolasi untuk mendapatkan pendidikan yang sepadan, isolasi dalam bermasyarakat karena jelek, miskin dan bau.

Grup-grup penderita akhirnya menciptakan dunianya sendiri, “dunia bawah tanah”.

Untuk orang-orang gendut, kini mereka menciptakan butik-butik untuk orang gendut karena tidak bisa menemukan pakaian yang seukuran dengannya di mal-mal atau pasar.

Orang-orang tua yang dianggap ketinggalan jaman, menjadi sungkan menggunakan komputer, sarana internet dan email bahkan telpon genggam. Orang-orang miskin juga tidak sanggup membeli telpon genggam dan tidak pernah mendengar apa itu Internet dan globalisasi.

Semua itu bagi saya adalah isolasi.

Mungkin hal itu tidak terlalu terlihat jelas di negara-negara maju, dimana pemerintahnya punya politik “sosial” yang pintar.

Indonesia yang dari sejak jaman kuda berpedoman “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, sesudah lebih 50 tahun lebih merdeka dari belanda masih berada paling bawah dibandingkan negara-negara tetangganya.

Ya segitu aja ulasannya, ada dunia bawah tanah di sekitar kita yang kadang tidak kita sadari.

asem manis asinMarch 28, 2005 9:51 am

Keluarga kami menguasai hampir sepertiga dari kekayaan negara “X”, nenek moyang kami adalah keluarga pendatang di negri tersebut, namun kami adalah pekerja keras hingga usaha kami melebar ke berbagai sektor.

Dari mulai warung kelontong yang berubah menjadi supermarket besar dan tersebar di seluruh provinsi, kemudian pabrik rokok kretek, sebuah hotel mewah, dan beberapa cafe di mal-mal mewah.

Kami penguasa negri ini. Anak-anak dan kerabat kami, kami kirim ke sekolah-sekolah bonafid di Eropa dan Amerika Serikat, agar mereka nantinya mampu mengangkat perusahaan dan kekuasaan kami lebih jauh dan lebih tinggi lagi.

Kami menuntut agar pegawai-pegawai kami, setidaknya lulusan S1, yah….untuk pegawai rendahan lah, contohnya coffe girl atau house keeper attendant di hotel kami. Sebetulnya, kami menuntut S2 untuk mereka. Agar kerabat-kerabat dan rekan-rekan kami yang juga kaya dan mampu seperti kami, bisa kami masukkan ke perusahaan-perusahaan kami, agar ras kami menguasai negri ini.

Mal-mal yang kami dirikan, pengunjungnya kebanyakan ras kami juga, karena hanya kamilah yang mampu membeli produk-produk impor dan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Pribumi hanya berkunjung untuk makan dan minum, sambil melihat-lihat produk yang dia pikir mampu untuk dibeli.

Begitulah, bisnis dan kekayaan adalah hal yang terpenting dalam hidup kami. Kami akan mengisolasi pribumi dengan menaikkan standar-standar yang ada, terutama edukasi.

Yang lulusan SD, SMP, SMA dan madrasah akan menjadi ustad, jualan tahu di jalan dan mengamen, paling tinggi cleaning service. Untuk S1, menjadi pegawai biasa. S2 skala nasional, patut dipertimbangkan. S2 internasional, jabatan yang baik. s3 lebih bagus lagi.

Anak-anak kami dari sejak kecil sudah kami kirim ke sekolah berstandar internasional yang kami bangun sendiri khusus untuk orang-orang super kaya di negri ini. Guru-guru didatangkan dari luar, dan anak-anakpun sudah biasa menggunakan bahasa asing dari sejak kecil. Kegiatan ekstra kulikulernya pun tidak sembarangan, semua disesuaikan dengan selera barat.

Dengan uang, segalanya bisa diraih. Kami membeli kekusaan dengan uang, jerih payah kami. Kami potensi dunia. Kami terkenal pekerja keras, kami ada di seluruh penjuru dunia. Kami bekerja tiga - empat kali lipat dari penduduk bumi lainnya, harga-harga kami jauh lebih murah, upah buruh kamipun sangat murah. Saingan kami satu demi satu jatuh, kami pun membeli usaha mereka. Pada akhirnya kami menguasai bisnis apapun. Tangan-tangan kami menggenggam semua sektor. Kehidupan kami berbeda, kami ada di kelas atas, yang menguasai pribumi di bawah kami.

Dunia akan menjadi milik kami.

en español, yang patetic 9:03 am

This post is password protected. To view it please enter your password below:

manusia/renunganMarch 23, 2005 9:41 am

Bagi seorang miskin, dia senang berpikir bahwa dalam penderitaannya ada Tuhan yang selalu mengawasi dirinya, dirinya yang patuh dan selalu menyembah Tuhan. Dirinya yang berharap, setelah akhir hidupnya dia akan masuk surga karena kealimannya, karena penderitaannya selama di dunia. Dirinya yang berpikir, biarlah di dunia ini aku miskin, toh dunia ini hanya sementara. Yang terpenting kehidupan akhir nanti.

Rakyat miskin perlu injeksi siraman rohani untuk dapat bertahan hidup di dunia yang kejam dan tanpa arti.
Rakyat miskin hanya bergantung pada satu Tuhan, Tuhan yang Maha Pemurah dan Penyanyang.

Dunia ini memalingkan dirinya dari rakyat miskin, dunia ini diperuntukkan untuk orang-orang yang punya, dunia ini surga bagi orang-orang kafir. Karena itu hanya Tuhanlah yang ingat kepadamu jika kamu selalu ingat kepadaNya.

Ingat, ingat dan ingat, tujuan kamu di dunia adalah menyembah dan mengabdi kepada Tuhan, kamu selalu dan akan selalu menjadi milikNya dan kembali kepadaNya.

Jika kamu mengharapkan surga, akan kamu dapatkan surga yang mencukupi kebutuhanmu selamanya.

Jika kamu terpeleset ke neraka, kamu akan menderita panasnya hingga setelah menjadi abu, kamu dihidupkan kembali lalu dibakar hingga menjadi abu lagi, begitu seterusnya.

Jika kamu mengharapkan Dia, kekasihmu, kamu akan bertemu denganNya segera setelah ajal menjemputmu.

Jika kamu tidak percaya keberadaanNya, setelah mati, kamu hanya menemukan kematian, kamu menjadi tidak ada.

Jika kamu percaya akan kehidupan yang lain setelah mati, maka rohmu akan pindah mungkin kamu jadi binatang, tanaman atau manusia lainnya.

Kamu apa yang kamu harapkan

Kamu apa yang kamu pikirkan

Kamu apa yang kamu kerjakan

Kamu apa yang kamu makan dan minum

Kamu hanyalah kamu dan keadaan di sekelilingmu

Kamu hanyalah relatifitas

yang pateticMarch 22, 2005 3:32 pm

Temenku yang menikah dengan warga negara Amerika Serikat sampai saat ini belum mempunyai surat-surat yang harus dimiliki untuk izin tinggal/kerja (padahal sudah 2 tahunan di tinggal di sana), sehingga dia yang sudah rindu Indonesia, tidak bisa pulang kampung. Karena sekali keluar dari wilayah AS tidak ada jaminan bisa masuk lagi ke wilayah itu walaupun ia bersuami dengan orang sana. Gila ya? padahal ibunya di Indonesia sana sedang sakit.

Soalnya ada juga teman yang akhirnya harus berpisah dengan istrinya yang orang Amerika. Dia pulang ke Indonesia sebelum kejadian 11 september untuk menengok orang tuanya yang sakit. Namun ketika dia hendak kembali masuk ke Amerika Serikat ternyata dia tidak diperbolehkan alias dipersulit. Sehingga sampai saat ini dia terpisah dari sang istri.

Ya sudah, sabar sajalah temanku….kangen itu obatnya cuma pulang. Kalau kamu tidak bisa pulang, berati tidak ada obatnya. Alias, aku tidak bisa menawarkan solusi untukmu. Maaf.

masalah sosial 10:07 am

Di Amerika Serikat sekarang lagi ribut-ributnya polemik tentang hidup-matinya Terri Schiavo. Pasien wanita yang sejak 15 tahun yang lalu jatuh dalam kondisi koma. Ketika Kejaksaan Wilayah sudah memutuskan untuk menghentikan alat artificial yang mempertahankan Terri untuk hidup, George Bush datang untuk menghalangi keputusan legal itu.

Ada dua pihak yang terkait dalam kasus ini, suami Terri, yang memegang argumen bahwa Terri seharusnya berhenti hidup atas keinginannya dan hak civil nya dipenuhi. Pihak ke dua, orang tua atau keluarga dari pihak Terri yang menginginkan Terri untuk bertahan hidup.

Di balik ke dua pihak itu, tentu ada masyarakat yang mendukung anestesia- hak seseorang untuk mati secara hormat dan masyarakat religus yang anti anestesia (dalam hal ini tepatnya grup Kristen Conservativ).

Saya akui polemik ini memang hal yang sangat sensitif, apalagi jika pemeran utamanya (si pasien yang menderita) tidak meninggalkan berkas-berkas yang mengatakan keinginannya untuk mati sedangkan dalam keadaan koma, dia tidak bisa mengkomunikasikan kemauannya.

Pertanyaan akhir selalu menyangkut moral yang berbeda.

Patutkah sebuah hidup dipertahankan jika yang bersangkutan tidak bisa menjalankan hidup sebagaimana mustinya? jika yang bersangkutan dalam keadaan “vegetatif”? apakah itu bisa disebut “hidup” atau kehidupan? Patutkah seorang yang tidak bisa makan dan minum untuk dirinya sendiri disebut mahluk hidup? (bahkan tanaman dan binatang masih bisa melakukan itu untuk diri mereka sendiri), patutkah seseorang disebut hidup jika otaknya tidak berfungsi ataupun jantungnya dibantu untuk berfungsi?

Siapa yang patut menilai dan memutuskan nasib si pasien? haruskah ia menunggu keputusan Yang di Atas untuk terus “hidup” sampai ia dipanggil?

Belum selesai polemik tentang hidup dan mati di atas, muncul polemik “usual” lainnya yaitu tentang penembakan di sekolah-sekolah di Amerika serikat oleh pelajar. Baru-baru ini di Minnesota seorang pelajar telah menembak 9 orang di sekolahnya kemudian dia membunuh dirinya sendiri.

Dalam hal ini George Bush sebagai anggota National Riffle Asociation tidak terburu-buru untuk memutuskan pelarangan pemilikan senjata api oleh masyarakat Amerika Serikat.

Yang saya herankan, Bush yang sudah menandatangani ratusan dictamen hukuman mati bagi para tawanan penjara, kini berjuang demi kelangsungan hidup seseorang yang tidak ingin terus hidup.

Saya sendiri tidak akan berkomentar tentang kontradiksi ini, hanya tersenyum saja melihat keanehan negara ini yang semakin lama semakin kacau. Apa pendapat anda?

PD: Di Provinsi Andalucia (Spanyol Selatan) pemerintahnya memutuskan untuk membuka pendaftaran bagi masyarakat yang menginginkan haknya untuk dianestesia jika mereka suatu ketika menderita penyakit yang mana tidak bisa menjalankan kehidupan seperti biasanya. Sementara ini sudah ada 1200 orang yang mendaftarkan dirinya.

buku/film/celebMarch 21, 2005 12:59 pm

Sebetulnya ga gampang menulas isi sebuah buku yang baru saja kita baca. Tapi gue akan coba.

Buku ini aku yakin ada versi aslinya dalam bahasa inggris karena penulis selama masa hidupnya tinggal di Amerika Serikat, dia jugalah yang menulis novel tentang “El Padrino” yang kemudian dijadikan film yang terkenal itu.

Untuk para penggemar novel sejarah yang berbau petualangan dan misteri, sangat dianjurkan membaca buku ini, selain akan menambah wawasan tentang sejarah renaissance di Itali, novel ini juga mengisahkan tentang porak porandanya moral pemimpin tertinggi gereja katolik pada waktu itu.

Keluarga Borgia sendiri berasal dari Spanyol, namun seorang dari mereka, Rodrigo Borgia berhasil dipilih menjadi Paus, dengan nama Alejandro VI. Pada masa ini, untuk menjadi cardenal seseorang tidak harus berasal dari latar belakang religus, misalnya seorang bangsawan atau keponakan seorang cardenal, bisa menjadi cardenal atau posisi penting lainnya di gereja.

Sehingga jangan heran kalau Alejandro VI dikisahkan mempunyai anak, selain kekasih dan wanita-wanita lainnya.

Novel ini bercerita tentang kekuasaan seorang Paus yang seringkali melanggar hukum-hukum Tuhan yang disembahnya. Namun Mario Puzo menceritakannya sedemikian rupa sehingga kejahatan-kejahatan pemeran-pemeran utama di novel ini menjadi “lumrah”.

Salah satu yang membuat saya terkejut, ketika Alejandro VI akan menikahkan anak perempuannya, Lucrecia. Sebelumnya dia menginginkan anak perempuannya belajar bagaimana memuaskan calon suaminya. Maka ia menyuruh kakak laki-laki Lucrecia (César) berhubungan intim dengan adiknya, dengan disaksikan oleh dirinya sendiri.

Dan bukan itu saja, pada jaman itu suatu hal yang lumrah, ketika seorang pangeran atau seorang putri menikah, ketika mereka berhubungan intim malam pertama, aktuasi ini harus disaksikan oleh beberapa orang supaya pernikahan ini dianggap telah berhasil.

Novel ini dipenuhi oleh intrik-intrik pengkhianatan, strategi perang, perang kekuasaan antar wilayah, juga kisah-kisah cinta para pemeran utamanya yang diakhiri oleh pembunuhan dan akhir tragis dari keluarga terkuat di Italia waktu itu, keluarga Borgia.

travel/placesMarch 16, 2005 12:05 pm

Sebelum naik gunung Ciremai, aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita bahwa gunung itu adalah salah satu gunung yang angker di seluruh Jawa.

Pada waktu itu bulan oktober, tahunnya aku lupa, mungkin tahun 92. Aku, Ika, Alam, Bejo, almarhum Kokong, Capit dan Ferdy sudah merencanakan naik gunung Ciremai. Aku juga sudah minta izin kepada ibuku dan sudah diperbolehkan.

Namun beberapa hari sebelum pendakian, ada kira-kira sepuluh pendaki yang tewas di gunung Slamet karena cuaca yang buruk. Maka akupun akhirnya dilarang oleh ibuku, “Jangan naik gunung dulu deh nak, cuaca lagi buruk, hujan terus, masa’ kamu mau naik gunung?”.

Karena belum pernah dilarang, maka akupun menurut saja. Akhirnya Ika pun tidak diizinkan oleh orangtuanya, padahal bayangkan saja, kami sudah repot-repot belanja perbekalan untuk pendakian, yang akhirnya kami berikan kepada teman-teman kami yang jadi mendaki. Mau nangis ga sih? makanan yang dibeli enak-enak lagi….

Pada hari H-nya, Ika dan aku memutuskan untuk mengantar teman-teman pria yang akan mendaki, kebetulan mereka seusai sekolah (atau kita bolos waktu itu? lupa…), mereka bersiap-siap di rumah Wendy, tidak jauh dari 70.

Ada Alam, Bejo, Capit, almarhum Kokong Jaya dan Ferdy. Namun…ketika kami berdua melihat mereka asyik mengepak, Ika dan aku saling melihat dan kami pun mengangguk seakan-akan bisa membaca pikiran masing-masing.

Betul….! kami berniat kabur ke Ciremai.

tempat yang salah untuk kabur
tempat yang salah untuk pergi setelah berdusta kepada orang tua….

Buru-burulah kami pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil baju seadanya dan ransel, kemudian kembali lagi ke rumah Wendy di bilangan blok M. Aku tinggalkan catatan untuk ibuku di white board yang biasa kugunakan untuk belajar mengaji. Aku bilang, “mih, aku akhirnya jadi berangkat ke Ciremai sama Ika. Pulang hari minggu, ngga usah khawatir”…

Setelah anggota pendakian lengkap, berangkatlah kami menuju terminal Pulo Gadung (kalo ga salah, lupa) diantar oleh ibunya Alam dengan mobilnya. Di bis, ketika hampir sampai di Cirebon, aku dan Ika memandang gunung itu melalui jendela. Saat itu langit memang sedikit mendung, namun gunung itu tidak bergeming, seperti menantang kedatangan kami. Terus terang hati kami agak bergetar, apalagi pakai berbohong dan kabur dari rumah segala….

Di terminal Cirebon, kami bertemu dengan seorang pendaki yang membawa grupnya, katanya dia sudah biasa mendaki gunung Ciremai, maka bergabunglah kami dengan grup mereka. Kami naik truk bak terbuka menuju Kuningan.

Ketika sampai di Kuningan, kami melapor kepada petugas penjaga hutan dan kelurahan, semua itu terima kasih atas kebaikan pendaki yang kami kenal tadi, sebut saja Asep namanya.

Akhirnya selesai Magrib kami mulai mendaki, tentunya Aseplah yang memimpin kami semua.

Gunung Ciremai ternyata tanjakannya seperti gunung Salak namun dalam skala yang besar. Tanjakannya terjal-terjal dan sulit, kalau tidak salah ada pos yang bernama “Kuburan Kuda”.

Kami sampai di puncak paginya, aku sendiri tidak ingat apakah kami bersistirahat malam harinya (maklum perjalanan ini sudah lewat lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika si penulis masih mudah euy…ha ha). Seingatku kami sempat beristirahat sebentar saja di “kuburan kuda”.

Sampai di puncak, aku sempat tertidur kecapean, karena itulah mukaku (sekitar hidung dan pipi) terbakar. Aku tertidur di samping ambang kawah yang indah. Seperti pendaki-pendaki lainnya, kami menyempatkan diri berfoto-foto.

Sekitar pukul satu siang kami melihat ke langit yang tampak mendung dan akan hujan, maka kamipun memutuskan untuk kembali ke bawah dengan tergesa-gesa, alias berlari-lari.

Di tengah perjalanan, hujan deras pun turun, seperti yang ditakutkan oleh ibuku. Namun kami tidak berhenti berjalan dan berlari menuruni gunung. Grup-grup pendaki lainnya pun menyusul grup kami yang akhirnya tertinggal. Sampai akhirnya kami disongsong oleh kegelapan malam di tengah hutan Ciremai.

Kami sudah lelah dan capai berjalan, namun sepertinya tidak pernah sampai di tujuan. Pepohonan tampak sama saja seperti pepohonan di atas, sepertinya kami terkurung di gunung itu.

Di suatu tempat kami pun berisitirahat, aku sendiri tertidur. Sementara Ika dan lainnya melihat “pendaki-pendaki” yang turun dari atas, padahal rombongan kamilah yang terakhir.

Dalam suatu kesempatan, aku sempat terpisah dari rombongan, aku ingat Capit berada di depanku, di belakangku Ika dan Alam. Ketika itu hujan sudah berhenti dan malam diterangi oleh bulan purnama. Ketika itu aku melewati jalan yang digenangi air hujan, di air itu aku lihat bayangan “tangan” yang melambai-lambai dengan jari-jari yang panjang. Karena sudah capai, aku pikir bayangan yang aku lihat itu adalah dahan pepohonan, namun anehnya gerakannya bukan gerakan dahan yang diterpa angin (dan pada saat itu pun tidak ada angin), melainkan gerakan jari-jari tangan yang bergerak perlahan-lahan- yang membedakan itu dari gerakan terpaan angin.

Aku tertegun melihat bayangan yang masih bergerak-gerak itu dengan senter di tanganku, walaupun sinar bulan pun sudah cukup menerangi jalan. Akhirnya aku mengacuhkan bayangan itu sambil terus berjalan, pikiran waktu itu “telmi” (telat mikir) karena sudah capai.

Setelah sejam-dua jam kemudian, barulah tampaknya kami berhasil melewati hutan yang lebat.

Aku sempat menangis, mata kakiku sakit dan lelah. Aku memelas kepada Bejo untuk ditinggal saja di hutan karena tidak kuat lagi berjalan….patetik ya???

Suatu kejadian aneh terjadi, aku terjatuh, namun ketika hendak bangun, aku tersadar bahwa aku duduk di sebuah batu yang besar, berdiameter 1 meter…bagaimana aku bisa berada di atas batu itu, akupun tidak mengerti.

Namun karena pikiran dan badan sudah lelah…..hal-hal itu tidak merisaukan pikiranku.

Menjelang subuh rombongan kami sampai di desa, kotor, lelah dan agak shock dengan kejadian yang di alami tiap-tiap anggota. Seperti Ika dan almarhum Kokong yang sempat melihat satu rumah di tengah persawahan. Dan Capit pun ternyata melihat bayangan yang sama seperti yang aku lihat.

Ketika aku sampai di rumah membayangkan kembali bayangan yang aku lihat, bulu tanganku bergidik….

Seperti yang aku perkirakan, sesampainya di rumah aku disambut oleh keheningan suara ibuku yang tampak kesal dengan “escapada” ku. Malamnya aku pun minta maaf kepada beliau dan tentu saja beliau memaafkan diriku yang bodoh ini….

all about blog 8:45 am

Guys, yesterday blogsome was parked, we couldn’t login nor saw our page. So you better make a back up of your stories.

asem manis asinMarch 14, 2005 3:52 pm

Pernah ga kamu bangun lebih pagi dari biasanya tapi justru datang terlambat sampai di tempat kerja? mengenaskan ya? mau teriak rasanya.

Bangun pagi-pagi, mandi dan sarapan, namun ketika memakai baju yang kita pikirkan tadi malam dan bercermin….rasanya celana ini ga cocok dengan sepatunya, atau warna atasan tidak selaras dengan cardigan yang kita pakai. Akhirnya lima menit sepuluh menit sibuk gonta ganti baju sampai terasa cocok.

Setelah akhirnya cocok, kamu berlari ke luar rumah tergesa-gesa, sampai akhirnya lupa membawa makanan yang kamu siapkan untuk makan siang di kantor nanti. Padahal kamu sudah capek-capek masak semalaman. Terpaksa harus keluar uang jajan….

Ketika sampai ke jalan besar, ternyata bis yang ingin kamu naiki lima detik sebelumnya telah melewati halte kamu, hanya asapnya yang tertinggal mengebul-ngebul sampai di haltemu. Setelah menunggu bis yang selanjutnya datang, ternyata penuh….kamu yang sudah panik dan kesal, harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

Sampai di kantor, kamu merasa panas dan keringetan, juga datang terlambat. Ternyata boss dari Paris sudah menunggu di depan pintu kantor, menunggu sampai pintu kantor dibuka olehmu…Sambil tersenyum kamu berjabat tangan tapi sialnya telapak tanganmu penuh dengan keringat ha ha ha….

Well that’s a perfect day.

Next Page »
online